“Aku mengamatinya dari
jauh, mengamati wajah indah yang dulu pernah singgah dihidupku. Yang pernah
mengisi kosongnya hatiku. Yang melengkapi setiap kekuranganku. Yang mengertiku
dan selalu begitu. Namun kini dia bagaikan hiasan dihidupku. Aku yang berjalan,
dia yang diam. Aku yang diam, dia yang berjalan. Aku tak pernah bisa
mengungkapkan rasa ini. Apa yang aku pikirkan semuanya sulit untuk dilakukan
kembali. Dia bukan lagi milikku. Dia telah ada yang memiliki. Aku hanya bisa berdoa
pada Tuhan agar kebahagiaan itu akan berpihak padanya. Pada orang yang
terlanjur membuat hatiku mencair dan tak bisa membeku lagi”
…
“Bukan, bukan aku tak
cinta lagi padanya. Sebetulnya, rasaku ini masih sama seperti dulu, bahkan
mungkin lebih dalam. Hanya saja, waktu yang terlalu kejam padaku. Ia memaksaku
untuk tetap tinggal pada hati lain. Tapi sejujurnya bukan hati yang lain ini
yang menjadi perasaanku. Aku benar2 terpaksa harus meninggalkannya.
Harus merelakan perasaan yang kian menggebu dan ingin segera dituangkan lewat
kebersamaan kecil seperti dulu lagi. Tapi, seharusnya aku tak pantas berpikir
seperti ini. Karena memang aku bukan lagi miliknya. Mungkin kini dia telah
bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Dan mungkin juga, pengganti yang lebih baik
dariku, telah ia temukan untuk mendampingi hidupnya”
***
==2014==
Chelsea melipat kertas
kecil yang baru saja ia tulis. Ia menengok kebelakang bangkunya. Temannya itu
masih sibuk dengan buku harian yang sengaja ia tutupi agar Chelsea tak
mengetahuinya.
“Masih lama nggak sih?”
Tanya Chelsea gusar
“Aduh bentar, ini tinggal
dikit kok. Kalau mau duluan ya duluan aja sana” kata temannya
“Minat banget ya jadi
sastrawan?” Tanya Chelsea lagi sambil mengeluarkan kotak bekal dari dalam
ransel jingganya. Temannya yang berkulit coklat itu hanya tersenyum
menanggapinya.
“Ya elah, ya sama aja
kali’. Secara gue kan ganteng, jadi tuh junior yang baru lihat pada pingsan
deh” sayup-sayup Chelsea dan temannya itu mendengar suara serak dari luar kelas
mereka
“Bagas ya?” Tanya teman
Chelsea
“Iya. Siapa lagi? cowok lo
yang sok keren itu?” kata Chelsea sambil melengos
“Biar gitu dia cowok gue
kan. Gue nggak akan pernah lepasin dia. Karna… dia bukan tahanan. Hehe” Gadis
berambut panjang dengan kuncir yang mengikat rambut hitamnya itu berlari duluan
meninggalkan Chelsea yang asyik melahap kuenya
“Eh, Ndai Ndai, tungguin
gue”
***
==2016==
“Aku masih berusaha
mungkin agar tanganku tak menariknya kedalam pelukanku. Dia, kini telah hidup
bahagia dengan kekasihnya yang baru. Kekasihnya yang dulu kukenal sebagi orang
yang sangat dekat denganku. Orang yang kemana-mana selalu bersamaku. Namun
kini, dibalik itu semua. Ternyata wanita itu mempunyai niat yang busuk padaku.
Dia merebut orang yang begitu kucintai. Yang selama itu selalu ada diantara
kami sebagai pelindung. Namun kini, bukan kita lagi”
“Cindai” panggil seseorang
dari belakang gadis manis berambut panjang dengan pita putih terpajang diatas
rambutnya
“Salma” balas gadis
bernama Cindai itu sambil menyunggungkan seulas senyum manisnya
“Aku kirain kamu udah
pulang. Ternyata masih disini” kata temannya yang memiliki suara serak itu
“Nggak mungkinlah aku
pulang, aku pasti nungguin sahabatku yang jelek ini” Cindai berdiri dan
menyamakan langkahnya dengan langkah Salma
“Haha.. kamu ini bisa aja”
Cindai dan Salma berjalan menuju parkiran yang ada didepan sekolah. Tentunya
melewati ruangan musik yang berada tak jauh dari halaman depan. Langkah Cindai
dan Salma begitu saja berhenti begitu melihat seorang pria tampan dengan sebuah
gitar ditangannya. Ia menutup pintu ruangan musik.
“Bagas” panggil Salma.
