Friday, May 30, 2014

Rasa Yang Tertinggal -cerpen idola cilik BADAI-

“Aku mengamatinya dari jauh, mengamati wajah indah yang dulu pernah singgah dihidupku. Yang pernah mengisi kosongnya hatiku. Yang melengkapi setiap kekuranganku. Yang mengertiku dan selalu begitu. Namun kini dia bagaikan hiasan dihidupku. Aku yang berjalan, dia yang diam. Aku yang diam, dia yang berjalan. Aku tak pernah bisa mengungkapkan rasa ini. Apa yang aku pikirkan semuanya sulit untuk dilakukan kembali. Dia bukan lagi milikku. Dia telah ada yang memiliki. Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan agar kebahagiaan itu akan berpihak padanya. Pada orang yang terlanjur membuat hatiku mencair dan tak bisa membeku lagi”
“Bukan, bukan aku tak cinta lagi padanya. Sebetulnya, rasaku ini masih sama seperti dulu, bahkan mungkin lebih dalam. Hanya saja, waktu yang terlalu kejam padaku. Ia memaksaku untuk tetap tinggal pada hati lain. Tapi sejujurnya bukan hati yang lain ini yang menjadi perasaanku. Aku benar2 terpaksa harus meninggalkannya. Harus merelakan perasaan yang kian menggebu dan ingin segera dituangkan lewat kebersamaan kecil seperti dulu lagi. Tapi, seharusnya aku tak pantas berpikir seperti ini. Karena memang aku bukan lagi miliknya. Mungkin kini dia telah bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Dan mungkin juga, pengganti yang lebih baik dariku, telah ia temukan untuk mendampingi hidupnya”
***
==2014==
Chelsea melipat kertas kecil yang baru saja ia tulis. Ia menengok kebelakang bangkunya. Temannya itu masih sibuk dengan buku harian yang sengaja ia tutupi agar Chelsea tak mengetahuinya.
“Masih lama nggak sih?” Tanya Chelsea gusar
“Aduh bentar, ini tinggal dikit kok. Kalau mau duluan ya duluan aja sana” kata temannya
“Minat banget ya jadi sastrawan?” Tanya Chelsea lagi sambil mengeluarkan kotak bekal dari dalam ransel jingganya. Temannya yang berkulit coklat itu hanya tersenyum menanggapinya.
“Ya elah, ya sama aja kali’. Secara gue kan ganteng, jadi tuh junior yang baru lihat pada pingsan deh” sayup-sayup Chelsea dan temannya itu mendengar suara serak dari luar kelas mereka
“Bagas ya?” Tanya teman Chelsea
“Iya. Siapa lagi? cowok lo yang sok keren itu?” kata Chelsea sambil melengos
“Biar gitu dia cowok gue kan. Gue nggak akan pernah lepasin dia. Karna… dia bukan tahanan. Hehe” Gadis berambut panjang dengan kuncir yang mengikat rambut hitamnya itu berlari duluan meninggalkan Chelsea yang asyik melahap kuenya
“Eh, Ndai Ndai, tungguin gue”
***
==2016==
“Aku masih berusaha mungkin agar tanganku tak menariknya kedalam pelukanku. Dia, kini telah hidup bahagia dengan kekasihnya yang baru. Kekasihnya yang dulu kukenal sebagi orang yang sangat dekat denganku. Orang yang kemana-mana selalu bersamaku. Namun kini, dibalik itu semua. Ternyata wanita itu mempunyai niat yang busuk padaku. Dia merebut orang yang begitu kucintai. Yang selama itu selalu ada diantara kami sebagai pelindung. Namun kini, bukan kita lagi”
“Cindai” panggil seseorang dari belakang gadis manis berambut panjang dengan pita putih terpajang diatas rambutnya
“Salma” balas gadis bernama Cindai itu sambil menyunggungkan seulas senyum manisnya
“Aku kirain kamu udah pulang. Ternyata masih disini” kata temannya yang memiliki suara serak itu
“Nggak mungkinlah aku pulang, aku pasti nungguin sahabatku yang jelek ini” Cindai berdiri dan menyamakan langkahnya dengan langkah Salma
“Haha.. kamu ini bisa aja” Cindai dan Salma berjalan menuju parkiran yang ada didepan sekolah. Tentunya melewati ruangan musik yang berada tak jauh dari halaman depan. Langkah Cindai dan Salma begitu saja berhenti begitu melihat seorang pria tampan dengan sebuah gitar ditangannya. Ia menutup pintu ruangan musik.
“Bagas” panggil Salma. Pria itu menoleh. Dan.. ketika mata berparas tajam itu bertemu dengan sepasang mata kejora Cindai, semuanya seakan terputar kembali kemasa lalu mereka. Masa dimana semua masih baik-baik saja. Masa dimana kebersamaan itu selalu mereka jalani bersama.
Cindai terdiam lama dalam posisinya. Begitu juga Bagas. Tak peduli suara Salma yang sedari tadi berusaha membangunkan salah satu diantaranya dengan kibasan tangan. Perasaan itu sungguhlah masih ada. Tak pernah hilang. Bahkan semakin bertambah. Bergejolak pula rindu diantara mereka. Namun sama-sama tertutupi. Tak mau ada yang mengakui. Karena bagi mereka, mengakui sama saja dengan membuat semuanya semakin runyam
“Gas..”
“Eh,, em.. i.. iya kenapa Sal?” Tanya Bagas begitu tersadar dari lamunannya. Ia memalingkan matanya dari Cindai. Beralih menatap wajah Salma. Namun sesekali Ia mencuri pandang pada Cindai yang hanya memasang wajah datar. Tak menggambarkan apapun
***
-2024-
Keduanya sama-sama terdiam. Mengikuti irama aliran sungai yang tenang. Tak mengatakan apapun. Jarak yang tak begitu jauh yang mungkin membuat keduanya tak mau memecahkan keheningan terlebih dulu.
“Ndai” panggilnya. Cindai menoleh sebentar. Gadis berkacamata berbingkai hitam dengan jaket putih yang menghiasi tubuh tinggi jenjangnya yang kini tengah merintis karir sebagai seorang novelis muda.
“Hmm” respon Cindai
“Gue Cuma mau ngasih ini” Bagas mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya dan memberikannya pada Cindai. Cindai menerimanya. Dengan perasaan yang agaknya bergetar, Cindai membaca kertas berwarna biru itu
“Selamat menempuh hidup baru ya Gas” kata Cindai sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang ia gunakan untuk menutupi perihnya hatinya yang sedang berteriak. Begitu juga dengan Bagas. Bagas diam. Tak rela jika benda itu sampai ditangan orang selalu memiliki hatinya. Orang yang tak pernah ia lupakan sampai kapanpun.
“Makasih Ndai” jawab Bagas sambil tersenyum getir.
***
2026

