Friday, May 30, 2014

Rasa Yang Tertinggal -cerpen idola cilik BADAI-

“Aku mengamatinya dari jauh, mengamati wajah indah yang dulu pernah singgah dihidupku. Yang pernah mengisi kosongnya hatiku. Yang melengkapi setiap kekuranganku. Yang mengertiku dan selalu begitu. Namun kini dia bagaikan hiasan dihidupku. Aku yang berjalan, dia yang diam. Aku yang diam, dia yang berjalan. Aku tak pernah bisa mengungkapkan rasa ini. Apa yang aku pikirkan semuanya sulit untuk dilakukan kembali. Dia bukan lagi milikku. Dia telah ada yang memiliki. Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan agar kebahagiaan itu akan berpihak padanya. Pada orang yang terlanjur membuat hatiku mencair dan tak bisa membeku lagi”
“Bukan, bukan aku tak cinta lagi padanya. Sebetulnya, rasaku ini masih sama seperti dulu, bahkan mungkin lebih dalam. Hanya saja, waktu yang terlalu kejam padaku. Ia memaksaku untuk tetap tinggal pada hati lain. Tapi sejujurnya bukan hati yang lain ini yang menjadi perasaanku. Aku benar2 terpaksa harus meninggalkannya. Harus merelakan perasaan yang kian menggebu dan ingin segera dituangkan lewat kebersamaan kecil seperti dulu lagi. Tapi, seharusnya aku tak pantas berpikir seperti ini. Karena memang aku bukan lagi miliknya. Mungkin kini dia telah bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Dan mungkin juga, pengganti yang lebih baik dariku, telah ia temukan untuk mendampingi hidupnya”
***
==2014==
Chelsea melipat kertas kecil yang baru saja ia tulis. Ia menengok kebelakang bangkunya. Temannya itu masih sibuk dengan buku harian yang sengaja ia tutupi agar Chelsea tak mengetahuinya.
“Masih lama nggak sih?” Tanya Chelsea gusar
“Aduh bentar, ini tinggal dikit kok. Kalau mau duluan ya duluan aja sana” kata temannya
“Minat banget ya jadi sastrawan?” Tanya Chelsea lagi sambil mengeluarkan kotak bekal dari dalam ransel jingganya. Temannya yang berkulit coklat itu hanya tersenyum menanggapinya.
“Ya elah, ya sama aja kali’. Secara gue kan ganteng, jadi tuh junior yang baru lihat pada pingsan deh” sayup-sayup Chelsea dan temannya itu mendengar suara serak dari luar kelas mereka
“Bagas ya?” Tanya teman Chelsea
“Iya. Siapa lagi? cowok lo yang sok keren itu?” kata Chelsea sambil melengos
“Biar gitu dia cowok gue kan. Gue nggak akan pernah lepasin dia. Karna… dia bukan tahanan. Hehe” Gadis berambut panjang dengan kuncir yang mengikat rambut hitamnya itu berlari duluan meninggalkan Chelsea yang asyik melahap kuenya
“Eh, Ndai Ndai, tungguin gue”
***
==2016==
“Aku masih berusaha mungkin agar tanganku tak menariknya kedalam pelukanku. Dia, kini telah hidup bahagia dengan kekasihnya yang baru. Kekasihnya yang dulu kukenal sebagi orang yang sangat dekat denganku. Orang yang kemana-mana selalu bersamaku. Namun kini, dibalik itu semua. Ternyata wanita itu mempunyai niat yang busuk padaku. Dia merebut orang yang begitu kucintai. Yang selama itu selalu ada diantara kami sebagai pelindung. Namun kini, bukan kita lagi”
“Cindai” panggil seseorang dari belakang gadis manis berambut panjang dengan pita putih terpajang diatas rambutnya
“Salma” balas gadis bernama Cindai itu sambil menyunggungkan seulas senyum manisnya
“Aku kirain kamu udah pulang. Ternyata masih disini” kata temannya yang memiliki suara serak itu
“Nggak mungkinlah aku pulang, aku pasti nungguin sahabatku yang jelek ini” Cindai berdiri dan menyamakan langkahnya dengan langkah Salma
“Haha.. kamu ini bisa aja” Cindai dan Salma berjalan menuju parkiran yang ada didepan sekolah. Tentunya melewati ruangan musik yang berada tak jauh dari halaman depan. Langkah Cindai dan Salma begitu saja berhenti begitu melihat seorang pria tampan dengan sebuah gitar ditangannya. Ia menutup pintu ruangan musik.
“Bagas” panggil Salma. Pria itu menoleh. Dan.. ketika mata berparas tajam itu bertemu dengan sepasang mata kejora Cindai, semuanya seakan terputar kembali kemasa lalu mereka. Masa dimana semua masih baik-baik saja. Masa dimana kebersamaan itu selalu mereka jalani bersama.
Cindai terdiam lama dalam posisinya. Begitu juga Bagas. Tak peduli suara Salma yang sedari tadi berusaha membangunkan salah satu diantaranya dengan kibasan tangan. Perasaan itu sungguhlah masih ada. Tak pernah hilang. Bahkan semakin bertambah. Bergejolak pula rindu diantara mereka. Namun sama-sama tertutupi. Tak mau ada yang mengakui. Karena bagi mereka, mengakui sama saja dengan membuat semuanya semakin runyam
“Gas..”
“Eh,, em.. i.. iya kenapa Sal?” Tanya Bagas begitu tersadar dari lamunannya. Ia memalingkan matanya dari Cindai. Beralih menatap wajah Salma. Namun sesekali Ia mencuri pandang pada Cindai yang hanya memasang wajah datar. Tak menggambarkan apapun
***
-2024-
Keduanya sama-sama terdiam. Mengikuti irama aliran sungai yang tenang. Tak mengatakan apapun. Jarak yang tak begitu jauh yang mungkin membuat keduanya tak mau memecahkan keheningan terlebih dulu.
“Ndai” panggilnya. Cindai menoleh sebentar. Gadis berkacamata berbingkai hitam dengan jaket putih yang menghiasi tubuh tinggi jenjangnya yang kini tengah merintis karir sebagai seorang novelis muda.
“Hmm” respon Cindai
“Gue Cuma mau ngasih ini” Bagas mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya dan memberikannya pada Cindai. Cindai menerimanya. Dengan perasaan yang agaknya bergetar, Cindai membaca kertas berwarna biru itu
“Selamat menempuh hidup baru ya Gas” kata Cindai sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang ia gunakan untuk menutupi perihnya hatinya yang sedang berteriak. Begitu juga dengan Bagas. Bagas diam. Tak rela jika benda itu sampai ditangan orang selalu memiliki hatinya. Orang yang tak pernah ia lupakan sampai kapanpun.
“Makasih Ndai” jawab Bagas sambil tersenyum getir.
***
2026

