Shilla
memandang lurus ke luar jendela kamarnya. Menyaksikan hujan yang kian derasnya
berjatuhan ke bumi. Sama dengan hatinya yang saat ini sedang deras menangisi
seseorang yang telah kian lama menemaninya. Mengisi ruang hatinya yang kosong, menghiburnya
saat ia sedih. Dia, orang yang disayanginya –Oh, lebih dari sekedar sayang
mungkin- kini sedang terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit. Dengan
detak jantungnya yang semakin memelan, tubuh yang dulu kekar tegap kini seolah
menjadi tubuh yang paling lemah. Tubuh yang ingin saja Shilla dekap untuk
selamanya. Benar, selamanya.
Sebuah
boneka panda berwarna hitam putih didekapnya. Wajahnya yang sudah basah dengan
air mata kesedihan ia tumpahkan di boneka lucu itu. Namun selucu apapun wajah
boneka itu, tetap hatinya terlalu lemah untuk membandingkan kelucuan boneka
panda itu dengan sahabat lawasnya yang kini dalam perjuangannya melawan
sakitnya.
“Tuhan..
seandainya ada waktu yang boleh aku tukar dengan nyawa. Maka aku akan menukar
waktu itu dengan nyawaku. Dan waktu yang kutukar itu kuberikan hanya untuk
dirinya”
###
“Kamu
nggak masuk sekolah Shill..?” Tanya tante Winda. Mama Iel. Shilla yang sedang diam
mengelus telapak tangan Iel yang sudah beberapa hari ini tak pernah menunjukkan
gerakan kecil.
“Shilla
nggak bisa ninggalin Iel tante” jawab Shilla sedih. Tante Winda hanya bisa
menghela nafas lirih. Ia mengelus rambut Shilla.
“Iel
akan sedih kalau kamu kayak gini Shill..” suara berat itu membuat mata Shilla
dan mata tante Winda beralih pada sosok tinggi jakung berkulit sawo matang yang
berdiri diambang pintu.
“Rio..”
ucap keduanya pelan. Laki-laki bernama Rio itu mendekat. Menyentuh rambut Iel
yang sedang terbaring lemah.
“Aku
kembali, aku nggak mungkin biarin adekku berjuang sendirian. Aku pengen
transfer sedikit energi positif buat kamu. Bangun Yel, kami semua masih ingin
melihat senyummu” kata Rio lembut. Ia mengusap wajah pucat adiknya yang
tertutupi masker oksigen
Hening.
Mata
Shilla yang sayu seolah ikut mengatakan begitu. Ia menyetujui kalimat terakhir
Rio. Kakak kandung Rio. Tante Winda pun begitu. Hanya air mata yang dapat ia
persembahkan di depan kedua anak mereka. Terkhususnya Iel. Anak bungsunya yang
kini tengah berjuang mempertahankan detak jantungnya.
Perlahan,
jemari itu bergerak. Mata indah itu juga ikut tebuka. Semua mata memandangnya
antusias. Seolah harapan yang telah lama mereka dambakan akan terwujud.
Perlahan,
perlahan dan.. mata itu benar-benar terbuka. Senyum lega mereka pancarkan
ketika mendapati mata itu benar-benar terbuka. Beberapa kali Shilla yang Nampak
begitu sumringah memencet tombol kecil disamping ranjang Iel.
Dokter
dan rombongannya pun masuk ke ruangan Iel. Terpaksa Shilla, Rio, dan tante
Winda meninggalkan ruang rawat Iel.
“Tuhan,
aku sangat berterima kasih padamu karena kau mampu membukakan mata beningnya
lagi. Tuhan, jika ini memang kehendakmu. Mohon beri waktu sebentar saja. Waktu
untuk aku merangkulnya. Untuk aku menciumnya. Untuk aku berbagi sedikit
kesedihanku selama ia tidur. Tuhan, berikan ia sedikit lagi keajaiban. Hanya
keajaiban. Just a MIRACLE”
Pintu
bercat biru itu terbuka. Shilla, Rio, dan tante Winda mendekat.
“bagaimana
dok?” Tanya tante Winda
“Maaf..”
###
”Miracle
? Masih adakah kata itu ? Aku tidak akan percaya lagi dengan kata itu. itu
hanya kata kiasan. Aku terlalu percaya dengan kata miracle itu. aku terlalu
berharap.
Namun apa hasilnya ? Dia pergi. Tak ada miracle sedikit pun untuknya. Padahal aku sudah memohon dengan sangat pada Tuhan agar memberikan sedikit miracle padanya. Tapi apa ? tidak. Dia kini telah pergi. Air mataku membawanya menuju tempat terakhirnya. Tanpa miracle lagi. Aku tak akan pernah percaya miracle lagi. Aku benci miracle”
Namun apa hasilnya ? Dia pergi. Tak ada miracle sedikit pun untuknya. Padahal aku sudah memohon dengan sangat pada Tuhan agar memberikan sedikit miracle padanya. Tapi apa ? tidak. Dia kini telah pergi. Air mataku membawanya menuju tempat terakhirnya. Tanpa miracle lagi. Aku tak akan pernah percaya miracle lagi. Aku benci miracle”
“Semoga
kamu bahagia disana” ucapku lirih.
Seorang
dengan wajah indah tersenyum kearahku. Aku tak bisa melihatnya. Karena memang
aku sudah tak percaya akan miracle lagi. Tapi.. aku merasakannya. Aku merasakan
ia ada didekatku. Entah mengapa..
Samar,
kudengar bisikan menyapa telingaku. Ku tajamkan telingaku. Kuresapi kalimat
itu. suara yang lama kurindukan kini benar-benar kudengar. Badanku menghangat,
aku hanya mampu diam. Ku pandangi pusarannya yang bertabur kembang. Pusaran
dengan tanah yang masih basah. Aku merindukannya !!!
“Percayalah,
Miracle itu ada”
TAMAT




2 comments:
saya percaya keajaiban itu memang ada... keajaiban perlu di tunggu... nice ka..
numpang promo yaa kunjungi blog gue yaa: obat kista tradisional
Casino Poker in Tucson, AZ - Up to $/€/£1,000 & 100 FS
Online 헬로우 블랙 잭 Poker 토토 배당률 보기 at Casino 벳 365 가상 축구 Poker in Tucson. $5/€/$5,000 and 100 FS: 100 Free Spins/Saucify. Deposit and 텍사스홀덤 withdrawal 크롬 번역기 restrictions apply.
Post a Comment