“12 tahun yang lalu, mungkin bukan waktu yang sebentar ketika aku harus mengenalnya dan menjalin hubungan dengannya. Aku menikmati itu semua. Aku seolah tak ingin kehilangannya. Aku dan dia selalu bersama dan tak akan pernah terpisah. Tapi, takdir Tuhan mengatakan hal lain. Aku dengannya tidak ditakdirkan untuk bersatu. Sosok yang dulu pernah menjadi sahabat terdekatku. Orang yang paling mengerti keadaanku. Kini telah bahagia bersamanya. Dengan seorang buah hati yang melengkapi rumah tangga mereka. Aku hanya bisa tersenyum. Meski pedih. Dan mungkin jalan Tuhan juga begitu. Kini, aku ada didalam mobil pribadiku. Dua polisi mengawalku dari belakang dengan sepeda motornya.
Ini aku yang sekarang. Cindai Gloria. Nama yang sukses menggebrak dunia perfilman dan sastra. Aku kini menjadi seorang penulis dan pemain film. Ya, mungkin tak banyak hal yang kupikirkan tentangnya selama aku sibuk dengan karirku. Namun, hari ini juga. Jam ini juga. Aku akan mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan. Dihadapan semua orang yang menjadi saksi. Janji yang kuikrarkan bukanlah yang sebenarnya. Hanya suatu kalimat yang merka anggap begitu suci. Yang menjadi pelarian dari Rasa Yang Tertinggal pada seseorang yang namanya takkan pernah kulupakan dihidupku. Bagas”

0 comments:

Post a Comment