Thursday, April 17, 2014

Peri Cintaku (Cerpen Idola Cilik Yoshill)

-Didalam hati ini, hanya satu nama yang ada ditulus hati
            Ku ingini kesetiaan yang indah takkan tertandingi hanyalah dirimu satu.
                         Peri cintaku, benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai-

Gemerlap terang lampu kota malam hari membuat raganya yang saat ini sedang sendiri benar-benar merasa terhibur. Sebetulnya ia tak sedang sendiri. Ada seekor kucing Persia manis menemaninya dengan suara manjanya. Membuat gadis itu tersenyum-senyum bahagia duduk dikursi taman di perbukitan kecil yang Nampak ramai itu. Ada rasa iri sebenarnya pada remaja-remaja yang berlalu lalang. Namun apa daya, hatinya belum menemukan pilihan yang pas untuk dijadikan kekasih hatinya.
Diam-diam ia merindukan sosok pria yang pernah singgah dihatinya kala pertama ia masuk SMA. Riko. Ya, Riko Anggara namanya. Seniornya yang pernah ia jadikan cinta pertamanya. Senior yang membuat hatinya benar-benar terkutuk oleh kata manis dari bibir Riko. Namun sayangnya itu dulu. Disaat dia belum harus berpisah dengan Riko. Setelah kelulusan, Riko yang dikenal sebagai penyandang gelar siswa berprestasi mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di Perth, Australia.
Tangan gadis itu berganti pada bulu bulu lembut nan tebal. Missy, nama yang diberikan pada kucing kesayangannya.
“Hei Missy, apa yang kau pikirkan tentang pria?” tanyanya sendiri. Seolah ada seseorang yang diajaknya berbincang. Ah.. bodoh. Bodoh sekali gadis itu. Membiarkan kucing manis yang tak bisa diajaknya berbincang justru ia beri pertanyaan yang seharusnya manusia jawab.
“ah.. aku tau, kau pasti bingung, sama sepertiku. Hhh.. sampai sekarang pun aku masih ragu untuk mencari pengganti Riko. Seharusnya dulu aku tak pernah mengenal Riko. Sehingga sampai saat ini aku masih belum merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta itu” katanya sendiri. Kucing polos nan lincah bermanja dengan lengan jaketnya itu hanya bisa mengeluarkan suara ‘meong’ nya ketika gadis itu mencoba berkata padanya
“Mengapa kau berbicara dengannya gadis bodoh” ujar seseorang dari belakangnya. Gadis itu sontak menoleh kebelakang, kaget. Ia hanya menghela nafas saat ia tahu bahwa orang itu temannya sendiri
“aku bukan gadis bodoh pria aspal” jawab gadis itu tak terima. Pria itu duduk disampingnya. Mengambil alih Missy dari pangkuan pemiliknya.
“Hei kembalikan Missyku. Aku tak ingin ia menjadi warna silverqueen sepertimu” lanjut gadis itu sambil mengambil Missynya dari tangan pria itu
“Memangnya kenapa bila Missymu ini berubah warna sepertiku ? Bukannya silverqueen manis ? Dan kau menyukainya ? Ah.. kau benar-benar membuatku salah tingkah” Ujar pria itu tertawa kecil
“Hah ? benarkah aku menyukai silverqueen?” gumam gadis itu “aku tak peduli. Aku menyukai cokelat bukan berarti aku menyukaimu pria aspal”
“kau bahkan memiliki dua nama panggilan khusus kepadaku gadis polos”
“kau pun begitu” gadis itu tertawa. Diikuti oleh tawa pria berkulit sawo matang disampingnya ini.
***
-Aku untuk kamu, kamu untuk aku.
            Namun semua, apa mungkin iman kita yang berbeda ?
                        Tuhan memang satu. Kita yang tak sama.
     Haruskah aku lantas pergi, meski cinta takkan bisa pergi-
“Hei gadis bodoh. Buku apa ini?” pria itu merebut buku bersampul fuschia yang ada digenggaman gadis itu.
“Hei pria aspal. Kembalikan bukuku” Gadis itu mencoba menggapai buku yang ada ditangan pria itu. Sedangkan pria yang postur tubuhnya jauh lebih tinggi darinya itu justru mengacungkan tangannya keatas
“Aku akan mengembalikannya jika kau berhenti memanggilku dengan nama pasaran itu”
“Kau yang mengawalinya. Aku hanya melengkapi saja” Gadis itu kembali pada posisi semula. Memasa bodohkan buku bersampul fuschia yang masih ada ditangan pria itu.
“Kau memang terlalu polos. Cenderung bodoh” celetuk pria itu sambil membuka halaman per halaman buku itu “Hei, gadis bodoh, foto ini kau ambil kapan ? lucu sekali wajah kau saat seperti ini” lanjutnya sambil menertawakan sebuah foto pada buku itu. Gadis itu menengok sebentar.
“Itu foto kuambil hampir dua tahun yang lalu. Beberapa waktu setelah hari los terakhir” jawab gadis itu
“Bukankah ini Riko ?” tanyanya. Gadis itu mengangguk.
“ada hubungan apa kau dengannya?” Tanya pria itu penasaran.
“Ah, kau ini mengingatkanku pada masa lampau saja. Dia mantan kekasihku. My first love” Katanya pelan diakhir kalimat.
“Fist love?” Tanya pria itu lagi
“Iya. Bukankah kau sudah tau?” Tanya gadis itu pada pria disampingnya kini.
“Err.. Iya, memang. Aku mengetahuinya” jawab pria itu
“Lalu, mengapa kau bertanya lagi padaku?”
“Aku hanya ingin mencoba memulihkan ingatanmu saja”
“memulihkan ingatanku? Kau kira aku pemilik IQ dibawah normal begitu ? sadis sekali kau ini. Biar kata wajahku tak meyakinkan seperti ini, IQ ku masih mencukupi untuk dipersaingkan dengan otakmu yang seperti batu di Mahameru itu” ucap gadis itu asal. Pria itu tertawa
“Kau bisa saja. Apa kau juga berpikir bahwa otakmu itu lumat seperti bubur bayi ? kau ada ada saja”
“Entahlah. Aku hanya memiliki firsat bahwa kau tak pernah bisa mengalahkanku” jawab gadis itu menyombongkan diri
“Terserah kau sajalah” Sahut pria itu “Ashilla..” pria itu memanggil nama gadis itu. Ashilla.
“Hmm”
“Aku mencintaimu” Ujar pria itu cepat. Ashilla berhenti dari jalannya. Berdiri mematung tak bersuara. “Ya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku begitu nyaman ketika didekatmu. Aku hanya bisa mendeskripsikannya dengan satu rasa. Dan apa kau mau menerima rasaku ini ? rasaku yang benama cinta ?”
Ashilla terdiam cukup lama. Memikirkan sesuatu hingga membuat mata indahnya itu bergerak gerak.
“Maaf, Mario. Iman kita, tak sama” lirih Ashilla. Mario. Pemilik nama indah itu sama-sama termenung. Menciptakan keheningan di lorong sekolah yang sepi.
Entahlah, apa yang dirasakan keduanya. Ketika benih cinta itu mulai tumbuh, kenyataan pahit justru harus mereka terima.
Kepercayaan ! Iman.
Iman mereka berbeda. Iman mereka tak sama.
Lalu harus bagaimana lagi ?
“Aku mengerti” jawab Mario pelan. Perlahan tubuh tegap itu melangkah meninggalkan gadis yang dicintainya sejak dulu
“Mario, tunggu..”
***
-Bukankah cinta anugerah ?
            Berikan aku kesempatan untuk menjaganya sepenuh jiwa-
“Aku juga mencintaimu” Ujar Ashilla pelan. Nyaris tak terdengar. Mario yang duduk bersandar di kursi kemudi menoleh kearah Ashilla sebentar.
“Bukankah kau yang mengatakan jika.. Iman kita tak sama ?”
“Iya, aku mengatakannya. Fakta kan ? namun aku juga tak bisa mengelak dari perasaanku”
“Tapi kita tak bisa bersatu. Kita, berbeda” kata Mario masih fokus dengan kemudinya
“Iya, aku tau itu. Tapi.. bolehkah aku mencintaimu ?” Tanya Ashilla menatap dari samping wajah manis itu. Mario tersenyum. Meski ada yang ganjal dari senyumnya
“Tentu. Sampai kapanpun kau boleh mencintaiku dengan sesuka hatimu”
“Meski kita tak bisa bersatu, kau tetap orang yang ku cintai”
“Kau peri cintaku” mereka berdua tersenyum. Mencoba menerima kenyataan pahit ini dengan senyuman. Hanya senyuman. Perkara yang mudah dilakukan agar manusia bisa menutupi kesedihannya. Hanya senyuman.
Mengapa ?
Mengapa dulu aku terlahir dari agama yang tak sama dengannya ?
Mengapa ?
Mengapa justru dia yang kucintai yang memiliki perbedaan jauh denganku ?
Aku tak bisa begitu saja meninggalkan agamaku
Aku telah bersumpah pada Tuhan bahwa aku setia padanya
Bahwa percayaku padanya begitu besar. Begitu kuat.
Dan aku tak mungkin begitu saja mengingkarinya hanya untuk seorang makhluknya.
Aku tak boleh egois.
Dia adalah dia. Tuhanku tetaplah Tuhanku.
Ya Tuhan
Mengapa kau temukan aku dengan dirinya ?
Dengan ia yang terlanjur mengisi kekosongan hatiku.
Namun ia tiba-tiba saja kau rampas. Dengan alasan..
Ia tak mengakui keberadaanmu. Ia bukanlah pengikutmu.
Meski aku tau, dia jugalah makhlukmu.
Baiklah, aku mengerti. Aku tak bisa bersamanya.
Sebab aku telah berbuat dusta jika benar-benar meninggalkan imanku.
Ini aku, Dia pun dia. Dan imanku, Tetaplah disini.


