..Marsha..
Kala mentari mulai
menampakkan cahayanya. Menyambut hari dengan sejuta kejutan istimewa disetiap
lembar kisahnya. Nampak seorang gadis cantik nan lugu masih menggeliat kecil di
ranjang tempat dia tidur. Ia berusaha membuka matanya yang bisa dibilang sipit
itu. Sambil mengerjapkannya beberapa kali
“jam berapa
nih?”tanyanya pada dirinya sendiri. Ia mengambil jam weker yang masih
tergeletak di meja kecil sebelah ranjangnya yang berantakan itu. ia melirik jam
putih bertuliskan nama sang empunya. Marsha. Rupannya jam masih menunjukkan
pukul 05.20. Marsha segera bangun dengan sempoyongan ia berjalan menuju kamar
mandi yang ada di pojok kamarnya itu.
..Rafly..
Sang pemuda tampan
dan manis itu sedang terduduk di balkon kamarnya bersama saudara laki-lakinya.
Sambil mendengarkan lagu-lagu yang ada di i-pond miliknya. Ia memasukkan
beberapa peralatan sekolahnya. Sosok manis, baik, tampan, sopan, perhatian dan
pintar. Itulah yang orang kenal dari sosok Rafly. Ketua osis dengan lesung di
pipinya yang membuat siswa di sekolahnya (terutama kaum hawa) sangat berdecak
kagum dengannya.
“Fattah, punya
spidol nggak?. Spidol gue ketinggalan di loker sekolah” ucap Rafly pada
sepupunya. Fattah.
“ada bang. Bentar
ya,” ucap Fattah seraya mengambil spidolnya di laci meja belajarnya “nih”
ucapnya sambil menyodorkan sebuah spidol hitam pada Rafly. Rafly menerimanya
***
“International Gold
School” itulah yang Marsha baca saat ini. Ia berada di depan sekolah barunya
persis. Lebih tepatnya ia baru masuk sebagai murid SMP. Dengan seragam biru
putih dan kotak-kotak untuk rok selututnya, ia tersenyum bahagia. Tak menyangka
ia akan bersekolah di sekolah Internasional yang selama ini ia dambakan. Ya,
berkat prestasi yang ia dapat dengan nilai yang cukup memuaskan. Ia dapat
diterima di sekolah ternama se Indonesia.
“Marshaaaa” panggil
seseorang gadis sambil berlari menghampiri Marsha. Gayanya pun tak jauh berbeda
dengannya. Dengan rambut panjangnya yang ia kuncir dua dengan pita merah khas
anak Moss yang menambah kegenitan pada gayanya itu.
“Eh, Novi.. kita
bareng lagi nih?”Tanya Marsha tak menyangka akan bareng lagi dengan sahabatnya
sejak kelas satu SD dulu. Novi.
“iya dong” jawab
Novi sambil memeluk Marsha
“emang jodoh ya
kita” ucap Marsha. Novi tersenyum
***
“eh, Sha. Loe tau
kak Rafly nggak?”Tanya Novi sambil berbisik-bisik saat berbaris karna ada
pengarahan dari osis
“nggak. Emang
siapa?. Pacar loe?”Tanya Marsha asal. Novi melengos
“ih. Nggak banget.
Emang loe nggak tau ya, kalau kak Rafly itu ketua osis kita. Katanya sih ya,
dia manis, cakep, cool. Tapi sayang. Kalau sama adek kelas, dia cenderung
galak. Ihhh… ngeri gue” cerita Novi sambil bergidik-gidik sok ngeri. Marsha
tertawa renyah melihat tingkah sahabatnya yang satu ini
“emang loe apa. Harus
ditakutin pakek ekspresi loe gitu” ucap Marsha sambil cekikikan. Novi memajukan
bibirnya beberapa senti
“ya, menurut loe
gimana?”Tanya Novi sambil mengangkat alisnya
“biasa aja tuh yang
kayak gituan. Noh, kak Bagas juga orangnya gitu” ucap Marsha sambil menyebutkan
nama kakak kandungnya. Bagas
“gitu ya,, mana enak
ya punya kakak cowok. Kak Cindai yang cewek aja udah cerewetnya setengah
mampus. Apalagi cowok” terang Novi. Marsha terkekeh
“ya gitu deh. Kak
Bagas cenderung cool bin cuek. Kalau ngomong ama dia. Serasa ngomong ama batu.
