Tuesday, April 15, 2014

Three Day's - Cerpen Idola Cilik (Rafly Marsha)

..Marsha..
Kala mentari mulai menampakkan cahayanya. Menyambut hari dengan sejuta kejutan istimewa disetiap lembar kisahnya. Nampak seorang gadis cantik nan lugu masih menggeliat kecil di ranjang tempat dia tidur. Ia berusaha membuka matanya yang bisa dibilang sipit itu. Sambil mengerjapkannya beberapa kali
“jam berapa nih?”tanyanya pada dirinya sendiri. Ia mengambil jam weker yang masih tergeletak di meja kecil sebelah ranjangnya yang berantakan itu. ia melirik jam putih bertuliskan nama sang empunya. Marsha. Rupannya jam masih menunjukkan pukul 05.20. Marsha segera bangun dengan sempoyongan ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di pojok kamarnya itu.
..Rafly..
Sang pemuda tampan dan manis itu sedang terduduk di balkon kamarnya bersama saudara laki-lakinya. Sambil mendengarkan lagu-lagu yang ada di i-pond miliknya. Ia memasukkan beberapa peralatan sekolahnya. Sosok manis, baik, tampan, sopan, perhatian dan pintar. Itulah yang orang kenal dari sosok Rafly. Ketua osis dengan lesung di pipinya yang membuat siswa di sekolahnya (terutama kaum hawa) sangat berdecak kagum dengannya.
“Fattah, punya spidol nggak?. Spidol gue ketinggalan di loker sekolah” ucap Rafly pada sepupunya. Fattah.
“ada bang. Bentar ya,” ucap Fattah seraya mengambil spidolnya di laci meja belajarnya “nih” ucapnya sambil menyodorkan sebuah spidol hitam pada Rafly. Rafly menerimanya
***
“International Gold School” itulah yang Marsha baca saat ini. Ia berada di depan sekolah barunya persis. Lebih tepatnya ia baru masuk sebagai murid SMP. Dengan seragam biru putih dan kotak-kotak untuk rok selututnya, ia tersenyum bahagia. Tak menyangka ia akan bersekolah di sekolah Internasional yang selama ini ia dambakan. Ya, berkat prestasi yang ia dapat dengan nilai yang cukup memuaskan. Ia dapat diterima di sekolah ternama se Indonesia.
“Marshaaaa” panggil seseorang gadis sambil berlari menghampiri Marsha. Gayanya pun tak jauh berbeda dengannya. Dengan rambut panjangnya yang ia kuncir dua dengan pita merah khas anak Moss yang menambah kegenitan pada gayanya itu.
“Eh, Novi.. kita bareng lagi nih?”Tanya Marsha tak menyangka akan bareng lagi dengan sahabatnya sejak kelas satu SD dulu. Novi.
“iya dong” jawab Novi sambil memeluk Marsha
“emang jodoh ya kita” ucap Marsha. Novi tersenyum
***
“eh, Sha. Loe tau kak Rafly nggak?”Tanya Novi sambil berbisik-bisik saat berbaris karna ada pengarahan dari osis
“nggak. Emang siapa?. Pacar loe?”Tanya Marsha asal. Novi melengos
“ih. Nggak banget. Emang loe nggak tau ya, kalau kak Rafly itu ketua osis kita. Katanya sih ya, dia manis, cakep, cool. Tapi sayang. Kalau sama adek kelas, dia cenderung galak. Ihhh… ngeri gue” cerita Novi sambil bergidik-gidik sok ngeri. Marsha tertawa renyah melihat tingkah sahabatnya yang satu ini
“emang loe apa. Harus ditakutin pakek ekspresi loe gitu” ucap Marsha sambil cekikikan. Novi memajukan bibirnya beberapa senti
“ya, menurut loe gimana?”Tanya Novi sambil mengangkat alisnya
“biasa aja tuh yang kayak gituan. Noh, kak Bagas juga orangnya gitu” ucap Marsha sambil menyebutkan nama kakak kandungnya. Bagas
“gitu ya,, mana enak ya punya kakak cowok. Kak Cindai yang cewek aja udah cerewetnya setengah mampus. Apalagi cowok” terang Novi. Marsha terkekeh
“ya gitu deh. Kak Bagas cenderung cool bin cuek. Kalau ngomong ama dia. Serasa ngomong ama batu. Biasanya tanggapannya Cuma hmmm, atau oh, malah kadang nggak di respon sama sekali, terus nih ya, kak Ba..”