Foto Ashilla Zee & Mario Stevano (Rio Stevadit)
                        ***TAMAT***


Tuesday, April 15, 2014

Malaikat Tanpa Sayap -Cerpen Idola Cilik (SIVIEL)

“hey ngelamun mulu” ucapnya. Aku tersadar dari lamunanku & tersenyum ke arahnya “ngelamun siapa sih?” tanyanya
“ngelamun kamu jadi ceweknya Septian” ucapku. Ify manyun
“Sivia apaan sih. Aku sama Tian itu Cuma temen” belanya
“siapa bilang kamu istrinya Tian?” tanyaku tambah ku buat bercanda
“disebrang lapangan. Asrama putri. Tiba tiba ada seorang cowok tergesah gesah menghampiriku.
“boleh nanya nggak? “tanyanya. Aku mengangguk. “kamar nomer 525 dimana ya? “tanyanya. Aku menoleh keasramah cowok.
“disana. Lantai dua “tunjukku kelantai dua.
“sebelah? “Tanyanya lagi.
“yaudah bareng aku aja. Aku mau lewat sana”tawarku.ia mengangguk.
“namamu siapa?”tanyanya.
“sivia panggil Via nggak papa “jawabku
“oh’ gitu ya? Aku Gabriel. Panggil aja Iel . “ucapnya aku mengangguk.
“kamu anak baru ya disini? “tanyaku. Iel mengangguk.
~Tiga Hari Kemudian~
“hallo “suara disebrang telepon.
“hallo, ngel, gue suka cewek nich” ucap Iel.
“terus? “Tanya angel enteng.
“yaelah, ya bantuin deketingue gitu “ucap Iel.
“tapi loe nggak PHP kan sama dia?” tanyanya
“yaelah Ngel, gue cinta sepenuh hati ama dia”  ucap Iel dengan nada memohon
“ya, ya.. bahasa loe tinggi amat. Baru masuk 3 hari aja udah jadi penurut” ucap Angel
“penurut apaan. Penurut bin Troublemaker kali’” ucap Iel. Angel ketawa
“eh, by the way. On the way, bus way. Anaknya kayak gimana?” Tanya Angel
“dia lucu, cantik, chubby, imut, baik, perhatian, nyenengin, pinter. Pokoknya tipe tipe gue lah” ucap Iel semangat
“loe ambil tipe gue..Iel.,” teriak Angel. Iel menjauhkan hapenya dari telingannya sambil bergidik
“enak aje. Gue tuh” ucap Iel gak mau kalah
“ah, udahlah. Repot ngomong ama loe. Bye” ucap Angel menutup telponnya. Iel manyun
“Yel, dicari Sivia” ucap Riko di ambang pintu
“iya”.
~Taman~
Sivia asyik membuat sketsa dirinya & sahabat – sahabatnya. Ada Ify, Zahra, Riko & Iel.
“Via, Ify jangan pakek celana. Rok aja” ucap Zahra
“oke deh” jawab Via. Iel datang sambil kejar-kejaran dengan Riko. Dan…
Iel nggak sengaja nyenggol Via. Alhasil. Sketsa itu berantakan dengan cat air yang ada didepannya
“kamu ini gimana sih. Nggak lihat apa, ada aku disini?” Tanya Via dengan marah. Iel hanya bisa menatapnya bersalah. “kan gambarku rusak gara gara kamu.” Sivia berdiri & meninggalkan Iel dan Riko. Ify dan Zahra menyusul Sivia.
“loe sih Yel. Udah tau ada Via juga” ucap Riko sambil menyenggol lengan kiri Iel. Iel hanya diam
~7 hari kemudian~
Sivia duduk dipinggir lapangan menemani Zahra & Ify yang sedang bermain basket. Via membuka tasnya. Ketika itu. Via mendapati sebuah lukisan tentang persahabatan tiga orang perempuan & dua orang laki-laki. Bertuliskan ‘Malaikat Tanpa Sayap’ itu. Didorong rasa penasaran, Via membuka surat didalam amplop putih itu. Ia lantas membacanya

To : Sivia Azizah Cantik

Hai Via,
Apa kabar?
Masih baik, cantik & menggemaskan tentunya
Vi, maafin aku ya. Gara gara aku, sketsa kamu rusak.
Sebagai permohonan maafku.
Aku kasih ini buat kamu
Maaf kalau jelek dan nggak rapi
Disitu ada kamu, Ify & Zahra lagi ayunan ditaman
Riko lagi manjat pohon mangga
Dan aku lagi ngelukis ini
Ini sama persis waktu aku lagi ngelukisnya
Via, aku pengen kamu jadi malaikatku
Malaikat Tanpa Sayap
Dan aku adalah sebuah sayap yang akan membawamu kemanapun kamu pergi
Kamu mau kan?