Biasanya tanggapannya Cuma hmmm, atau oh, malah kadang nggak di respon sama
sekali, terus nih ya, kak Ba..”
“HEH loe yang
disana. Cewek cerewet. Ngomong aja loe. Sini loe” ucap salah satu kakak osis
menunjuk Marsha yang tak sadar kalau dia sedang ngomong dengan kerasnya.
Padahal pengarahan sudah dimulai
“eh, aku, eh, saya
kak maksudnya?”Tanya Marsha gugup sambil menunjuk dirinya sendiri
“iya loe. Cewek
sipit, cungkring, jelek, cerewet” ucap kakak itu. Marsha melotot. “eh, tuh mata
loe di apain juga tetep aja sipit” lanjutnya dengan ekspresi Marsha itu. Marsha
hanya bisa pasrah dan menuju depan dengan gaya biasa saja “kenalin nama loe”
ucap kakak osis itu
“hai all student of
IGS. Aku Marsha” ucap Marsha dengan entengnya. Kakak osis itu langsung mangap.
Novi juga melotot dengan tingkah sahabatnya yang nggak punya rasa malu
sedikitpun itu
“aneh loe. Sebagai
hukumannya loe harus nyanyi sambil joget pakek lagu potong bebek angsa” ucap
kakak osis itu. Marsha menanggapinya hanya dengan berdehem kecil. Lalu ia
segera melaksanakan perintah. Yaitu berjoget dan bernyanyi di depan semua murid
IGS yang mendapatkan tontonan komedi gratis itu
***
“eh, Sha,, loe nggak
malu apa tadi?”Tanya Novi begitu istrirahat di kantin sekolah
“ngapain malu. Gue
cantik” jawab Marsha narsis
“ye,, nggak gitu
juga, emang muka loe mau di taro’ dimana?”Tanya Novi geregetan dengan
sahabatnya yang satu ini
“ya dibawa aja Nov”
jawab Marsha asal “eh, tapi sumpah ya, sebenernya tadi gue malu banget. tuh
anak udah nurunin martabat gue yang semula jadi Princess, sekarang jadi putri”
ucap Marsha lugu
“Marsha….. Loe belo
amat sih. Apa bedanya Princess sama Putri?”Tanya Novi sambil mengepalkan
tangannya karna saking gemasnya dengan tingkah Marsha
“tapi tetep aja”
“Heh, anak kecil.
Loe yang gue suruh nyanyi dan joget tadi kan?, nama loe siapa?” Tanya seorang
kakak osis yang (Tadi) ngerjain Marsha di lapangan
“kan udah gue
sebutin tadi, kakak killer” ucap Marsha. Cowok itu kembali melotot
“gue nanya. Tinggal
jawab apa susahnya sih” ucap cowok itu
“hmmm.. gue Marsha.
Ini Novi temen gue” ucap Marsha sambil mengenalkan Novi pada cowk itu. Novi
tersenyum tipis. Cowok itu duduk di samping meja Marsha
“oh. Marshapu,
Marshandal, Marshapi, Marshaitan” ucap cowok itu. Novi tertawa
“ih.. nyebelin amat
sih loe” ucap Marsha. Cowok itu nyengir kuda
“oke deh. Marsha.
Gue Rafly. Ketua osis di sekolah ini” ucap cowok itu yang ternyata Rafly.
“oh” jawab Marsha
cuek
“lah kok cuman Oh”
“terus dijawab apa?.
Gue perlu bilang gini, aduh, nama kakak keren banget sih. Aku jadi terkesima
deh dengan kakak. Kakak juga lucu gitu. Gitu?.. Eeeu. Gak banget” ucap Marsha
sambil bergidik
“ya gak gitu juga.