“12 tahun yang lalu, mungkin bukan waktu yang sebentar ketika aku harus mengenalnya dan menjalin hubungan dengannya. Aku menikmati itu semua. Aku seolah tak ingin kehilangannya. Aku dan dia selalu bersama dan tak akan pernah terpisah. Tapi, takdir Tuhan mengatakan hal lain. Aku dengannya tidak ditakdirkan untuk bersatu. Sosok yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatku. Orang yang paling mengerti keadaanku. Kini telah bahagia bersamanya. Dengan seorang buah hati yang melengkapi rumah tangga mereka. Aku hanya bisa tersenyum. Meski pedih. Dan mungkin jalan Tuhan juga begitu. Kini, aku ada didalam mobil pribadiku. Dua polisi mengawalku dari belakang dengan sepeda motornya.
Ini aku yang sekarang. Cindai Gloria. Nama yang sukses menggebrak dunia perfilman dan sastra. Aku kini menjadi seorang penulis dan pemain film. Ya, mungkin tak banyak hal yang kupikirkan tentangnya selama aku sibuk dengan karirku. Namun, hari ini juga. Jam ini juga. Aku akan mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan. Dihadapan semua orang yang menjadi saksi. Janji yang kuikrarkan bukanlah yang sebenarnya. Hanya suatu kalimat yang merka anggap begitu suci. Yang menjadi pelarian dari Rasa Yang Tertinggal pada seseorang yang namanya takkan pernah kulupakan dihidupku. Bagas”

