Friday, May 9, 2014

Bukanlah Aku Harapanmu -Cerpen Idola Cilik Ocha & Raycha-

Panas mentari siang ini yang membakar kulitku, ikut pula membakar serpihan kenangan tentang aku, kamu, dan dirinya dulu. Saat mana kita dulu bermain bersama diatas deburan ombak pantai senja. Saat kita beramai-ramai rayakan kelulusan SMP pada hembusan angin salju di Osaka. Saat keringat setelah perjuangan Mos terakhir menjadi saksi bisu dimana cerita ini dimulai.
Aku menarik nafas sejenak. Mengamati wajahmu yang semakin hari tampak semakin lelah. Tulang-tulang diwajahmu seolah menonjol, ikut mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Hembusan nafas pelanmu menjadi kunci khawatirku. Tapi aku menutupinya. Entahlah.. harus bagaimana lagi aku mengatakannya. Sementara batinku telah tersiksa oleh sejuta bingkisan pahit dari Tuhan yang tak henti hentinya memukul hatiku.
Aku sudah lelah menangisinya. Aku sudah lelah menyebut namanya. Aku sudah lelah membiarkanmu mencari jati diriku yang lama menghilang dari hadapanmu. Aku sudah lelah.
“kau merokok?” tanyaku memecah keheningan. Kamu hanya diam. “Katakan padaku apa yang telah kau perbuat Ray?” paksaku tajam. Namun kau hanya membalasnya dengan gelengan kecil. Arghh.. benar-benar menggeramkan.
“Aku tak pernah merokok Cha, dan.. aku tak pernah membunuhnya” ucapnya pelan. Aku memalingkan wajahku darinya. Membiarkan angin malam kota Bandung menusuk persendian tubuhku. Dan tubuh kurusnya.
“Sudahlah, kau tak usah bersandiwara lagi padaku Ray. Selama aku pergi ke Darwin, kau kan yang membunuhnya ? Kau yang mengajaknya balapan liar di tempat laknat itu. Kau pembunuh Ray. Kau pembunuh..” ucapku masih berusaha menahan emosi
“Aku tak pernah mengajaknya balapan Cha, kau salah paham, Ozy pergi karena dia sakit. Aku.. tak pernah membunuhnya”
“bullshit kamu itu. Omonganmu itu basi. Nggak bisa dipercaya” aku berdiri. Amarahku benar-benar meluap. Entahlah, apa yang kulakukan saat ini.
“tapi Cha, aku nggak per..”
Plakkk
Telak. Tamparan itu mendarat mulus dipipinya. Ray memegang pipinya pelan. Tak terlalu keras memang bagi pria bela diri sepertinya. Tapi entah mengapa tanganku seakan menjadi batu besar yang mengenai wajah Ray. Aku merasakannya juga. Aku yang menyesalinya.
“Aku nggak akan pernah percaya sama kata-kata busukmu itu”
***
Waktu berjalan sesuai rencana Tuhan. Tapi tidak dengan rencana Acha. Gadis cantik yang merencanakan kebahagiaan serta mimpi bersama kedua sahabat karibnya itu lenyap begitu saja.
Empat hari sudah Acha tidak melihat wajah Ray di sekolah. Teman-teman kelas Ray berkata, Ray absen selama empat hari ini. Acha hanya menghela nafas. Batinnya seolah berkata ada yang janggal dengan keadaan ini. Hatinya merutuki apa yang telah ia lakukan lima hari yang lalu. Tapi, Acha masih ingin meredam amarahnya dengan tidak bertemu Ray. Tapi mengapa, rasa rindu yang menyeruak ingin menuntunnya untuk menemui Ray.
Acha berjalan disekitar depan rumah Ray. Rumah itu sepi. Seperti tak berpenghuni. Sudah beberapa menit ia disana. Namun tak kunjung ada tanda-tanda jika ada orang disana.
Baru saja hendak Acha meninggalkan rumah itu. pagar yang menutupi rumah itu perlahan terbuka. Acha segera berlari mencari tempat yang aman. Bersembunyi dibalik pohon mahoni yang berjajar disekitarnya.
Sosok yang tak asing lagi dimata Acha itu keluar dari rumah Ray. Acha diam. Jantungnya berdegup cepat. kaki dan tangannya bergetar. Apa maksudnya ini ?
“Z.. Zy..” panggil Acha agak keras. Dengan wajah tidak yakin juga. Tubuh itu berbalik. Mendapati Acha berdiri tegak yang sudah muncul dari tempat persembunyiannya. Mata indah nan lugu itu menatapAcha kaget.
***
“Nggak pernah Cha. Aku nggak pernah mati. Aku yang buat permainan ini Cha” kata Ozy pelan. Suasana sepi senja di danau membuat suara Ozy terdengar jelas di telinga Acha
“kenapa Zy ? kenapa ?” Tanya Acha. Matanya sudah berkaca-kaca. Sebisa mungkin ia tahan riak air matanya yang ingin segera luruh.
“Ray yang menginginkannya. Ray yang ingin bersamamu disaat terakhirnya”
“maksud kamu?”
“Semua yang Ray katakan itu yang berbalik Cha. Aku nggak sakit, dia yang sakit” jeda Ray. Ekspresi Acha berubah “sakit parah Cha, Leukimia” lanjut Ozy lirih. Kali ini air mata Acha benar-benar luruh.
“Dimana Ray ? Dimana?” teriak Acha
“Dia..”
***
Untukmu, Acha Raissa sahabatku
Entahlah, apa yang harus kukatakan pada surat ini.
yang jelas tak banyak. Karena aku bukalah seorang sastrawan layaknya penyair kesukaanmu.
aku bingung, aku sedih, aku ragu, aku takut.
Acha..
apa kau sudah tau ? bahwa Ozy belum pergi
haha, aku sudah pandai mengarang rupanya
Cha, apa kini sudah kau tau ? aku bukalah pembunuh.
aku tak juga membuat Ozy meninggal
tapi aku yang akan meninggal.
Cha, aku harapkan kamu tak pernah menyesal akan ini semua.
aku melakukannya hanya untuk sekejab. Tak selamanya.
waktuku sedikit. Dan secepat itu pula kau membenciku.
Baiklah, aku pantas untuk dibenci.
Anggaplah aku pembunuh, anggap kata-kataku busuk.
Asal kau bahagia, akan kehadiran orang yang kau sayangi. Ozy.
Jaga baik-baik persahabatan kita.


                                                                         Ray Prasetya

 #Ray

 Acha

Ozy

0 comments:

Post a Comment