“HEH loe yang disana. Cewek cerewet. Ngomong aja loe. Sini loe” ucap salah satu kakak osis menunjuk Marsha yang tak sadar kalau dia sedang ngomong dengan kerasnya. Padahal pengarahan sudah dimulai
“eh, aku, eh, saya kak maksudnya?”Tanya Marsha gugup sambil menunjuk dirinya sendiri
“iya loe. Cewek sipit, cungkring, jelek, cerewet” ucap kakak itu. Marsha melotot. “eh, tuh mata loe di apain juga tetep aja sipit” lanjutnya dengan ekspresi Marsha itu. Marsha hanya bisa pasrah dan menuju depan dengan gaya biasa saja “kenalin nama loe” ucap kakak osis itu
“hai all student of IGS. Aku Marsha” ucap Marsha dengan entengnya. Kakak osis itu langsung mangap. Novi juga melotot dengan tingkah sahabatnya yang nggak punya rasa malu sedikitpun itu
“aneh loe. Sebagai hukumannya loe harus nyanyi sambil joget pakek lagu potong bebek angsa” ucap kakak osis itu. Marsha menanggapinya hanya dengan berdehem kecil. Lalu ia segera melaksanakan perintah. Yaitu berjoget dan bernyanyi di depan semua murid IGS yang mendapatkan tontonan komedi gratis itu
***
“eh, Sha,, loe nggak malu apa tadi?”Tanya Novi begitu istrirahat di kantin sekolah
“ngapain malu. Gue cantik” jawab Marsha narsis
“ye,, nggak gitu juga, emang muka loe mau di taro’ dimana?”Tanya Novi geregetan dengan sahabatnya yang satu ini
“ya dibawa aja Nov” jawab Marsha asal “eh, tapi sumpah ya, sebenernya tadi gue malu banget. tuh anak udah nurunin martabat gue yang semula jadi Princess, sekarang jadi putri” ucap Marsha lugu
“Marsha….. Loe belo amat sih. Apa bedanya Princess sama Putri?”Tanya Novi sambil mengepalkan tangannya karna saking gemasnya dengan tingkah Marsha
“tapi tetep aja”
“Heh, anak kecil. Loe yang gue suruh nyanyi dan joget tadi kan?, nama loe siapa?” Tanya seorang kakak osis yang (Tadi) ngerjain Marsha di lapangan
“kan udah gue sebutin tadi, kakak killer” ucap Marsha. Cowok itu kembali melotot
“gue nanya. Tinggal jawab apa susahnya sih” ucap cowok itu
“hmmm.. gue Marsha. Ini Novi temen gue” ucap Marsha sambil mengenalkan Novi pada cowk itu. Novi tersenyum tipis. Cowok itu duduk di samping meja Marsha
“oh. Marshapu, Marshandal, Marshapi, Marshaitan” ucap cowok itu. Novi tertawa
“ih.. nyebelin amat sih loe” ucap Marsha. Cowok itu nyengir kuda
“oke deh. Marsha. Gue Rafly. Ketua osis di sekolah ini” ucap cowok itu yang ternyata Rafly.