-Iel Gabriel Ganteng Damanik-

Via tersenyum dan memeluk Iel yang tiba tiba ada disampingnya


-Tamat-

Just A Friendship Story -Cerpen Idola Cilik CAGNI-

Agni asyik berkompromi dengan HPnya yang mulai bejat itu. sedangkan Oik kakaknya malah asyik balapan dengan Cakka di PS 3 nya
“yaa.. yaaa… satu belokan lagi.. yuppss… eh… yeee…. Gue menang. Wekk wekk wekkk. Loe kalah Cakk, bakso tiga mangkok gue tunggu di emperan depan” yah, begitulah tingkah cewek cerewet yang satu ini
“yee…. Kan gue udah bilang, uang saku gue selama sebulan kedepan udah loe rampas semua kemaren buat traktiran ulang tahunnya si Agni” seru Cakka nggak terima juga sedikit menoleh kearah Agni yang begitu seriusnya dengan HP bututnya itu. Agni yang merasa namanya disebut hanya cengengesan nggak jelas
“ah, sebodo ah, loe minta sono kek sama mas Elang. Jangan lupa, pakek jurus handal yang gue ajarin dulu. Masang tampang melas” ucap Oik sambil masuk kekamarnya. Cakka memajukan sedikit bibir sexynya
“Ag, loe punya duit gak?”Tanya Cakka masih tetap pada posisinya
“berapa emang?”Tanya Agni yang emang paling baik di antara sahabat sahabatnya
“cukup buat makanannya kakak loe yang gendut itu sehari lah” ucap Cakka. Namun Oik keluar membawa gitar hitam kesayangannya. Ia langsung manyun. Cakka dan Agni tertawa pelan
“haha.. sehari udah sampai 7 piring tuh Kka.. makannya, gue paling males makan sama dia. Belom apa-apa pasti jatah makan gue udah hangus duluan” jawab Agni sambil cengengesan. Oik menaruh gitarnya di rak kumpulan piala-piala penghargaan dirinya, Agni juga Cakka tentunya dalam bidang musik dan tarik suara. Oik mengambil ancang-ancang akan mengejar Agni. Namun Agni sudah lari duluan. Cakka hanya mengangkat alisnya dan melanjutkan permainan PS nya yang tertunda karna sahabat-sahabatnya itu
^^^
Cakka, Oik & Agni
Tiga sahabat yang diberi julukan listrik, TV dan antenna.
Mereka selalu bersama. Layaknya seorang kekasih
Namun bukan, mereka adalah sahabat. Sahabat sejati yang saling mengerti
kadang, orang sering menyangka bahwa mereka kembar
Kemana-mana selalu bersama. Dalam sedih maupun senang
sebelumnya mereka tidak kenal sama sekali
Gara-gara insiden Oik ngelempar Cakka dengan kaleng minuman itu mereka jadi saling kenal
Oh iya, Oik dan Agni adalah anak broken home
Oik dan Agni adalah kakak dan adik. Ayah dan Ibu mereka sudah pisah beberapa tahun yang lalu. Itu membuat mereka menjadi tegar menghadapi liku-liku jalan kehidupan mereka.
Cakka, anak seorang musisi terkenal. Ia pun juga seorang gitaris Internasional. Namun dibalik semua itu, Cakka hanyalah anak pungut. Cakka di adopsi dari panti asuhan sejak dia masih bayi.
Dan Cakka kini sadar bahwa dirinya sudah terlalu dewasa untuk menghadapi hidupnya. Dan kini Cakka memutuskan untuk tinggal di kost-kostan. Dan kamarnya tepat berada di samping kanan kamar Oik dan disamping kiri kamar Agni
^^^
“Cakk.. ada temen artis loe tuh diluar” ucap Oik sambil melahap bakso yang dibelikan Cakka. Ini memang tradisi mereka untuk membagi apa yang ia punya pada sahabatnya yang sedang kesulitan
“siapa?”Tanya Cakka juga sedang melumat baksonya dimulutnya
“Ashilla” jawab Oik enteng. Sontak Cakka kaget dan tersedak
“uhukkk… uhukkk..” Agni mengambilkan segelas air putih untuk Cakka
“makannya ati-ati” ucap Oik
“ngapain Shilla kesini?”Tanya Cakka. Oik mengangkat bahunya. Cakka segera keluar dan menemui Ashilla penyanyi solo muda terkenal di era 2013.
“As.. Ashilla” panggil Cakka. Sang empu nama itupun menoleh sambil tersenyum “ada apa. Kok tumben” ucap Cakka
“em.. gini Kka, kemarin ada produser yang lihat video kamu yang nyanyi lagunya Maroon 5. Yang one more night. Dia tertarik sama suara kamu, kamu mau gak besok ketemu produser itu di studio rekaman milik papaku?”Tanya Shilla lembut
“be..beneran Shill..?”Tanya Cakka tak percaya
“iya, bener” jawab Shilla mengangguk dan tersenyum
***
“beneran Kka, ini tempatnya?”Tanya Agni begitu sampai di depan sebuah gedung mewah
“ya, menurut alamat yang dikasih Ashilla sih gitu” jawab Cakka. Oik mengedikkan bahunya. Ia merasa panas dengan keadaan sekitar gedung bernuansa mewah itu
“udah deh. Mending kita langsung masuk aja. Gue mendidih nih disini” ucap Oik. Cukup membuat Cakka dan Agni terkekeh
***
“permisi..” ucap Cakka sopan saat mengetuk pintu sebuah ruangan dengan desain matrik dan sederhana itu
“masuk” suara didalam membuat Cakka membuka pintu jati itu. Dan Cakka mendapati Ashilla sedang dengan laptop didepannya. Gitar disampingnya. Headset menggantung di leher putihnya. Juga rambut yang ia ikat satu ke atas
“eh, Cakka.. ini Oik sama Agni ya?”Tanya Shilla saat melihat Oik dan Agni ikut masuk ke dalam ruangannya. Oik dan Agni hanya mengangguk dan tersenyum manis