Friday, May 9, 2014

Miracle -Cerpen Idola Cilik Shiel-

Shilla memandang lurus ke luar jendela kamarnya. Menyaksikan hujan yang kian derasnya berjatuhan ke bumi. Sama dengan hatinya yang saat ini sedang deras menangisi seseorang yang telah kian lama menemaninya. Mengisi ruang hatinya yang kosong, menghiburnya saat ia sedih. Dia, orang yang disayanginya –Oh, lebih dari sekedar sayang mungkin- kini sedang terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit. Dengan detak jantungnya yang semakin memelan, tubuh yang dulu kekar tegap kini seolah menjadi tubuh yang paling lemah. Tubuh yang ingin saja Shilla dekap untuk selamanya. Benar, selamanya.
Sebuah boneka panda berwarna hitam putih didekapnya. Wajahnya yang sudah basah dengan air mata kesedihan ia tumpahkan di boneka lucu itu. Namun selucu apapun wajah boneka itu, tetap hatinya terlalu lemah untuk membandingkan kelucuan boneka panda itu dengan sahabat lawasnya yang kini dalam perjuangannya melawan sakitnya.
“Tuhan.. seandainya ada waktu yang boleh aku tukar dengan nyawa. Maka aku akan menukar waktu itu dengan nyawaku. Dan waktu yang kutukar itu kuberikan hanya untuk dirinya”
###
“Kamu nggak masuk sekolah Shill..?” Tanya tante Winda. Mama Iel. Shilla yang sedang diam mengelus telapak tangan Iel yang sudah beberapa hari ini tak pernah menunjukkan gerakan kecil.
“Shilla nggak bisa ninggalin Iel tante” jawab Shilla sedih. Tante Winda hanya bisa menghela nafas lirih. Ia mengelus rambut Shilla.
“Iel akan sedih kalau kamu kayak gini Shill..” suara berat itu membuat mata Shilla dan mata tante Winda beralih pada sosok tinggi jakung berkulit sawo matang yang berdiri diambang pintu.
“Rio..” ucap keduanya pelan. Laki-laki bernama Rio itu mendekat. Menyentuh rambut Iel yang sedang terbaring lemah.
“Aku kembali, aku nggak mungkin biarin adekku berjuang sendirian. Aku pengen transfer sedikit energi positif buat kamu. Bangun Yel, kami semua masih ingin melihat senyummu” kata Rio lembut. Ia mengusap wajah pucat adiknya yang tertutupi masker oksigen
Hening.
Mata Shilla yang sayu seolah ikut mengatakan begitu. Ia menyetujui kalimat terakhir Rio. Kakak kandung Rio. Tante Winda pun begitu. Hanya air mata yang dapat ia persembahkan di depan kedua anak mereka. Terkhususnya Iel. Anak bungsunya yang kini tengah berjuang mempertahankan detak jantungnya.
Perlahan, jemari itu bergerak. Mata indah itu juga ikut tebuka. Semua mata memandangnya antusias. Seolah harapan yang telah lama mereka dambakan akan terwujud.
Perlahan, perlahan dan.. mata itu benar-benar terbuka. Senyum lega mereka pancarkan ketika mendapati mata itu benar-benar terbuka. Beberapa kali Shilla yang Nampak begitu sumringah memencet tombol kecil disamping ranjang Iel.
Dokter dan rombongannya pun masuk ke ruangan Iel. Terpaksa Shilla, Rio, dan tante Winda meninggalkan ruang rawat Iel.
“Tuhan, aku sangat berterima kasih padamu karena kau mampu membukakan mata beningnya lagi. Tuhan, jika ini memang kehendakmu. Mohon beri waktu sebentar saja. Waktu untuk aku merangkulnya. Untuk aku menciumnya. Untuk aku berbagi sedikit kesedihanku selama ia tidur. Tuhan, berikan ia sedikit lagi keajaiban. Hanya keajaiban. Just a MIRACLE”
Pintu bercat biru itu terbuka. Shilla, Rio, dan tante Winda mendekat.
“bagaimana dok?” Tanya tante Winda
“Maaf..”
###
”Miracle ? Masih adakah kata itu ? Aku tidak akan percaya lagi dengan kata itu. itu hanya kata kiasan. Aku terlalu percaya dengan kata miracle itu. aku terlalu berharap.
Namun apa hasilnya ? Dia pergi. Tak ada miracle sedikit pun untuknya. Padahal aku sudah memohon dengan sangat pada Tuhan agar memberikan sedikit miracle padanya. Tapi apa ? tidak. Dia kini telah pergi. Air mataku membawanya menuju tempat terakhirnya. Tanpa miracle lagi. Aku tak akan pernah percaya miracle lagi. Aku benci miracle”
“Semoga kamu bahagia disana” ucapku lirih.
Seorang dengan wajah indah tersenyum kearahku. Aku tak bisa melihatnya. Karena memang aku sudah tak percaya akan miracle lagi. Tapi.. aku merasakannya. Aku merasakan ia ada didekatku. Entah mengapa..
Samar, kudengar bisikan menyapa telingaku. Ku tajamkan telingaku. Kuresapi kalimat itu. suara yang lama kurindukan kini benar-benar kudengar. Badanku menghangat, aku hanya mampu diam. Ku pandangi pusarannya yang bertabur kembang. Pusaran dengan tanah yang masih basah. Aku merindukannya !!!
“Percayalah, Miracle itu ada”