“oh” jawab Marsha cuek
“lah kok cuman Oh”
“terus dijawab apa?. Gue perlu bilang gini, aduh, nama kakak keren banget sih. Aku jadi terkesima deh dengan kakak. Kakak juga lucu gitu. Gitu?.. Eeeu. Gak banget” ucap Marsha sambil bergidik
“ya gak gitu juga. Eh, By The Way, suara loe kayak toak gitu sih” ucap Rafly. Marsha mengepalkan tangannya. Ia geram dengan kakak osisnya yang satu ini
“biarin :p” ucap Marsha jutek sambil menjulurkan lidahnya. Rafly tersenyum tipis
***
#Hari Kedua
@ International Gold School
“Marsha” panggil Rafly sambil berlari menghampiri Marsha yang tengah duduk di tepi lapangan basket sambil memainkan gitarnya “loe ikut ekskul apa?”Tanya Rafly. Marsha mengangkat alisnya
“apa ya… gue pengennya sih musik. Tapi juga pengen basket” ucap Marsha. Rafly Nampak berpikir
“gimana kalau loe ikut ekskul musik. Tapi gue ajarin maen basket pulang sekolah. Gimana?”Tanya Rafly. Marsha berpikir sejenak kemudian dia tersenyum
“bener nih. Mau ngajarin gue?”Tanya Marsha. Rafly mengangguk mantab
“iya, eh, nanti sore loe ada acara gak?”Tanya Rafly
“nggak. Emang kenapa?”Tanya Marsha
“em.. itu.. e.. loe… mau gak gue ajak jalan?”Tanya Rafly gugup. Marsha mengangkat satu alisnya
“kemana?”Tanya Marsha
“kemana aja. Tapi loe mau gak?”Tanya Rafly sekali lagi. Marsha Nampak mempertimbangkan ajakan Rafly “gue jemput deh” lanjutnya
“hhh.. oke deh. Asal pulangnya jangan terlalu malem” ucap Marsha. Rafly mengangguk.
“gue minta alamat rumah loe” ucap Rafly. Marsha menggapai tangan kiri Rafly dan mengambil pena di tasnya. Lalu ia menuliskan sederet kalimat sebuah alamat di telapak tangan Rafly
“thank’s. Dandan yang bagus ya, biar tambah cantik” ucap Rafly lalu ngeloyor pergi. Marsha terpaku dengan kata-kata Rafly barusan
***
Tinn Tinnnn
Suara klaskon mobil terdengar di telinga Marsha yang masih Mencari baju yang pas untuk jalan bareng Rafly
“iya iya sebentar” teriak Marsha dari kamarnya di lantai dua rumahnya
***
“Sorry lama” ucap Marsha keluar dengan enjoy style’s. Celana jeans selutut dengan kaos oblong putih bergambarkan butterfly juga dengan topi kupluk pink di kepalanya dan sepatu bertali warna putih
“eh mbak, neng Marsha ada nggak?”Tanya Rafly yang masih duduk di kursi kemudi mobilnya pada Marsha. Marsha mengerutkan keningnya
“eh, blo’on gue Marsha” ucap Marsha
“ini Marsha?, mimpi apa ya gue semalem, Marsha kok cantiknya kayak gini sih” ucap Rafly. Marsha tersenyum sambil menunju bahu Rafly pelan
“gombal” ucapnya
“hehe, nggak kok. Eh, masuk aja” ucap Rafly, Marsha mengangguk
***
#perjalanan
“mau kemana sih kita?”Tanya Marsha yang mulai jenuh karena dari dua puluh menit yang lalu belum juga sampai tujuan
“udah, diem aja. Nanti juga tau” ucap Rafly. Marsha memalingkan wajahnya menatap hutan di sampingnya yang ia lewati. Ia merasa asing dengan tempat ini. Marsha mulai takut bila akan ada apa-apa dengannya. Namun tak lama kemudian mobil Rafly berhenti. Marsha yang asyik mengotak-atik BBnya mendongak kearah luar. Ia melihat hamparan pantai yang tak seberapa jauhnya darinya. Marsha keluar dari mobil Rafly di ikuti Rafly