“em.. nggak papa kan, mereka aku ajak kesini?”Tanya Cakka. Shilla tertawa dengan tingkah rekannya itu
“ya gapapalah.. nyantai aja kali. Oh iya, duduk sini” Shilla menyuruh mereka bertiga untuk duduk di sofa yang ia tempati. Cakka, Oik & Agni menurut
“jadi.. gimana dengan produsernya Shill?”Tanya Cakka tanpa ba bi bu
“jadi gini, barusan katanya, produsernya masih ada miting. Jadi nggak bisa hari ini. Dia minta besok kalian kesini lagi menemui beliau” jawab Shilla
“oh, gitu ya.. ya udah deh kalau gitu. Em.. Shill, kami pamit dulu ya..” pamit Cakka sambil berdiri. Oik dan Agni pun melakukan hal yang sama
“eh, buru-buru amat. Kita makan dulu aja yuk, kalian pasti belum makan kan?”Tanya Shilla. Cakka jadi nggak enak dengan ini semua
“em.. nggak usah Shill, kita masih kenyang kok” ucap Cakka beralasan
“udah, ayo.. aku tau kok. Tadi waktu kalian kesini kalian nggak makan” jawab Shilla. Cakka, Oik dan Agni membelalakkan matanya. ‘Kok Shilla tau?’ Tanya mereka dalam hati
“udah yuk.. aku traktir. Tapi di café bawah aja ya” ucap Shilla. Cakka hanya tersenyum dan mengangguk
***
“Shilla baik ya” puji Agni malamnya saat mereka sedang berkumpul balkon kamar Elang. kakak tiri Cakka. Ada Cakka, Oik, Agni & Elang. Mereka bersama untuk sekedar menikmati semilir angin dari jendela besar yang tertera indah di dekat sebuah grand piano hitam milik Elang
“ya iyalah, udah cantik baik. Tipe Cakka banget tuh” sindir Oik pada Cakka yang memejamkan matanya menikmati suasana indah kota Bandung pada saat ini. Cakka hanya tersenyum tipis
“oh iya Kka, besok gue gak ikut ke tempat Shilla ya, ada rapat osis disekolah”ucap Agni. Cakka hanya mengangguk pelan
“loe beneran Cakk, mau ngelanjutin karir bareng Ashilla Zee?”Tanya Elang sang kakak tiri. Cakka mengangguk lagi
“bagus deh. Udah bisa kerja. Semoga aja loe habis sukses karir terus sukses hubungan ama Ashilla” goda Elang. Cakka hanya terkekeh dengan kakak sekaligus teman curhatnya itu
Oik sangat menyetujui itu dalam batinnya . Karena ia tau, ini yang terbaik untuk Cakka. Sahabatnya
***
“permisi..” sapa Cakka diluar ruangan Shilla. Namun tak ada jawaban “permisi..” panggilnya lagi
“dia keluar mungkin Cakk” ucap Oik. Cakka mengangguk. Namun tiba-tiba ada seorang wanita memanggil nama mereka berdua
“Cakka, Oik”
“eh, Shilla..” sahut Cakka sambil tersenyum
“maaf ya tadi aku nemuin produsernya. Dia ada tuh di studio” Shilla menunjuk sebuah pintu ruangan yang cukup megah yang tak jauh dari ruangannya “oh iya, Agni mana?”Tanya Shilla
“nggak ikut. Katanya ada rapat osis disekolahnya” jawab Cakka. Shilla mengangguk dan mengajak mereka keruangan itu
“Ik, bisa nyanyi nggak?”Tanya Shilla pada Oik yang sedari tadi hanya diam saja. Oik hanya menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu
“nyanyi ya semua orang bisa Shill, Cuma suaraku kayak kambing ditarik ekornya” canda Oik. Shilla tertawa dengan humor Oik. Tak menyangka bahwa Oik yang Shilla kira pendiam, ternyata pelawak yang cukup membuat orang terhibur
“haha.. bisa aja kamu ini. Aku aja baru denger suara kamu ngomong udah terpesona. Apalagi kalau nyanyi. Kamu mau gak nyanyi dikit aja” pinta Shilla
“hah.. nyanyi?. Jangan deh Shill, malu nih” ucap Oik saat Cakka sudah masuk duluan ke ruangan itu
“malu siapa. Nggak ada siapa-siapa. Cuma aku aja. Ayolah Ik, dikit aja..” pinta Shilla sekali lagi
“hh.. okedeh, lagu apa?”Tanya Oik begitu pasrah
“terserah deh” jawab Shilla. Oik mulai menghela nafas sejenak
“mengapa berat ungkapkan cinta padahal ia ada
dalam rinai hujan, dalam terang bulan. Juga dalam sendu senang
mengapa sulit katakan cinta padahal ia terasa
dalam rindu dendam hening malam cinta terasa ada” suara Oik megalun begitu bening di telinga Shilla. Memang sangat berbeda dengan Shilla yang mempunyai suara serak basah
Proookk prokkk prokkk
Shilla berdecak kagum dengan suara Oik. Baru kali ini ia menemukan suara sebening ini
“harusnya kamu sekarang udah ada dipanggung Internasional Ik” puji Shilla tulus. Oik tersipu
“ah Shill, bisa aja. Suara jelek gini” jawab Oik. Walau suara hatinya berteriak karna baru kali ini ada orang yang memuji suaranya. Bahkan dia artis. Penyanyi professional
“beneran Ik, em.. kalau kamu mau.. kamu bisa rekaman sama Cakka sama aku di album keduaku” saran Shilla. Oik terbelalak kaget. Segitu baiknya kah malaikat cantik didepan matanya ini, sehingga ia mau menjadikan Oik orang terkenal sepertinya. Ahh.. apa ini hanya mimpi??. Oik menepuk pipinya. Dan benar saja. Itu terasa. Ia tak mimpi
“em.. a.. Shill.. ka.. kamu.. mau rekaman sama aku?”Tanya Oik ragu dan memastikan. Shilla kembali mengangguk disertai senyum manisnya. Oik mengangguk semangat