Pria itu menoleh. Dan.. ketika mata berparas tajam itu bertemu dengan sepasang
mata kejora Cindai, semuanya seakan terputar kembali kemasa lalu mereka. Masa
dimana semua masih baik-baik saja. Masa dimana kebersamaan itu selalu mereka
jalani bersama.
Cindai terdiam lama dalam
posisinya. Begitu juga Bagas. Tak peduli suara Salma yang sedari tadi berusaha
membangunkan salah satu diantaranya dengan kibasan tangan. Perasaan itu
sungguhlah masih ada. Tak pernah hilang. Bahkan semakin bertambah. Bergejolak
pula rindu diantara mereka. Namun sama-sama tertutupi. Tak mau ada yang
mengakui. Karena bagi mereka, mengakui sama saja dengan membuat semuanya
semakin runyam
“Gas..”
“Eh,, em.. i.. iya kenapa
Sal?” Tanya Bagas begitu tersadar dari lamunannya. Ia memalingkan matanya dari
Cindai. Beralih menatap wajah Salma. Namun sesekali Ia mencuri pandang pada
Cindai yang hanya memasang wajah datar. Tak menggambarkan apapun
***
-2024-
Keduanya sama-sama
terdiam. Mengikuti irama aliran sungai yang tenang. Tak mengatakan apapun.
Jarak yang tak begitu jauh yang mungkin membuat keduanya tak mau memecahkan
keheningan terlebih dulu.
“Ndai” panggilnya. Cindai
menoleh sebentar. Gadis berkacamata berbingkai hitam dengan jaket putih yang
menghiasi tubuh tinggi jenjangnya yang kini tengah merintis karir sebagai
seorang novelis muda.
“Hmm” respon Cindai
“Gue Cuma mau ngasih ini”
Bagas mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya dan memberikannya pada Cindai.
Cindai menerimanya. Dengan perasaan yang agaknya bergetar, Cindai membaca
kertas berwarna biru itu
“Selamat menempuh hidup
baru ya Gas” kata Cindai sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang
ia gunakan untuk menutupi perihnya hatinya yang sedang berteriak. Begitu juga
dengan Bagas. Bagas diam. Tak rela jika benda itu sampai ditangan orang selalu
memiliki hatinya. Orang yang tak pernah ia lupakan sampai kapanpun.
“Makasih Ndai” jawab Bagas
sambil tersenyum getir.
***
2026
“12 tahun yang lalu,
mungkin bukan waktu yang sebentar ketika aku harus mengenalnya dan menjalin
hubungan dengannya. Aku menikmati itu semua. Aku seolah tak ingin
kehilangannya. Aku dan dia selalu bersama dan tak akan pernah terpisah. Tapi,
takdir Tuhan mengatakan hal lain. Aku dengannya tidak ditakdirkan untuk
bersatu. Sosok yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatku. Orang yang paling
mengerti keadaanku. Kini telah bahagia bersamanya. Dengan seorang buah hati
yang melengkapi rumah tangga mereka. Aku hanya bisa tersenyum. Meski pedih. Dan
mungkin jalan Tuhan juga begitu. Kini, aku ada didalam mobil pribadiku. Dua
polisi mengawalku dari belakang dengan sepeda motornya.
Ini aku yang sekarang. Cindai Gloria. Nama yang sukses menggebrak dunia perfilman dan sastra. Aku kini menjadi seorang penulis dan pemain film. Ya, mungkin tak banyak hal yang kupikirkan tentangnya selama aku sibuk dengan karirku. Namun, hari ini juga. Jam ini juga. Aku akan mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan. Dihadapan semua orang yang menjadi saksi. Janji yang kuikrarkan bukanlah yang sebenarnya. Hanya suatu kalimat yang merka anggap begitu suci. Yang menjadi pelarian dari Rasa Yang Tertinggal pada seseorang yang namanya takkan pernah kulupakan dihidupku. Bagas”
Ini aku yang sekarang. Cindai Gloria. Nama yang sukses menggebrak dunia perfilman dan sastra. Aku kini menjadi seorang penulis dan pemain film. Ya, mungkin tak banyak hal yang kupikirkan tentangnya selama aku sibuk dengan karirku. Namun, hari ini juga. Jam ini juga. Aku akan mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan. Dihadapan semua orang yang menjadi saksi. Janji yang kuikrarkan bukanlah yang sebenarnya. Hanya suatu kalimat yang merka anggap begitu suci. Yang menjadi pelarian dari Rasa Yang Tertinggal pada seseorang yang namanya takkan pernah kulupakan dihidupku. Bagas”