“Wahh.. pantai” ucapnya masih takjub
“yuk kesana” ucap Rafly. Marsha mengangguk dan segera berlari layaknya anak kecil yang rebutan permen. Rafly tersenyum lalu mengambil gitarnya di jok belakang. Lalu ia menghampiri Marsha
Deburan ombak seakan menyambut mereka berdua untuk menemani indahnya sunset di pantai yang tersendiri ini
“Aaaaaaaaaaaaa” teriak Marsha sekencang-kencangnya
“gimana?”Tanya Rafly
“Indah banget. seumur hidup, gue nggak pernah tau pantai seindah ini” ucap Marsha masih takjub akan karunia Tuhan ini “loe tau darimana pantai ini?”Tanya Marsha mengalihkan padangannya pada Rafly yang asyik duduk di pasir putih pantai sambil memejamkan matanya
“waktu kecil, gue sama adek gue suka kesini. Waktu gue sedih, gue hampa, gue seneng. Gue selalu kesini. Pantai ini jadi saksi kisah masa kecil gue yang menyenangkan. Tapi dulu” jelas Rafly, Marsha mengerutkan kening dengan kalimat akhir Rafly barusan
“lanjutin” suruh Marsha
“sejak gue masuk SMP, gue nggak pernah kesini lagi. Gue benci sama pantai ini. Gue dulu pernah janji di tempat ini bakalan jagain Oca. Tapi gue nggak bisa nepatin janji itu. Oca meninggal karena gue. Gue ngajak dia ke pantai ini lagi. Tapi sayangnya Oca diterpa ombak pantai ini. Dan,, waktu ditemuin Oca udah meninggal” cerita Rafly yang tanpa sadar meneteskan air matanya. Marsha yang dengan seksama mendengarkan cerita pilu Rafly hanya diam. Ternyata hidupnya jauh lebih sempurna di bandingkan orang-orang disekitarnya
“Sorry ya, udah buat loe nangis” ucap Marsha sambil mengusap air mata yang megalir membentuk dua sungai kecil dipipi Rafly. Rafly terpaku dengan tingkah Marsha “gue yakin, adek loe meninggal itu bukan karena pantai ini dan juga bukan karena loe. itu kehendak takdir” ucap Marsha. Rafly berpikir sejenak. Ia mengangguk dan tersenyum
“thank’s ya” ucap Rafly sambil megusap air matanya sendiri “eh, gue ada gitar nih” ucap Rafly. Marsha tersenyum “nyanyi bareng yuk” ucap Rafly. Marsha mengangguk
Rafly : Kala malam bersihkan wajahnya dari bintang-bintang
            Dan mulai turun setetes air langit dari tubuhnya
Marsha : Tanpa sadar nikmatnya alam karena kuasamu
             Yang takkan habis sampai di akhir waktu perjalanan ini
Rafly + Marsha : Terima Kasihku padamu Tuhanku
                              Tak mungkin dapat terlukis oleh kata kata
                              Hanya dirimu yang tahu besar rasa cintaku padamu
                              Oh Tuhan anugerahmu tak pernah berhenti
                              Selalu datang kepadaku Tuhan semesta alam
                              Dan satu janjiku, Takkan berpaling darimu
Marsha : Engkau sisihkan semua arak melintang di hadapanku
                 Dan buat terang seluruh jalan hidupku tuk melangkah
Bersamaan dengan berakhirnya lagu yang mereka lantunkan, matahari mulai mengiringi awal kisah mereka. Marsha tersenyum dan bersandar di pundak Rafly. Rafly juga membalasnya senyuman dan masih menyaksikan matahari yang semakin meredup itu
***
#Hari Ketiga
@ International Gold School