“iya Shill, aku mau. Makasih ya Shill.. kamu baik banget sama aku. Semoga hubunganmu dengan Cakka semakin membaik deh. Kalau butuh bantuan buat nyomblangin, serahin aja ama pakarnya. Oik..” ucap Oik pede. Shilla tertawa renyah. Pipi putih Shilla juga memerah
“Oik nih ah, bisa aja” ucap Shilla malu-malu. Oik hanya tersenyum
***
“Ag.. loe mau kan kalau gue sama Cakka sukses dan ngebahagian loe” ucap Oik
“iya Ik, gue tau.. tapi apa harus kalian ninggalin gue sendiri disini?”Tanya Agni
“Ag, gue pergi sama Oik Cuma sebentar aja. Setelah album kami dirilis, kami bakalan balik kesini lagi” gentian Cakka yang ngomong. Agni memalingkan wajahnya. Raut kesedihan dan tak rela terpancar jelas dimatanya. Agni mempunyai firasat yang tidak enak
“pliss lah Ag, kita janji bakalan balik lagi.. loe boleh pegang janji itu” ucap Oik sambil meyakinkan Agni untuk merelakannya dan Cakka pergi ke Jakarta. Agni mulai sedikit mengerti
“gue pegang janji loe” ucap Agni sambil tersenyum. Oik dan Cakka ikut tersenyum
Sahabat takkan pernah mengucapkan apa yang ia rasakan saat mengetahui kau sedang jauh lebih mempunyai masalah dibanding dirinya.
Ia akan berusaha agar kau tetap tersenyum. Meski hatinya juga tak ingin mengatakan apa yang harusnya ia katakan.
Sahabat akan melakukan dengan cara apapun agar kau tak resah dengan apa yang ia pikirkan, dan sahabat takkan pernah rela sahabatnya bersedih karna suatu perihal dan masalah yang menimpanya. Terlebih ia akan bersabar menanti kehendak Tuhan agar mau mengubah takdir sahabatnya menjadi apa yang sahabatnya impikan
***
-3 Tahun kemudian-
Ashilla Zee. Penyanyi wanita muda ternama dengan bakat yang ia miliki, kini telah menjalin hubungan dengan seorang pria yang juga dikenal sebagai penyanyi dan gitaris muda ternama di Indonesia. Cakka Nuraga. Teman duetnya dua tahun yang lalu dalam lagu Rasa Ini yang dinyanyikan oleh Cakka Nuraga, Ashilla Zee dan Oik Ramadlani
Agni menutup Koran yang ia baca. Wajahnya tersenyum bangga, kala mengetahui kakak dan sahabat lamanya telah sukses meniti karirnya. Namun hatinya merasa miris dengan dirinya. Dua orang sahabat yang telah mengucap janji padanya akan kembali untuknya dalam waktu dekat. Namun penantian hanya tinggal kenangan. Mereka sudah lupa dengan dirinya. Sosok Oik dan Cakka yang kini tengah sukses dengan karir yang didapatnya. Sudah membuat mereka lupa akan kehidupan masa lalunya. Lupa akan persahabatan mereka. Dan membuat lupa akan Agni sang sahabat yang tak pernah lelah untuk menunggu mereka di penantian panjang ini
Agni, sosok anggun yang telah dewasa kini menjalani statusnya sebagai salah satu mahasiswi di Universitas Gajah Mada di kota DI Yogyakarta.
“gue kangen loe berdua.. Cakka jelek. Oik bawel” serunya sambil mendekap erat Koran yang baru tadi pagi ia beli di jalan
***
“Apaaaa…” teriak Shilla dengan raut kaget. Oik yang melihat itu menghampiri Shilla
“ada apa Shill?”Tanya Oik
“Ca..Cakk..Cakka Ik, Cakka…” Shilla berbicara dengan wajah takut
“iya, ada apa sama Cakka?”Tanya Oik
“Cakka.. Cakka kecelakaan Ik” ucap Shilla. Oik langsung melemas seketika
“aa. Apa??. Kecelakaan?”Tanya Oik tak percaya. Shilla langsung memegang tangan Oik dan mengajaknya untuk kerumah sakit secepatnya
***
“buta dok?”Tanya Oik keget begitu mengetahui pernyataan doker bahwa Cakka akan buta. Shilla sang kekasih sangat terpukul mendengar itu. Tapi Shilla bukanlah tipe cewek yang pengkihanat. Ia tetap setia dengan Cakka. Meski ia juga banyak mendapat bullyan dari teman-teman di kampusnya. Shilla tak peduli, ia sangat menyayangi Cakka
***
Oik sibuk membongkar lemari berkas-berkasnya. Ada hal yang ia butuhkan ditugas kampusnya
“aduhh mana sih” dumel Oik
“kenapa sih Ik?”Tanya Cakka dikursi roda dengan tatapan lurus kedepan
“ini nih Cakk.. ada tugas dikampus. Cuma nyari aja. Nggak ketemu-ketemu dari tadi” ucap Oik kesal
“ya jangan diberantakin gitu caranya” ucap Cakka
“lah kok loe tau?”Tanya Oik heran. Cakka tersenyum
“siapa sih yang nggak tau tukang jamu yang bawaannya ngeberantakin lemari kalau lagi nyari apa-apa” ucap Cakka. Oik tersenyum geli. Ia terus mencari lembar itu. Tiba-tiba sebuah benda tipis jatuh di jemari kaki Oik. Oik memungutnya. Ia melihat dua orang perempuan dengan gaya polos anak SMP mengapit seorang laki-laki yang membawa sebuah papan nama. Bertuliskan. KITA LULUS SMP. KITA ANAK SMA
Oik terenyuh dengan foto itu. tiba-tiba ia teringat seseorang
“Agni..” gumamnya. Cakka sempat mendengar. Namun nggak jelas
“siapa Ik?”Tanya Cakka
“Cakka.. gue nemuin foto ini. Foto waktu kita lulus SMP” teriak Oik histeris
“foto kita berdua?”Tanya Cakka
“bukan Cakk.. yang ditengah ini loe. yang dikanan ini gue. Dan yang dikiri ini..” Oik meneteskan selaput bening itu dari mata lugunya “Agni” lanjutnya lirih. Namun cukup didengan oleh Cakka