TAMAT

Indonesiaku -Cerpen-

Yogyakarta, 7 Juli 2012

Debur ombak pantai di bagian selatan pulau Jawa mulai menunjukkan percikan hangat diantara dua insan yang duduk bersamaan dalam diam.
Senja pasti akan tiba. Ya, mereka menunggu senja.
Seragam putih abu-abu yang sudah kotor akibat bermain pasir dan air tadi masih mereka kenakan. Membiarkan kelelahan hari ini hanyut bersama keindahan jingga disini.

“Kowe kate kuliah nang endi ? (Kamu akan kuliah dimana?)” Tanya Agni
“Isih ngenteni pengumuman beasiswa kuwi. Nek ora oleh beasiswa yo angon sapi wae nang sawah (Masih menunggu pengumaman beasiswa itu. Kalau tidak dapat beasiswa ya menggembala sapi saja di sawah” jawab Cakka agak dibuat bercanda
“Serius Cakk..”
“Iyo Ag (Iya Ag)”
“Hmm.. kalau sudah dapat beasiswa jauh, jangan lupakan aku. Jangan lupakan kampung halaman sendiri” pesan Agni
“Aku ra bakal lali. Kowe iku koncoku, sahabatku. Jogja iki kutoku. Aku ra bakal ngelaliake iki kabeh. Kuto iki sing nggowo aku sampek koyo ngene (Aku nggak akan lupa. Kamu itu temanku, sahabatku. Jogja ini kotaku. Aku nggak akan melupakan ini semua. Kota ini yang membawaku sampai seperti ini)” Agni tersenyum tipis mendengar ucapan Cakka. Apa yang dikatakannya seakan sumpah yang terpaut dengan tanah Jawa tempat kelahirannya, tempatnya dibesarkan, tempatnya menimba ilmu, tempatnya merangkai masa depan sejak kecil, tempatnya mengenal sejuta karya Tuhan yang luar biasa, tiada duanya.
“Tak cekel iku opo jaremu (Aku pegang apa itu katamu)”

###

Padang, 17 Agustus 2012

“Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa”

“Deburan ombak pantai selatan kurindukan, meski semua tau. Keindahan pulau Sumatera ini tiada tandingannya. Namun tetaplah aku merindukan tanah lahirku. Dimana dulu tempatku berjuang hingga aku ada disini. Dimana dulu kuingat semilir angin lewat di cuaca panas Malioboro tak menyita semangatku untuk mencari sehelai kain yang berani nan suci. Sang pusaka merah putih. Dimana dulu saat aku duduk dibangku SMP, Merapi ku takhlukkan. Saat-saat waktu terakhir SMA. Ombak Parang Tritis kujamah dengan kepulan semangat yang membara. Semangat yang menggebu-gebu ingin segera kutuntaskan perjuanganku di tanah tercintaku ini. Tanah jawa.
Sebulan sudah kutinggalkan tanah itu, rindu benar-benar terasa manakala aku teringat akan sebuah ciri khas sore kampungku. Suara lembut perempuan-perempuan berkebaya dengan sanggul dibelakang kepalanya. Mereka lantunkan tembang jawa dengan nada-nada yang menenangkan hati”

“Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung dihari tua
Sampai akhir menutup mata”

“Hmm.. benar, aku benar-benar merindukannya.
Namun tanah Sumatera jugalah bagian dari perjuanganku.
Ia yang akan menuntunku melanjutkan sisa-sisa perjuanganku sebagai pewaris bangsa.
Pedulikah aku jika tanah indah ini bukan tanah kelahiranku. Aku tak peduli.
Biar kupijakkan kakiku disini. Berbekal tekat dan semangat yang kusiapkan matang.
Berbekal mimpi dan harapan yang akan kubawa pulang setelah tamat sekolahku disini.
Disana.. di Tanah Jawa aku dilahirkan, aku dibesarkan, aku mencari masa depan.
Dan disini.. di Tanah Sumatera yang jauh berbeda dari Tanah Jawa, aku berjuang. Mencari sisa-sisa mimpiku yang belum terwujud.
Pahamkah kalian ? Biar kata kedua pulau yang pernah kupijaki tak sama.
Mereka tetaplah satu. Satu dalam satu bendera. Satu dalam satu darah. Satu dalam satu pengorbanan. Dialah Indonesiaku.
Negeri subur nan indah tiada bandingannya.
Dialah Indonesiaku. Yang tak akan kulupakan. Meski waktu takkan pernah berputar”


