Friday, May 9, 2014

Indonesiaku -Cerpen-

Yogyakarta, 7 Juli 2012

Debur ombak pantai di bagian selatan pulau Jawa mulai menunjukkan percikan hangat diantara dua insan yang duduk bersamaan dalam diam.
Senja pasti akan tiba. Ya, mereka menunggu senja.
Seragam putih abu-abu yang sudah kotor akibat bermain pasir dan air tadi masih mereka kenakan. Membiarkan kelelahan hari ini hanyut bersama keindahan jingga disini.

“Kowe kate kuliah nang endi ? (Kamu akan kuliah dimana?)” Tanya Agni
“Isih ngenteni pengumuman beasiswa kuwi. Nek ora oleh beasiswa yo angon sapi wae nang sawah (Masih menunggu pengumaman beasiswa itu. Kalau tidak dapat beasiswa ya menggembala sapi saja di sawah” jawab Cakka agak dibuat bercanda
“Serius Cakk..”
“Iyo Ag (Iya Ag)”
“Hmm.. kalau sudah dapat beasiswa jauh, jangan lupakan aku. Jangan lupakan kampung halaman sendiri” pesan Agni
“Aku ra bakal lali. Kowe iku koncoku, sahabatku. Jogja iki kutoku. Aku ra bakal ngelaliake iki kabeh. Kuto iki sing nggowo aku sampek koyo ngene (Aku nggak akan lupa. Kamu itu temanku, sahabatku. Jogja ini kotaku. Aku nggak akan melupakan ini semua. Kota ini yang membawaku sampai seperti ini)” Agni tersenyum tipis mendengar ucapan Cakka. Apa yang dikatakannya seakan sumpah yang terpaut dengan tanah Jawa tempat kelahirannya, tempatnya dibesarkan, tempatnya menimba ilmu, tempatnya merangkai masa depan sejak kecil, tempatnya mengenal sejuta karya Tuhan yang luar biasa, tiada duanya.
“Tak cekel iku opo jaremu (Aku pegang apa itu katamu)”

###

Padang, 17 Agustus 2012

“Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa”

“Deburan ombak pantai selatan kurindukan, meski semua tau. Keindahan pulau Sumatera ini tiada tandingannya. Namun tetaplah aku merindukan tanah lahirku. Dimana dulu tempatku berjuang hingga aku ada disini. Dimana dulu kuingat semilir angin lewat di cuaca panas Malioboro tak menyita semangatku untuk mencari sehelai kain yang berani nan suci. Sang pusaka merah putih. Dimana dulu saat aku duduk dibangku SMP, Merapi ku takhlukkan. Saat-saat waktu terakhir SMA. Ombak Parang Tritis kujamah dengan kepulan semangat yang membara. Semangat yang menggebu-gebu ingin segera kutuntaskan perjuanganku di tanah tercintaku ini. Tanah jawa.
Sebulan sudah kutinggalkan tanah itu, rindu benar-benar terasa manakala aku teringat akan sebuah ciri khas sore kampungku. Suara lembut perempuan-perempuan berkebaya dengan sanggul dibelakang kepalanya. Mereka lantunkan tembang jawa dengan nada-nada yang menenangkan hati”

“Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung dihari tua
Sampai akhir menutup mata”

“Hmm.. benar, aku benar-benar merindukannya.
Namun tanah Sumatera jugalah bagian dari perjuanganku.
Ia yang akan menuntunku melanjutkan sisa-sisa perjuanganku sebagai pewaris bangsa.
Pedulikah aku jika tanah indah ini bukan tanah kelahiranku. Aku tak peduli.
Biar kupijakkan kakiku disini. Berbekal tekat dan semangat yang kusiapkan matang.
Berbekal mimpi dan harapan yang akan kubawa pulang setelah tamat sekolahku disini.
Disana.. di Tanah Jawa aku dilahirkan, aku dibesarkan, aku mencari masa depan.
Dan disini.. di Tanah Sumatera yang jauh berbeda dari Tanah Jawa, aku berjuang. Mencari sisa-sisa mimpiku yang belum terwujud.
Pahamkah kalian ? Biar kata kedua pulau yang pernah kupijaki tak sama.
Mereka tetaplah satu. Satu dalam satu bendera. Satu dalam satu darah. Satu dalam satu pengorbanan. Dialah Indonesiaku.
Negeri subur nan indah tiada bandingannya.
Dialah Indonesiaku. Yang tak akan kulupakan. Meski waktu takkan pernah berputar”


TAMAT

0 comments:

Post a Comment