“Agni?”Cakka berusaha mengingat nama yang tak asing lagi itu “Agni.. item” ucap Cakka. Oik mengangguk
***
3 hari kemudian
Cakka menerima donor mata dari seseorang yang berbaik hati padanya. Apa orang itu fansnya?. Entahlah, Cakka sangat berterima kasih pada orang yang berhati malaikat itu
Cakka sempat berkata bila sudah bisa melihat nanti, ia akan menemui Agni. Sahabat lamanya
***
Cakka, Oik & Shilla berdiri disebuah rumah kecil nan sederhana di jantung kota istimewa Yogyakarta. Cakka mendapat kabar dari ibu kost lama yang ada di Bandung. Bahwa Agni dan Elang juga keluarga tiri Cakka semua pindah. Yang ibu kost itu tau hanya Agni dan Elang saja yang ada di Yogya karna melanjutkan kuliahnya dibidang kedokteran.
Cakka melangkahkan kakinya menuju rumah itu. diketuknya bel rumah itu
Tinn tinnn
“ya sebentar” suara lelaki didalam rumah itu. Cakka sangat familiar dengan suara itu. ya, itu suara kakak tirinya. Elang
Cklekkk
Pintu itu dibuka. Elang langsung memandang Cakka dengan wajah kaget. Cakka tersenyum penuh kerinduan. Ia langsung menubruk tubuh yang lebih rendah itu darinya. Ia mendekapnya. Ia rindu padanya. Oik berlari dan memeluk Elang juga. Namun Elang tetap terpaku tak membalas pelukan adik tirinya dan sahabatnya dulu
“mas.. gue kangen loe” ucap Cakka dalam dekapan itu. Elang hanya tersenyum tipis mendengarnya. Seakan ia tak sama sekali mengenal orang dihadapannya itu
“mas.. Oik kangen mas sama Agni. Agni sekarang dimana?”Tanya Oik. Elang Nampak menampakkan gurat kesedihan. Wajahnya seperti tergambar wajah lelah dan matanya yang sayu menggambarkan kesedihan yang amat mendalam. Shilla mengamati itu dari jauh
“Cakk. Ik..” panggil Elang lirih. Cakka dan Oik melepaskan pelukannya. Kini Elang menatap mata Cakka yang sedang tersenyum bahagia ke arahnya. Elang jadi teringat seorang wanita yang selama beberapa tahun ini melengkapi hidupnya, penyemangat hidupnya, pemberi motivasi di hidupnya, menemani hidupnya
“Agni.. Agni udah meniggal” ucap Elang terbatah-batah. Cakka yang semula tersenyum langsung menggambarkan raut kekagetan
“meninggal?. Bercanda ah mas” ucap Oik. Cakka mengangguk setuju dengan ucapan Oik. Tapi hati keduanya juga seakan menjerit menyetujui kata-kata yang meluncur dari mulut Elang
“gue serius. Apa ada ekspresi guyon diwajah gue?. Gak kan. Agni udah pergi ke hadapan illahi tiga hari yang lalu” ucap Elang
JDEERRRRR
Oik langsung jatuh melemas menatap lantai. Air mata bening itu meluncur dengan derasnya dari mata lugu sang empunya. Cakka menerawang dengan tatapan kosong. Tulang-tulangnya lemas seakan dilucuti dan membuat Cakka jatuh sama seperti Oik
“Agniiiiiiii…….. kenapa loe ningalin gueee????”teriak Cakka histeris. Air mata Cakka juga tak terbendung lagi. Shilla yang ada didepan mobil menyaksikannya dengan tatapan tak percaya
***
Hening. Itulah suasana saat ini.
gundukan tanah didepan mereka yang masih basah mengiringi duka mereka mengantar seorang sahabatnya yang selama ini tanpa sadar adalah orang yang menjadi bagian dari hidup mereka, bagian dari kesuksesan mereka. Namun semuanya telah berakhir. Kini tiada lagi seorang Agni yang suka mengejek Oik dengan porsi makan Oik yang begitu banyaknya. Tak ada lagi sosok Agni yang suka meminjamkan uangnya untuk Cakka. Kini Agni yang mereka tau hanya sebuah ukiran nama indah di batu nisan yang menancap di gundukan tanah tersebut
“Ag, maafin gue.. mungkin kalau bukan karna gue, loe nggak akan pergi secepat ini. Gue bodoh Ag, gue emang bodoh. Gue lebih memilih karir dari pada orang yang jelas-jelas sangat berarti di hidup gue. Orang itu loe Ag, Agni Tri        Nubuwati yang gue tau adalah cewek yang kuat dan nggak mudah putus asa. Dan sekarang kalau gue bisa minta, gue pingin loe maafin semua kesalahan gue. Apa yang udah gue perbuat sama loe. maaf Ag..” ucap Cakka sambil mengelus dan menatap nisan Agni dengan tatapan nanar
“Ag.. gue bukan kakak yang baik buat loe. gue udah jahat sama loe. gue ninggalin loe selama bertahun-tahun Cuma demi mimpi gue. Ag, sekarang gue kembali. Gue nunggu loe. kenapa sekarang loe yang pergi?. Gue nggak nyangka Ag, segitu jahatnya kah gue sampai loe pergi tanpa pamit dan ngasih kabar gue?, kalau gue salah banyak sama loe. gue minta maaf Ag, gue nggak sanggup hidup tanpa loe. Agni item” ucap Oik disela sela tangisnya
“Ag.. mungkin, kalau bukan karna gue.. loe nggak akan seperti sekarang ini. Mungkin apabaik saja dulu gue nggak ngajak dua sahabat loe ini untuk merantau ke Jakarta. Dan kini gue nyesel Ag, gue nyesel” gantian Shilla
“Ag, makasih udah jadi orang terbaik yang pernah gue kenal. Loe anugerah terindah yang pernah gue miliki. Selamat jalan Ag, doa kami mengirimu” ucap Elang.