TAMAT

Bukanlah Aku Harapanmu -Cerpen Idola Cilik Ocha & Raycha-

Panas mentari siang ini yang membakar kulitku, ikut pula membakar serpihan kenangan tentang aku, kamu, dan dirinya dulu. Saat mana kita dulu bermain bersama diatas deburan ombak pantai senja. Saat kita beramai-ramai rayakan kelulusan SMP pada hembusan angin salju di Osaka. Saat keringat setelah perjuangan Mos terakhir menjadi saksi bisu dimana cerita ini dimulai.
Aku menarik nafas sejenak. Mengamati wajahmu yang semakin hari tampak semakin lelah. Tulang-tulang diwajahmu seolah menonjol, ikut mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Hembusan nafas pelanmu menjadi kunci khawatirku. Tapi aku menutupinya. Entahlah.. harus bagaimana lagi aku mengatakannya. Sementara batinku telah tersiksa oleh sejuta bingkisan pahit dari Tuhan yang tak henti hentinya memukul hatiku.
Aku sudah lelah menangisinya. Aku sudah lelah menyebut namanya. Aku sudah lelah membiarkanmu mencari jati diriku yang lama menghilang dari hadapanmu. Aku sudah lelah.
“kau merokok?” tanyaku memecah keheningan. Kamu hanya diam. “Katakan padaku apa yang telah kau perbuat Ray?” paksaku tajam. Namun kau hanya membalasnya dengan gelengan kecil. Arghh.. benar-benar menggeramkan.
“Aku tak pernah merokok Cha, dan.. aku tak pernah membunuhnya” ucapnya pelan. Aku memalingkan wajahku darinya. Membiarkan angin malam kota Bandung menusuk persendian tubuhku. Dan tubuh kurusnya.
“Sudahlah, kau tak usah bersandiwara lagi padaku Ray. Selama aku pergi ke Darwin, kau kan yang membunuhnya ? Kau yang mengajaknya balapan liar di tempat laknat itu. Kau pembunuh Ray. Kau pembunuh..” ucapku masih berusaha menahan emosi
“Aku tak pernah mengajaknya balapan Cha, kau salah paham, Ozy pergi karena dia sakit. Aku.. tak pernah membunuhnya”
“bullshit kamu itu. Omonganmu itu basi. Nggak bisa dipercaya” aku berdiri. Amarahku benar-benar meluap. Entahlah, apa yang kulakukan saat ini.
“tapi Cha, aku nggak per..”
Plakkk
Telak. Tamparan itu mendarat mulus dipipinya. Ray memegang pipinya pelan. Tak terlalu keras memang bagi pria bela diri sepertinya. Tapi entah mengapa tanganku seakan menjadi batu besar yang mengenai wajah Ray. Aku merasakannya juga. Aku yang menyesalinya.
“Aku nggak akan pernah percaya sama kata-kata busukmu itu”
***
Waktu berjalan sesuai rencana Tuhan. Tapi tidak dengan rencana Acha. Gadis cantik yang merencanakan kebahagiaan serta mimpi bersama kedua sahabat karibnya itu lenyap begitu saja.
Empat hari sudah Acha tidak melihat wajah Ray di sekolah. Teman-teman kelas Ray berkata, Ray absen selama empat hari ini. Acha hanya menghela nafas. Batinnya seolah berkata ada yang janggal dengan keadaan ini. Hatinya merutuki apa yang telah ia lakukan lima hari yang lalu. Tapi, Acha masih ingin meredam amarahnya dengan tidak bertemu Ray. Tapi mengapa, rasa rindu yang menyeruak ingin menuntunnya untuk menemui Ray.
Acha berjalan disekitar depan rumah Ray. Rumah itu sepi. Seperti tak berpenghuni. Sudah beberapa menit ia disana. Namun tak kunjung ada tanda-tanda jika ada orang disana.
Baru saja hendak Acha meninggalkan rumah itu. pagar yang menutupi rumah itu perlahan terbuka. Acha segera berlari mencari tempat yang aman. Bersembunyi dibalik pohon mahoni yang berjajar disekitarnya.
Sosok yang tak asing lagi dimata Acha itu keluar dari rumah Ray. Acha diam. Jantungnya berdegup cepat. kaki dan tangannya bergetar. Apa maksudnya ini ?
“Z.. Zy..” panggil Acha agak keras. Dengan wajah tidak yakin juga. Tubuh itu berbalik. Mendapati Acha berdiri tegak yang sudah muncul dari tempat persembunyiannya. Mata indah nan lugu itu menatapAcha kaget.
***
“Nggak pernah Cha. Aku nggak pernah mati. Aku yang buat permainan ini Cha” kata Ozy pelan. Suasana sepi senja di danau membuat suara Ozy terdengar jelas di telinga Acha
“kenapa Zy ? kenapa ?” Tanya Acha. Matanya sudah berkaca-kaca. Sebisa mungkin ia tahan riak air matanya yang ingin segera luruh.
“Ray yang menginginkannya. Ray yang ingin bersamamu disaat terakhirnya”
“maksud kamu?”
“Semua yang Ray katakan itu yang berbalik Cha. Aku nggak sakit, dia yang sakit” jeda Ray. Ekspresi Acha berubah “sakit parah Cha, Leukimia” lanjut Ozy lirih. Kali ini air mata Acha benar-benar luruh.
“Dimana Ray ? Dimana?” teriak Acha
“Dia..”
***
Untukmu, Acha Raissa sahabatku
Entahlah, apa yang harus kukatakan pada surat ini.
yang jelas tak banyak. Karena aku bukalah seorang sastrawan layaknya penyair kesukaanmu.
aku bingung, aku sedih, aku ragu, aku takut.
Acha..
apa kau sudah tau ? bahwa Ozy belum pergi
haha, aku sudah pandai mengarang rupanya
Cha, apa kini sudah kau tau ? aku bukalah pembunuh.
aku tak juga membuat Ozy meninggal
tapi aku yang akan meninggal.
Cha, aku harapkan kamu tak pernah menyesal akan ini semua.
aku melakukannya hanya untuk sekejab. Tak selamanya.
waktuku sedikit. Dan secepat itu pula kau membenciku.
Baiklah, aku pantas untuk dibenci.
Anggaplah aku pembunuh, anggap kata-kataku busuk.
Asal kau bahagia, akan kehadiran orang yang kau sayangi. Ozy.
Jaga baik-baik persahabatan kita.