Eh, By The Way, suara loe kayak toak gitu sih” ucap Rafly. Marsha mengepalkan
tangannya. Ia geram dengan kakak osisnya yang satu ini
“biarin :p” ucap
Marsha jutek sambil menjulurkan lidahnya. Rafly tersenyum tipis
***
#Hari Kedua
@ International Gold
School
“Marsha” panggil
Rafly sambil berlari menghampiri Marsha yang tengah duduk di tepi lapangan
basket sambil memainkan gitarnya “loe ikut ekskul apa?”Tanya Rafly. Marsha
mengangkat alisnya
“apa ya… gue
pengennya sih musik. Tapi juga pengen basket” ucap Marsha. Rafly Nampak
berpikir
“gimana kalau loe
ikut ekskul musik. Tapi gue ajarin maen basket pulang sekolah. Gimana?”Tanya
Rafly. Marsha berpikir sejenak kemudian dia tersenyum
“bener nih. Mau
ngajarin gue?”Tanya Marsha. Rafly mengangguk mantab
“iya, eh, nanti sore
loe ada acara gak?”Tanya Rafly
“nggak. Emang
kenapa?”Tanya Marsha
“em.. itu.. e.. loe…
mau gak gue ajak jalan?”Tanya Rafly gugup. Marsha mengangkat satu alisnya
“kemana?”Tanya
Marsha
“kemana aja. Tapi
loe mau gak?”Tanya Rafly sekali lagi. Marsha Nampak mempertimbangkan ajakan
Rafly “gue jemput deh” lanjutnya
“hhh.. oke deh. Asal
pulangnya jangan terlalu malem” ucap Marsha. Rafly mengangguk.
“gue minta alamat
rumah loe” ucap Rafly. Marsha menggapai tangan kiri Rafly dan mengambil pena di
tasnya. Lalu ia menuliskan sederet kalimat sebuah alamat di telapak tangan
Rafly
“thank’s. Dandan yang bagus ya, biar tambah cantik” ucap Rafly lalu ngeloyor pergi. Marsha terpaku dengan kata-kata Rafly barusan
“thank’s. Dandan yang bagus ya, biar tambah cantik” ucap Rafly lalu ngeloyor pergi. Marsha terpaku dengan kata-kata Rafly barusan
***
Tinn Tinnnn
Suara klaskon mobil
terdengar di telinga Marsha yang masih Mencari baju yang pas untuk jalan bareng
Rafly
“iya iya sebentar”
teriak Marsha dari kamarnya di lantai dua rumahnya
***
“Sorry lama” ucap
Marsha keluar dengan enjoy style’s. Celana jeans selutut dengan kaos oblong
putih bergambarkan butterfly juga dengan topi kupluk pink di kepalanya dan
sepatu bertali warna putih
“eh mbak, neng
Marsha ada nggak?”Tanya Rafly yang masih duduk di kursi kemudi mobilnya pada
Marsha. Marsha mengerutkan keningnya
“eh, blo’on gue
Marsha” ucap Marsha
“ini Marsha?, mimpi
apa ya gue semalem, Marsha kok cantiknya kayak gini sih” ucap Rafly. Marsha
tersenyum sambil menunju bahu Rafly pelan
“gombal” ucapnya
“hehe, nggak kok.
Eh, masuk aja” ucap Rafly, Marsha mengangguk
***
#perjalanan
“mau kemana sih
kita?”Tanya Marsha yang mulai jenuh karena dari dua puluh menit yang lalu belum
juga sampai tujuan
“udah, diem aja.
Nanti juga tau” ucap Rafly. Marsha memalingkan wajahnya menatap hutan di
sampingnya yang ia lewati. Ia merasa asing dengan tempat ini. Marsha mulai
takut bila akan ada apa-apa dengannya. Namun tak lama kemudian mobil Rafly
berhenti. Marsha yang asyik mengotak-atik BBnya mendongak kearah luar. Ia
melihat hamparan pantai yang tak seberapa jauhnya darinya. Marsha keluar dari
mobil Rafly di ikuti Rafly
“Wahh.. pantai”
ucapnya masih takjub
“yuk kesana” ucap
Rafly. Marsha mengangguk dan segera berlari layaknya anak kecil yang rebutan
permen. Rafly tersenyum lalu mengambil gitarnya di jok belakang. Lalu ia
menghampiri Marsha
Deburan ombak seakan
menyambut mereka berdua untuk menemani indahnya sunset di pantai yang
tersendiri ini
“Aaaaaaaaaaaaa” teriak Marsha sekencang-kencangnya
“Aaaaaaaaaaaaa” teriak Marsha sekencang-kencangnya
“gimana?”Tanya Rafly
“Indah banget.
