Panas mentari siang ini
yang membakar kulitku, ikut pula membakar serpihan kenangan tentang aku, kamu, dan
dirinya dulu. Saat mana kita dulu bermain bersama diatas deburan ombak pantai
senja. Saat kita beramai-ramai rayakan kelulusan SMP pada hembusan angin salju
di Osaka. Saat keringat setelah perjuangan Mos terakhir menjadi saksi bisu
dimana cerita ini dimulai.
Aku menarik nafas sejenak.
Mengamati wajahmu yang semakin hari tampak semakin lelah. Tulang-tulang
diwajahmu seolah menonjol, ikut mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Hembusan
nafas pelanmu menjadi kunci khawatirku. Tapi aku menutupinya. Entahlah.. harus
bagaimana lagi aku mengatakannya. Sementara batinku telah tersiksa oleh sejuta
bingkisan pahit dari Tuhan yang tak henti hentinya memukul hatiku.
Aku sudah lelah
menangisinya. Aku sudah lelah menyebut namanya. Aku sudah lelah membiarkanmu
mencari jati diriku yang lama menghilang dari hadapanmu. Aku sudah lelah.
“kau merokok?” tanyaku
memecah keheningan. Kamu hanya diam. “Katakan padaku apa yang telah kau perbuat
Ray?” paksaku tajam. Namun kau hanya membalasnya dengan gelengan kecil. Arghh..
benar-benar menggeramkan.
“Aku tak pernah merokok
Cha, dan.. aku tak pernah membunuhnya” ucapnya pelan. Aku memalingkan wajahku
darinya. Membiarkan angin malam kota Bandung menusuk persendian tubuhku. Dan
tubuh kurusnya.
“Sudahlah, kau tak usah
bersandiwara lagi padaku Ray. Selama aku pergi ke Darwin, kau kan yang
membunuhnya ? Kau yang mengajaknya balapan liar di tempat laknat itu. Kau pembunuh
Ray. Kau pembunuh..” ucapku masih berusaha menahan emosi
“Aku tak pernah
mengajaknya balapan Cha, kau salah paham, Ozy pergi karena dia sakit. Aku.. tak
pernah membunuhnya”
“bullshit kamu itu.
Omonganmu itu basi. Nggak bisa dipercaya” aku berdiri. Amarahku benar-benar
meluap. Entahlah, apa yang kulakukan saat ini.
“tapi Cha, aku nggak
per..”
Plakkk
Telak. Tamparan itu
mendarat mulus dipipinya. Ray memegang pipinya pelan. Tak terlalu keras memang
bagi pria bela diri sepertinya. Tapi entah mengapa tanganku seakan menjadi batu
besar yang mengenai wajah Ray. Aku merasakannya juga. Aku yang menyesalinya.
“Aku nggak akan pernah
percaya sama kata-kata busukmu itu”
***
Waktu berjalan sesuai
rencana Tuhan. Tapi tidak dengan rencana Acha. Gadis cantik yang merencanakan
kebahagiaan serta mimpi bersama kedua sahabat karibnya itu lenyap begitu saja.
Empat hari sudah Acha
tidak melihat wajah Ray di sekolah. Teman-teman kelas Ray berkata, Ray absen
selama empat hari ini. Acha hanya menghela nafas. Batinnya seolah berkata ada
yang janggal dengan keadaan ini. Hatinya merutuki apa yang telah ia lakukan
lima hari yang lalu. Tapi, Acha masih ingin meredam amarahnya dengan tidak
bertemu Ray. Tapi mengapa, rasa rindu yang menyeruak ingin menuntunnya untuk
menemui Ray.
Acha berjalan disekitar
depan rumah Ray. Rumah itu sepi. Seperti tak berpenghuni. Sudah beberapa menit
ia disana. Namun tak kunjung ada tanda-tanda jika ada orang disana.
Baru saja hendak Acha
meninggalkan rumah itu. pagar yang menutupi rumah itu perlahan terbuka. Acha
segera berlari mencari tempat yang aman. Bersembunyi dibalik pohon mahoni yang
berjajar disekitarnya.
Sosok yang tak asing lagi
dimata Acha itu keluar dari rumah Ray. Acha diam. Jantungnya berdegup cepat.
kaki dan tangannya bergetar. Apa maksudnya ini ?
“Z.. Zy..” panggil Acha
agak keras. Dengan wajah tidak yakin juga. Tubuh itu berbalik. Mendapati Acha
berdiri tegak yang sudah muncul dari tempat persembunyiannya. Mata indah nan
lugu itu menatapAcha kaget.
***
“Nggak pernah Cha. Aku
nggak pernah mati. Aku yang buat permainan ini Cha” kata Ozy pelan. Suasana
sepi senja di danau membuat suara Ozy terdengar jelas di telinga Acha
“kenapa Zy ? kenapa ?”
Tanya Acha. Matanya sudah berkaca-kaca. Sebisa mungkin ia tahan riak air
matanya yang ingin segera luruh.
“Ray yang menginginkannya.
Ray yang ingin bersamamu disaat terakhirnya”
“maksud kamu?”
“Semua yang Ray katakan
itu yang berbalik Cha. Aku nggak sakit, dia yang sakit” jeda Ray. Ekspresi Acha
berubah “sakit parah Cha, Leukimia” lanjut Ozy lirih. Kali ini air mata Acha
benar-benar luruh.
“Dimana Ray ? Dimana?”
teriak Acha
“Dia..”
***
Untukmu, Acha Raissa sahabatku
Entahlah, apa yang harus kukatakan pada surat ini.
yang jelas tak banyak. Karena aku bukalah seorang sastrawan layaknya penyair kesukaanmu.
aku bingung, aku sedih, aku ragu, aku takut.
Acha..
apa kau sudah tau ? bahwa Ozy belum pergi
haha, aku sudah pandai mengarang rupanya
Cha, apa kini sudah kau tau ? aku bukalah pembunuh.
aku tak juga membuat Ozy meninggal
tapi aku yang akan meninggal.
Cha, aku harapkan kamu tak pernah menyesal akan ini semua.
aku melakukannya hanya untuk sekejab. Tak selamanya.
waktuku sedikit. Dan secepat itu pula kau membenciku.
Baiklah, aku pantas untuk dibenci.
Anggaplah aku pembunuh, anggap kata-kataku busuk.
Asal kau bahagia, akan kehadiran orang yang kau sayangi. Ozy.
Jaga baik-baik persahabatan kita.
yang jelas tak banyak. Karena aku bukalah seorang sastrawan layaknya penyair kesukaanmu.
aku bingung, aku sedih, aku ragu, aku takut.
Acha..
apa kau sudah tau ? bahwa Ozy belum pergi
haha, aku sudah pandai mengarang rupanya
Cha, apa kini sudah kau tau ? aku bukalah pembunuh.
aku tak juga membuat Ozy meninggal
tapi aku yang akan meninggal.
Cha, aku harapkan kamu tak pernah menyesal akan ini semua.
aku melakukannya hanya untuk sekejab. Tak selamanya.
waktuku sedikit. Dan secepat itu pula kau membenciku.
Baiklah, aku pantas untuk dibenci.
Anggaplah aku pembunuh, anggap kata-kataku busuk.
Asal kau bahagia, akan kehadiran orang yang kau sayangi. Ozy.
Jaga baik-baik persahabatan kita.
Ray Prasetya






0 comments:
Post a Comment