                                                                         Ray Prasetya

 #Ray

 Acha

Ozy

Aku Yang Sebenarnya -Cerpen Idola Cilik Yoshill-


 Aku membuka jendela kamarku. Suara gerimis senin pagi ikut menyertai kegundahanku saat ini. Entahlah, mengapa begitu sulit ku melupakannya. Melupakan semua kenangan pahit dan manis saat bersamanya dulu.
Sayangnya itu dulu, bukan sekarang. Saat aku telah mengerti, dia tidaklah mencintaiku dengan segenap hatinya. Melainkan hanya menjadikanku pelarian semata.
Sementara aku ? Aku begitu mencintainya. Aku begitu menyayanginya. Aku mungkin egois mengharapkannya bersamaku lagi. Padahal hatinya sama sekali tak mengharapkanku. Huh..
Aku tak seharusnya memikirkannya lagi. Masih ada banyak orang yang menyayangiku. Bukan hanya dia.
"Shilla.." panggil suara berat itu. Aku menoleh. Seorang pria remaja duduk di kursi roda. Senyumnya tulus. Seolah menghapus perlahan bait kesedihanku. Dia.. kak Rio, Sahabatku. Ia divonis kanker tulang sejak duduk di bangku kelas 3 SMP. Namun semangatnya itu yang membuatku termotivasi dan bangkit lagi dari kesedihanku.
Ia juga yang selalu menghapus air mataku. Dan ia adalah malaikatku. Malaikat teristimewa yang pernah aku punya sepanjang hidupku. Aku dan dia bertemu di panti asuhan saat tante Winda -tanteku- membawaku ke panti asuhan beberapa hari setelah ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan.
Dulu aku membencinya. Saat itu aku duduk dibangku kelas 2 SMP. Ia kelas 2 SMP. Saat ia masih normal. Kakinya belum lumpuh. Ia yang setiap hari menghampiriku. Mengajakku bermain. Walau hasilnya selalu ku tampik kasar dengan makian. Hingga suatu hari, tak pernah ada dia lagi yang menghampiriku di taman. Aku berpikir mungkin dia telah di adopsi. Akhirnya aku memberanikan diri mencarinya. Aku bertanya pada bu Ira -pengasuh panti-. Dan ia mengatakan, Rio tak lagi bisa menemuiku di taman bukan karena dia diadopsi. Namun ia tak mampu lagi berjalan. Dan mulai saat itulah aku mulai bisa menerima kehadiran Rio. Hingga suatu hari seorang wanita masih muda dengan suaminya mengadopsiku. Aku berkata aku tidak mau mereka adopsi. Sebab aku akan kehilangan malaikatku. Rio lah namanya. Akhirnya mereka juga mengadopsi kak Rio.
"Kak.." aku tersenyum dan menghampiri kak Rio.
"Kok belum ganti ?" Tanya kak Rio
"Em.. males sekolah kak" jawabku sambil duduk di kasurku.
"Loh ? kenapa ?" Tanya kak Rio. Aku hanya diam. Dia mengusap rambut panjangku yang tergerai rapi.
"Shilla jangan gitu dong. Kesedihan itu nggak boleh disimpan. Yang menurut Shilla itu menyakitkan, ya sudah, jangan di ingat lagi.. Semangat dong" Kak Rio menyemangatiku yang seolah kehilangan asa untuk bersekolah. Aku diam. Menatap lekat wajah itu. Matanya seolah menyimpan luka. Namun tertutupi dengan senyum tulusnya itu. Tuhan.. aku seharusnya banyak berterima kasih padamu, Kau ambil kedua orang tuaku. Kau renggut kebahagiaanku. Namun kau pertahankan dia sebegai gantinya. Terima kasih Tuhan.. Dan ku mohon, pertahankan dia sampai aku benar-benar ingin keabadian itu mengantarkan kami disaat yang sama.