Dear Oik Cakka & Ashilla

Apa kabar loe semua..
baik ya.. ya pasti lah.. udah terkenal juga
Huhhh.. gue capek banget nunggu kalian
loe berdua udah ingkar janji sama gue bakal pulang
tapi penantian gue begitu panjang, sampai gue nggak kuat
Ik, Cakk..
maaf gue baru kasih tau ini sama loe berdua
gue divonis menderita penyakit radang otak
mungkin loe berdua nggak tau
gue juga baru tau setelah seminggu kepergian loe berdua
gue amat terpukul. Tapi gue tau apa yang harus gue lakukan
gue harus sabar dan nerusin sisa hidup gue menjadi seorang Agni yang loe kenang nantinya
juga Cakka, gue titip mata itu buat loe
jaga mata itu baik-baik
Shill..
Makasih ya, udah buat kedua sahabat gue sukses
gue bangga sama mereka. Juga sama loe
mungkin gue nggak seperti mereka
tapi gue yakin, semua itu adalah takdir
Dear my best friend.. Mas Elang..
Mas, makasih udah jadi yang terbaik buat Agni.
makasih banyak, berkat mas elang
Agni jadi bisa ngerasain jadi mahasiswi
Agni sayang banget sama mas Elang
Agni sayang kalian

                                                    Agni

Aku mempunyai kisah yang biasa
kisah tentang penantian panjang dan tulusnya arti persahabatan
Aku hanya sosok gadis biasa
gadis yang selama ini bahagia karna memiliki ‘sahabat’
Aku menganggapnya bintang kala aku dalam kegelapan
namun, bintang milikku perlahan meredup dan berganti matahari
Aku pergi dengan seulas senyum dibibirku
Aku persembahkan untuknya yang kini menantikanku
Namun Tuhan menjawab semuanya dengan cara mengambilku
Aku tersenyum,, senyum perpisahan untuk penantian
Ku angkatkan tanganku, inginku menggapaimu
memelukmu dan menjagamu. Namun hanya dengan bayangan semu
Ku anggap mereka selalu disampingku
Menemaniku, meski bukan celotehan nakal seperti dulu lagi
Kini aku hanya mengenangnya dengan sebaris doa untuk perjalannya
Agar ia tau, bahwa aku masih menganggapnya lebih dari segalanya

Ini hanya cerita biasa
cerita tentang penantian seorang sahabat
tapi tetap saja hanya cerita biasa