seumur hidup, gue nggak pernah tau pantai seindah ini” ucap Marsha masih takjub
akan karunia Tuhan ini “loe tau darimana pantai ini?”Tanya Marsha mengalihkan
padangannya pada Rafly yang asyik duduk di pasir putih pantai sambil memejamkan
matanya
“waktu kecil, gue
sama adek gue suka kesini. Waktu gue sedih, gue hampa, gue seneng. Gue selalu
kesini. Pantai ini jadi saksi kisah masa kecil gue yang menyenangkan. Tapi
dulu” jelas Rafly, Marsha mengerutkan kening dengan kalimat akhir Rafly barusan
“lanjutin” suruh
Marsha
“sejak gue masuk
SMP, gue nggak pernah kesini lagi. Gue benci sama pantai ini. Gue dulu pernah
janji di tempat ini bakalan jagain Oca. Tapi gue nggak bisa nepatin janji itu.
Oca meninggal karena gue. Gue ngajak dia ke pantai ini lagi. Tapi sayangnya Oca
diterpa ombak pantai ini. Dan,, waktu ditemuin Oca udah meninggal” cerita Rafly
yang tanpa sadar meneteskan air matanya. Marsha yang dengan seksama
mendengarkan cerita pilu Rafly hanya diam. Ternyata hidupnya jauh lebih
sempurna di bandingkan orang-orang disekitarnya
“Sorry ya, udah buat
loe nangis” ucap Marsha sambil mengusap air mata yang megalir membentuk dua
sungai kecil dipipi Rafly. Rafly terpaku dengan tingkah Marsha “gue yakin, adek
loe meninggal itu bukan karena pantai ini dan juga bukan karena loe. itu
kehendak takdir” ucap Marsha. Rafly berpikir sejenak. Ia mengangguk dan
tersenyum
“thank’s ya” ucap
Rafly sambil megusap air matanya sendiri “eh, gue ada gitar nih” ucap Rafly.
Marsha tersenyum “nyanyi bareng yuk” ucap Rafly. Marsha mengangguk
Rafly : Kala malam bersihkan wajahnya dari bintang-bintang
Dan mulai turun setetes air langit dari tubuhnya
Dan mulai turun setetes air langit dari tubuhnya
Marsha : Tanpa sadar nikmatnya alam karena kuasamu
Yang takkan habis sampai di akhir waktu perjalanan ini
Yang takkan habis sampai di akhir waktu perjalanan ini
Rafly + Marsha : Terima Kasihku padamu Tuhanku
Tak mungkin dapat terlukis oleh kata kata
Hanya dirimu yang tahu besar rasa cintaku padamu
Oh Tuhan anugerahmu tak pernah berhenti
Selalu datang kepadaku Tuhan semesta alam
Dan satu janjiku, Takkan berpaling darimu
Tak mungkin dapat terlukis oleh kata kata
Hanya dirimu yang tahu besar rasa cintaku padamu
Oh Tuhan anugerahmu tak pernah berhenti
Selalu datang kepadaku Tuhan semesta alam
Dan satu janjiku, Takkan berpaling darimu
Marsha : Engkau sisihkan semua arak melintang di hadapanku
Dan buat terang seluruh jalan hidupku tuk melangkah
Dan buat terang seluruh jalan hidupku tuk melangkah
Bersamaan dengan
berakhirnya lagu yang mereka lantunkan, matahari mulai mengiringi awal kisah
mereka. Marsha tersenyum dan bersandar di pundak Rafly. Rafly juga membalasnya senyuman
dan masih menyaksikan matahari yang semakin meredup itu
***
#Hari Ketiga
@ International Gold
School
Marsha berjalan
santai sambil bersenandung kecil melewati koridor sekolahnya. Sesekali ia
memperhatikan sekitarnya. Tak biasanya sekolahnya ini sepi. biasanya kakak
kelasnya selalu ramai dengan kesibukannya masing-masing sebelum jam pelajaran.