"Ya udah deh kak, aku ganti dulu" Aku berdiri. Kak Rio memutar kursi rodanya.
"Kakak tunggu di meja makan ya.." Aku mengangguk.
***
  "Kak.. nggak ada lagu yang lebih bagus ya selain ini ?" Tanyaku geregetan. Kak Rio hanya tertawa.
"Kalau kamu mau pindah lagunya gapapa kok" Ucap kak Rio sambil menghapus papan tulis putih di dekat meja belajarku. Ia baru saja selesai menjadi guru privatku. Aku menatap kak Rio yang membelakangiku. Aku berdiri dan menghampiri DVD di dekat meja belajarku. Kak Rio melirikku sekilas. Bukannya aku mengganti kasetnya, justru aku semakin membesarkan volumenya.
"Shilla.. jangan di gedein" Kata kak Rio. Aku semakin kesal saja. Entah mengapa hari ini emosiku meluap-luap.
"Biarin.." aku keluar dari kamar dan berlari keluar. Menembus hujan lebat yang mengguyur Jakarta.
Kak Rio menghela nafas. Mengecilkan volume DVD itu. Dan ikut keluar menembus hujan dengan kursi rodanya. Aku masih saja tak peduli. Aku berdiri di dekat pagar. Baru saja aku hendak membuka pagar.
Brukkk
Suara itu membuat wajahku sontak menghadap kearahnya. Alangkah terkejutnya aku.
Raga kurus itu terpental jatuh dari kursi rodanya. Menyentuh aspal pekarangan rumah. Bersahutan dengan suara petir yang menggelegar. Aku berlari ke arahnya. Memangku kepala sang raga yang berulumuran darah itu. Menangis sekencang-kencangnya.
***
  Tangan itu bergerak-gerak kecil. Melantunkan erangan dari mulutnya. Aku yang masih berpakaian sama seperti tadi tertidur disampingnya. Terlalu lelah menangis. Aku tak menyadari tangan kurus itu mengelus rambutku.
"Em,.." Aku terbangun dari tidur. Rambutku kusut. Sama dengan penampilanku saat ini.
"Kak.. Rio" ucapku terbata-bata. Air mataku secara perlahan turun lagi dari mataku. Kak Rio tersenyum.
"Ma.. Maafin Shilla kak.."
"Shilla jangan nangis.." ujar kak Rio pelan "kakak nggak papa"
Aku kembali teringat perkataan dokter itu lagi
 flashback
"Bagaimana dengan kakak saya dok?" Tanyaku di ruangan dokter Duta. Sang dokter hanya bisa menghela nafas sebelum akhirnya membuka mulut.
"Jaringan di otak kecilnya mengalami penghambatan. Dan.. tidak mungkin bisa disembuhkan" Tubuhku terpaku. Tanpa komando, air mataku secara pasti turun perlahan hingga membanjiri wajahku.
“enggak.. nggak mungkin..” cercaku. Dokter Duta hanya menggeleng. Aku semakin shok. Aku keluar dari ruangan dokter Duta dengan langkah gontai. Menangis disepanjang koridor. Walau aku tau, itu tak akan membuat keadaan membaik
Flashback end
“jangan tinggalin Shilla, kak..” lirihku. Kak Rio menatapku sembari tersenyum. Tuhan.. kau ciptakan aku sebagai manusia biasa bukan ? aku punya kekurangan dan kelebihan bukan ? tapi mengapa, untuk menjaganya pun aku tak bisa ? bukankah dia telah berani mengorbankan hidupnya demi aku ?
Maafkan aku Tuhan..
“Shilla jangan.. nangis, kakak.. nggak papa” suara kak Rio tersedat-sedat. Aku menatapnya bersalah. Sangat bersalah.