Friendship Of Eternal -Cerpen Idola Cilik 3-

Nova dan Ozy sedang melihat Rio dan Alvin sahabatnya yang tengah bermain basket dilapangan.
“Vin.. drible bolanya” teriak Rio didepan ring basket. Tanpa banyak omong lagi, Alvin langsung drible bolanya ke arah Rio dan,,
Shittt..
“yeah” teriak Rio bangga
Sementara Nova dan Ozy yang duduk dikursi penonton hanya tersenyum
“kamu kenapa sih Zy, sekarang kok nggak pernah ikut basket sama Rio Alvin?” Tanya Nova pada Ozy yang asyik memakan makanan makanan kecil
“nggak papa Nov” jawab Ozy enteng
“emang kamu nggak pingin apa, kayak kak Rio dan kak Alvin yang aktif di basket, sepak bola, musik, osis. Kamu kan pinter Zy” ucap Nova
“gini ya Nov, bukannya aku nggak mau jadi yang terbaik untuk semuanya. Tapi aku punya alasan tersendiri untuk ini” jawab Ozy. Nova hanya mengangguk
“eh Zy, minumku mana?” Tanya Alvin. Ozy mengambilkan air mineral di tasnya
“nih” Ozy menyodorkan botolnya “udah selesai mainnya?” Tanya Ozy. Alvin mengangguk
“anterin gue ke toko boneka” bisik Rio
“ikut gue ke toko hewan” bisik Alvin. Ozy mengangkat alisnya
“ngapain?” Tanya Ozy
“ssstt.. jangan keras keras” ucap Alvin mengumpat
“emang mau ngapain sih?” Tanya Ozy pelan
“ya elah Zy, lusa kan Nova ulang tahun” ucap Alvin. Ozy mengangguk “so, mau ngado apa loe?” Tanya Alvin. Ozy mengangkat bahu
~Rumah Ozy~
“papa nggak berhak ngatur hidup Ozy sama Keke lagi.” Teriak Ozy di dalam kamarnya sambil mendekap adiknya
“Ozy. Kamu itu masih anak papa. Jadi papa punya hak untuk ngatur kamu sama Keke” ucap pak Joe. Papa Ozy
“mendingan sekarang papa pergi dari sini. Apa papa udah puas bunuh mama?. Sekarang papa mau ngerebut Keke dari Ozy. Nggak pa, Ozy nggak akan biarin papa ngelukain Keke sedikitpun” ucap Ozy sambil membuka jendela kamarnya
“kak, jangan nekat” ucap Keke
“udahlah Ke, ini demi keselamatan kamu” ucap Ozy menyuruh Keke keluar dulu. Ozy menyusulnya
~Rumah Rio~
“Yo, gue titip Keke ya” ucap Ozy kembali memasang helm-nya
“loe mau kemana Zy?” Tanya Rio
“ada urusan yang harus gue selesai’in sekarang” ucap Ozy mulai menjalankan caviga putihnya
“kak Ozy, ikut” teriak Keke. Tapi motor Ozy sudah tidak terlihat lagi
“masuk dulu aja Ke, udah malem” tawar Rio. Keke mengangguk
~Dua Hari Kemudian~
“Happy Birthday Nova” ucap kedua sahabatnya. Senyum mengembang diwajahnya begitu mendapati sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka 15 dan namanya.
“kak. Ini bener buat aku?” Tanya Nova
“ya iyalah, mau buat siapa lagi” ucap Rio
“makasih ya kak” ucap Nova. Rio & Alvin mengangguk
“Nov, ada surat dari Ozy” panggil Dea teman se komplek dengan Ozy
“oh iya, thank’s ya De” Dea mengangguk
“kak, Ozy kok nggak ada sih?” Tanya Nova pada Rio & Alvin. Rio & Alvin hanya mengangkat bahu
~Taman~
Nova duduk di salah satu kursi ditaman itu ditemani Rio & Alvin. Nova mengeluarkan surat yang di berikan Dea tadi pagi
“tumben ya Ozy pakek ginian. Nggak masuk sehari aja kok pakek gini” ucap Nova sambil membuka amplopnya
-Dear Nova-
Sehari aja nggak ketemu,
Rasanya kangen banget.
Apalagi kalau nggak ketemu selamanya?
Nov, maaf ya, aku nggak sempat pamit ke kamu & yang lain. Mulai hari ini, aku ikut papa pulang ke Semarang. Kamu jangan nyari aku ya.
Huh, GR banget sih
Nov, kalau misalnya kita nggak ketemu lagi. Aku harap kamu udah bahagia sama dambaanmu.
Aku udah tau Nov, kamu suka sama Rio & Alvin.
Maaf ya, aku bukan yang terbaik buat kamu.
Sebenernya aku suka sama kamu dari dulu Nov,
dari kita pertama ketemu. Tapi, aku tau, aku bukan tipe kamu.
aku bukan cowok yang ganteng dan keren kayak Rio dan Alvin. Aku bukan anak yang aktif di basket, sepak bola, musik. Bahkan Osis. Aku bukan cowok yang sempurna dimatamu. Bahkan dimata semua orang.
Dua bulan yang lalu, aku divonis menderita penyakit kanker jaringan otak stadium dua. Aku hampir putus asa Nov, dokter bilang umurku tinggal beberapa bulan lagi. Dan., aku terpaksa ngelakuin ini semua. Karena aku nggak mau kamu lihat aku sudah tak bernyawa nanti.
Tapi kamu tenang aja, aku emang bukan pacarmu. Tapi kita tetep sahabat.
Jangan sedih lagi ya cantik/
Because we’re friendship.. is..
Friendship Of Eternal

-Ozy Ardiansyah-

Tak terasa, aliran bening menetes dari mata lugunya.
“Because we’re friendship…” ucap Nova “is..” Rio dan Alvin melanjutkannya
“Friendship of eternal” Rio dan Alvin tersenyum
“udah Nov, jangan nangis lagi” Alvin mengusap air mata Nova
“persahabatan kita yang kekal. Takkan lekang oleh waktu. Biarpun kami berpisah. Kami tetap sahabat” ucap Rio sambil memandang langit senja. Alvin & Nova tersenyum. Mereka ikut terhanyut dalam suasana itu. Langit senja itupun seakan menjadi saksi. Betapa besarnya arti persahabatan mereka.
Persahabatan Yang Kekal.


-Tamat-