Hari ini ada yang aneh. Hanya beberapa anak seangkatannya yang baru saja datang
“Marsha…”panggil
Novi. Marsha menoleh
“eh Nov, kok tumben
sih, sepi?”Tanya Marsha
“em.. ada
pertunjukan kecil di aula” ucap Novi
“pertunjukan
apaan?”Marsha mengerutkan keningnya
“udah deh, ayo ikut”
ucap Novi sambil menggandeng tangan Marsha dan mengajaknya ke aula sekolah yang
terletak di dekat lab computer
***
“Nov.. kok sepi. mana
pertunjukannya?”Tanya Marsha begitu memasuki ruangannya. Novi tak menjawabnya.
Tiba-tiba pintu aulanya ditutup dan dikunci dari luar “Nov…Novi..buka Nov.. loe
mau bikin gue mati disini apa” teriak Marsha sambil mencoba mengetuk pintu. Ia
memang takut dengan kegelapan. Namun tak lama kemudian sebuah sorot lampu
mengarah ke arahnya. Marsha menoleh kea rah panggung dan dilihatnya sebuah
spanduk besar tertempel rapi sebagai background. Spanduk itu bertuliskan…
MARSHA, I LOVE YOU. Marsha takjub dengan ini semua. Terlebih karena hari ini ia
tak ingat hari apa. Dan menurutnya, hari ini bukan hari ulang tahunnya. Tapi
kok..
“Saat nanti kita tak bisa saling
menyentuh
Memandang wajahmu
Kuatlah sayang karena mereka
Berusaha menjauhkan kita
Memandang wajahmu
Kuatlah sayang karena mereka
Berusaha menjauhkan kita
Ku kan
selalu mencintaimu
Takkan ku bohongi hati ini
Hanya kamu yang ku mau
Cuma kamu yang ku rindukan
Saat kau tak disini” dan orang itu.. Rafli. Marsha masih takjub dengan apa yang ia lihat saat ini
Takkan ku bohongi hati ini
Hanya kamu yang ku mau
Cuma kamu yang ku rindukan
Saat kau tak disini” dan orang itu.. Rafli. Marsha masih takjub dengan apa yang ia lihat saat ini
“gue nggak
mimpikan?”Tanya Marsha lirih pada dirinya sendiri
“Marsha,
sejak aku mengenalmu, melihat wajahmu untuk pertama kalinya, mengetahui namamu,
dapat mengajakmu bicara, aku sangat senang. Aku tak bisa tidur, makan dan
malakukan aktivitas seperti biasanya. Di benakku selalu ada kamu. Kamu yang
selalu bertahta dihatiku. Tak ada yang lain. Kamu yang sudah memiliki semua
milikku. Dan kali ini.. bolehkah aku memilikimu untuk melengkapi apa yang belum
aku miliki?”Tanya Rafli. Ya,, Rafli menembak Marsha dalam tempo perkenalan yang
cukup singkat. Hanya tiga hari
Marsha masih
diam mematung dengan apa yang Rafli persembahkan untuknya barusan tadi. Apa
benar, Rafli mencintainya seperti perasaan yang baru saja tumbuh di hati kecil
Marsha itu. Marsha tak mampu menjawabnya. Lidahnya kelu. Tubuhnya beku. Ia
hanya mampu menganggukan kepala. Pertanda.. Ya.. Marsha menerima cinta Rafli
“beneran
Sha?”Tanya Rafli tak percaya. Marsha menganggukan kepalanya sekali lagi. Rafli
menurui panggung itu dan berlari kecil ke arah
Marsha dan tanpa ba bi bu lagi ia memeluk Marsha. Dan pintu aula terbuka
dengan seluruhnya. Semua murid IGS termasuk kakak kelas juga melihatnya
“cieee.
Marsha and Rafli nih. Queen and King in IGS. Peje ya Fli, Sha” ucap seorang
anak perempuan. Marsha dan Rafli yang digituin hanya bisa tersipu malu. Yang
mereka (Marsha & Rafli) tau bahwa pipi mereka sudah memerah masing-masing
!!.:.!!
TAMAT !!.:.!!



0 comments:
Post a Comment