“Maaf..” air mataku semakin deras. Aku memeluk kak Rio. Tak peduli alat-alat medis yang menempel ditubuhnya. Aku tak mau kehilangannya
“Maafin.. ka..kak Juga.. ngga.. bi..sa jaga.. shil..lla” nafasnya tak beraturan. Seolah semakin melemah. Keringat dingin memenuhi keningnya. Aku melepas pelukanku. Manatap tombol kecil disebelah ranjang kak Rio. Ku raih itu. Kupencet beberapa kali.
Aku menatap tubuh kurus yang semakin melemah itu masih dengan air mata yang tak mau berhenti tuk turun. Perlahan, aku mendekat ke keningnya. Mengusap lembut keningnya yang dipenuhi keringat. Ku cium keningnya cukup lama. Sampai dokter Duta dan beberapa suster masuk. Aku seolah masih enggan melepasnya.
akhirnya aku pun melepaskannya.
hampir 15 menit aku duduk diluar dengan perasaan yang campur aduk. Antara sedih, gundah, menyesal. Arrggh.. mengapa aku begitu bodoh..!!!
“bagaimana dok?” Tanyaku cemas campur harap ketika kudapati dokter duta keluar dari ruangan kak Rio. Dokter Duta memberiku isyarat untuk masuk. Aku pun masuk. Dengan perasaan tak menentu tentunya.
Tunggu.. dimana alat-alat medis itu ? mengapa.. mengapa ia dibiarkan tak memakai alat medis ? sementara nafasnya sudah semakin melamban. Aku menghampirinya. Mengelus punggung tangannya.
“Kenapa nggak dipasang dok?” tanyaku pelan. Dokter Duta hanya menggeleng. Air mataku yang sedari tadi terbendung di pelupuk mataku akhirnya luruh juga.
“Shi..Shi..lla..” mulutnya terus saja bergerak-gerak. Meski suaranya lirih.
“Iya kak, Shilla disini.. kakak.. kakak bertahan.. Shilla mohon..”
“maaf, Shilla..”
“kakak nggak perlu minta maaf, Shilla yang salah kak, Shilla yang salah. Bertahan kak,” kataku menangis mendekap tubuh lemah itu.
“ka..kak.. ka..ngen.. i.. ibu” aku tersentak. Sepanjang aku bersama Rio, tak pernah Rio mengatakan bahwa ia merindukan ibunya. Tuhan.. inikah waktunya ?
Aku hanya bisa menangis, meanangis, dan menangis. Tatkala suaranya semakin memelan.
“Ka..kak.. Saa..yang..Shil..Shil..la” mata itu terpejam. Terpejam bukan untuk terbuka lagi. Jantungnya berhenti. Berhenti bukan untuk berdetak lagi. Tubuhnya tertidur. Tertidur bukan untuk terbangun lagi.
Aku tau, nyawa dan jiwanya telah berpisah barusan saja. Namun aku tetap memeluknya. Aku tak mau kehilangannya.
“Shilla.. juga sayang kakak”
***
Ini kisahku. Kisah hidupku dengannya. Tapi kini hanya tinggal aku. Tentu kau sudah tau, kemana dia. Ya, dia sudah tenang disana. Dia tengah beristirahat. Ia akan melanjutkan perjalanannya esok, denganku. Jadi, ku mohon.. berikan aku kesempatan untuk mengubah diriku, agar ia bahagia.
Rasanya kehilangan tentu sakit. Namun lebih sakit lagi jika ia yang membuat kita kehilangan bertambah sedih dengan kesakitan kita. Aku akan menghapusnya. Menghapus kesedihanku. Membiarkan semuanya berjalan sesuai rencana Tuhan.
Karena aku yakin, ia telah memaafkanku. Dan aku juga ingin menebusnya dengan apa yang ia harapkan. Menjadi aku yang sebenarnya.

TAMAT