Friday, May 9, 2014

Miracle -Cerpen Idola Cilik Shiel-

Shilla memandang lurus ke luar jendela kamarnya. Menyaksikan hujan yang kian derasnya berjatuhan ke bumi. Sama dengan hatinya yang saat ini sedang deras menangisi seseorang yang telah kian lama menemaninya. Mengisi ruang hatinya yang kosong, menghiburnya saat ia sedih. Dia, orang yang disayanginya –Oh, lebih dari sekedar sayang mungkin- kini sedang terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit. Dengan detak jantungnya yang semakin memelan, tubuh yang dulu kekar tegap kini seolah menjadi tubuh yang paling lemah. Tubuh yang ingin saja Shilla dekap untuk selamanya. Benar, selamanya.
Sebuah boneka panda berwarna hitam putih didekapnya. Wajahnya yang sudah basah dengan air mata kesedihan ia tumpahkan di boneka lucu itu. Namun selucu apapun wajah boneka itu, tetap hatinya terlalu lemah untuk membandingkan kelucuan boneka panda itu dengan sahabat lawasnya yang kini dalam perjuangannya melawan sakitnya.
“Tuhan.. seandainya ada waktu yang boleh aku tukar dengan nyawa. Maka aku akan menukar waktu itu dengan nyawaku. Dan waktu yang kutukar itu kuberikan hanya untuk dirinya”
###
“Kamu nggak masuk sekolah Shill..?” Tanya tante Winda. Mama Iel. Shilla yang sedang diam mengelus telapak tangan Iel yang sudah beberapa hari ini tak pernah menunjukkan gerakan kecil.
“Shilla nggak bisa ninggalin Iel tante” jawab Shilla sedih. Tante Winda hanya bisa menghela nafas lirih. Ia mengelus rambut Shilla.
“Iel akan sedih kalau kamu kayak gini Shill..” suara berat itu membuat mata Shilla dan mata tante Winda beralih pada sosok tinggi jakung berkulit sawo matang yang berdiri diambang pintu.
“Rio..” ucap keduanya pelan. Laki-laki bernama Rio itu mendekat. Menyentuh rambut Iel yang sedang terbaring lemah.
“Aku kembali, aku nggak mungkin biarin adekku berjuang sendirian. Aku pengen transfer sedikit energi positif buat kamu. Bangun Yel, kami semua masih ingin melihat senyummu” kata Rio lembut. Ia mengusap wajah pucat adiknya yang tertutupi masker oksigen
Hening.
Mata Shilla yang sayu seolah ikut mengatakan begitu. Ia menyetujui kalimat terakhir Rio. Kakak kandung Rio. Tante Winda pun begitu. Hanya air mata yang dapat ia persembahkan di depan kedua anak mereka. Terkhususnya Iel. Anak bungsunya yang kini tengah berjuang mempertahankan detak jantungnya.
Perlahan, jemari itu bergerak. Mata indah itu juga ikut tebuka. Semua mata memandangnya antusias. Seolah harapan yang telah lama mereka dambakan akan terwujud.
Perlahan, perlahan dan.. mata itu benar-benar terbuka. Senyum lega mereka pancarkan ketika mendapati mata itu benar-benar terbuka. Beberapa kali Shilla yang Nampak begitu sumringah memencet tombol kecil disamping ranjang Iel.
Dokter dan rombongannya pun masuk ke ruangan Iel. Terpaksa Shilla, Rio, dan tante Winda meninggalkan ruang rawat Iel.
“Tuhan, aku sangat berterima kasih padamu karena kau mampu membukakan mata beningnya lagi. Tuhan, jika ini memang kehendakmu. Mohon beri waktu sebentar saja. Waktu untuk aku merangkulnya. Untuk aku menciumnya. Untuk aku berbagi sedikit kesedihanku selama ia tidur. Tuhan, berikan ia sedikit lagi keajaiban. Hanya keajaiban. Just a MIRACLE”
Pintu bercat biru itu terbuka. Shilla, Rio, dan tante Winda mendekat.
“bagaimana dok?” Tanya tante Winda
“Maaf..”
###
”Miracle ? Masih adakah kata itu ? Aku tidak akan percaya lagi dengan kata itu. itu hanya kata kiasan. Aku terlalu percaya dengan kata miracle itu. aku terlalu berharap.
Namun apa hasilnya ? Dia pergi. Tak ada miracle sedikit pun untuknya. Padahal aku sudah memohon dengan sangat pada Tuhan agar memberikan sedikit miracle padanya. Tapi apa ? tidak. Dia kini telah pergi. Air mataku membawanya menuju tempat terakhirnya. Tanpa miracle lagi. Aku tak akan pernah percaya miracle lagi. Aku benci miracle”
“Semoga kamu bahagia disana” ucapku lirih.
Seorang dengan wajah indah tersenyum kearahku. Aku tak bisa melihatnya. Karena memang aku sudah tak percaya akan miracle lagi. Tapi.. aku merasakannya. Aku merasakan ia ada didekatku. Entah mengapa..
Samar, kudengar bisikan menyapa telingaku. Ku tajamkan telingaku. Kuresapi kalimat itu. suara yang lama kurindukan kini benar-benar kudengar. Badanku menghangat, aku hanya mampu diam. Ku pandangi pusarannya yang bertabur kembang. Pusaran dengan tanah yang masih basah. Aku merindukannya !!!
“Percayalah, Miracle itu ada”

TAMAT

2 comments:

Unknown said...

saya percaya keajaiban itu memang ada... keajaiban perlu di tunggu... nice ka..




numpang promo yaa kunjungi blog gue yaa: obat kista tradisional

Anonymous said...

Casino Poker in Tucson, AZ - Up to $/€/£1,000 & 100 FS
Online 헬로우 블랙 잭 Poker 토토 배당률 보기 at Casino 벳 365 가상 축구 Poker in Tucson. $5/€/$5,000 and 100 FS: 100 Free Spins/Saucify. Deposit and 텍사스홀덤 withdrawal 크롬 번역기 restrictions apply.

Post a Comment