Marsha berjalan santai sambil bersenandung kecil melewati koridor sekolahnya. Sesekali ia memperhatikan sekitarnya. Tak biasanya sekolahnya ini sepi. biasanya kakak kelasnya selalu ramai dengan kesibukannya masing-masing sebelum jam pelajaran. Hari ini ada yang aneh. Hanya beberapa anak seangkatannya yang baru saja datang
“Marsha…”panggil Novi. Marsha menoleh
“eh Nov, kok tumben sih, sepi?”Tanya Marsha
“em.. ada pertunjukan kecil di aula” ucap Novi
“pertunjukan apaan?”Marsha mengerutkan keningnya
“udah deh, ayo ikut” ucap Novi sambil menggandeng tangan Marsha dan mengajaknya ke aula sekolah yang terletak di dekat lab computer
***
“Nov.. kok sepi. mana pertunjukannya?”Tanya Marsha begitu memasuki ruangannya. Novi tak menjawabnya. Tiba-tiba pintu aulanya ditutup dan dikunci dari luar “Nov…Novi..buka Nov.. loe mau bikin gue mati disini apa” teriak Marsha sambil mencoba mengetuk pintu. Ia memang takut dengan kegelapan. Namun tak lama kemudian sebuah sorot lampu mengarah ke arahnya. Marsha menoleh kea rah panggung dan dilihatnya sebuah spanduk besar tertempel rapi sebagai background. Spanduk itu bertuliskan… MARSHA, I LOVE YOU. Marsha takjub dengan ini semua. Terlebih karena hari ini ia tak ingat hari apa. Dan menurutnya, hari ini bukan hari ulang tahunnya. Tapi kok..
Saat nanti kita tak bisa saling menyentuh
Memandang wajahmu
Kuatlah sayang karena mereka
Berusaha menjauhkan kita
Ku kan selalu mencintaimu
Takkan ku bohongi hati ini
Hanya kamu yang ku mau
Cuma kamu yang ku rindukan
Saat kau tak disini” dan orang itu.. Rafli. Marsha masih takjub dengan apa yang ia lihat saat ini
“gue nggak mimpikan?”Tanya Marsha lirih pada dirinya sendiri
“Marsha, sejak aku mengenalmu, melihat wajahmu untuk pertama kalinya, mengetahui namamu, dapat mengajakmu bicara, aku sangat senang. Aku tak bisa tidur, makan dan malakukan aktivitas seperti biasanya. Di benakku selalu ada kamu. Kamu yang selalu bertahta dihatiku. Tak ada yang lain. Kamu yang sudah memiliki semua milikku. Dan kali ini.. bolehkah aku memilikimu untuk melengkapi apa yang belum aku miliki?”Tanya Rafli. Ya,, Rafli menembak Marsha dalam tempo perkenalan yang cukup singkat. Hanya tiga hari
Marsha masih diam mematung dengan apa yang Rafli persembahkan untuknya barusan tadi. Apa benar, Rafli mencintainya seperti perasaan yang baru saja tumbuh di hati kecil Marsha itu. Marsha tak mampu menjawabnya. Lidahnya kelu. Tubuhnya beku. Ia hanya mampu menganggukan kepala. Pertanda.. Ya.. Marsha menerima cinta Rafli
“beneran Sha?”Tanya Rafli tak percaya. Marsha menganggukan kepalanya sekali lagi. Rafli menurui panggung itu dan berlari kecil ke arah  Marsha dan tanpa ba bi bu lagi ia memeluk Marsha. Dan pintu aula terbuka dengan seluruhnya. Semua murid IGS termasuk kakak kelas juga melihatnya
“cieee. Marsha and Rafli nih. Queen and King in IGS. Peje ya Fli, Sha” ucap seorang anak perempuan. Marsha dan Rafli yang digituin hanya bisa tersipu malu. Yang mereka (Marsha & Rafli) tau bahwa pipi mereka sudah memerah masing-masing


                                        !!.:.!! TAMAT !!.:.!!

0 comments:

Post a Comment