Aku membuka jendela kamarku. Suara gerimis senin pagi
ikut menyertai kegundahanku saat ini. Entahlah, mengapa begitu sulit ku
melupakannya. Melupakan semua kenangan pahit dan manis saat bersamanya dulu.
Sayangnya itu dulu, bukan sekarang. Saat aku telah mengerti,
dia tidaklah mencintaiku dengan segenap hatinya. Melainkan hanya menjadikanku
pelarian semata.
Sementara aku ? Aku begitu mencintainya. Aku begitu menyayanginya. Aku mungkin egois mengharapkannya bersamaku lagi. Padahal hatinya sama sekali tak mengharapkanku. Huh..
Sementara aku ? Aku begitu mencintainya. Aku begitu menyayanginya. Aku mungkin egois mengharapkannya bersamaku lagi. Padahal hatinya sama sekali tak mengharapkanku. Huh..
Aku tak seharusnya memikirkannya lagi. Masih ada banyak
orang yang menyayangiku. Bukan hanya dia.
"Shilla.." panggil suara berat itu. Aku menoleh.
Seorang pria remaja duduk di kursi roda. Senyumnya tulus. Seolah menghapus
perlahan bait kesedihanku. Dia.. kak Rio, Sahabatku. Ia divonis kanker tulang
sejak duduk di bangku kelas 3 SMP. Namun semangatnya itu yang membuatku
termotivasi dan bangkit lagi dari kesedihanku.
Ia juga yang selalu menghapus air mataku. Dan ia adalah
malaikatku. Malaikat teristimewa yang pernah aku punya sepanjang hidupku. Aku
dan dia bertemu di panti asuhan saat tante Winda -tanteku- membawaku ke panti
asuhan beberapa hari setelah ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan.
Dulu aku membencinya. Saat itu aku duduk dibangku kelas 2
SMP. Ia kelas 2 SMP. Saat ia masih normal. Kakinya belum lumpuh. Ia yang setiap
hari menghampiriku. Mengajakku bermain. Walau hasilnya selalu ku tampik kasar
dengan makian. Hingga suatu hari, tak pernah ada dia lagi yang menghampiriku di
taman. Aku berpikir mungkin dia telah di adopsi. Akhirnya aku memberanikan diri
mencarinya. Aku bertanya pada bu Ira -pengasuh panti-. Dan ia mengatakan, Rio
tak lagi bisa menemuiku di taman bukan karena dia diadopsi. Namun ia tak mampu
lagi berjalan. Dan mulai saat itulah aku mulai bisa menerima kehadiran Rio.
Hingga suatu hari seorang wanita masih muda dengan suaminya mengadopsiku. Aku
berkata aku tidak mau mereka adopsi. Sebab aku akan kehilangan malaikatku. Rio
lah namanya. Akhirnya mereka juga mengadopsi kak Rio.
"Kak.." aku tersenyum dan menghampiri kak Rio.
"Kok belum ganti ?" Tanya kak Rio
"Em.. males sekolah kak" jawabku sambil duduk di
kasurku.
"Loh ? kenapa ?" Tanya kak Rio. Aku hanya diam.
Dia mengusap rambut panjangku yang tergerai rapi.
"Shilla jangan gitu dong. Kesedihan itu nggak boleh
disimpan. Yang menurut Shilla itu menyakitkan, ya sudah, jangan di ingat lagi..
Semangat dong" Kak Rio menyemangatiku yang seolah kehilangan asa untuk
bersekolah. Aku diam. Menatap lekat wajah itu. Matanya seolah menyimpan luka.
Namun tertutupi dengan senyum tulusnya itu. Tuhan.. aku seharusnya banyak
berterima kasih padamu, Kau ambil kedua orang tuaku. Kau renggut kebahagiaanku.
Namun kau pertahankan dia sebegai gantinya. Terima kasih Tuhan.. Dan ku mohon,
pertahankan dia sampai aku benar-benar ingin keabadian itu mengantarkan kami
disaat yang sama.
"Ya udah deh kak, aku ganti dulu" Aku berdiri. Kak
Rio memutar kursi rodanya.
"Kakak tunggu di meja makan ya.." Aku mengangguk.
***
"Kak.. nggak ada lagu yang lebih bagus ya selain
ini ?" Tanyaku geregetan. Kak Rio hanya tertawa.
"Kalau kamu mau pindah lagunya gapapa kok" Ucap
kak Rio sambil menghapus papan tulis putih di dekat meja belajarku. Ia baru
saja selesai menjadi guru privatku. Aku menatap kak Rio yang membelakangiku.
Aku berdiri dan menghampiri DVD di dekat meja belajarku. Kak Rio melirikku
sekilas. Bukannya aku mengganti kasetnya, justru aku semakin membesarkan
volumenya.
"Shilla.. jangan di gedein" Kata kak Rio. Aku
semakin kesal saja. Entah mengapa hari ini emosiku meluap-luap.
"Biarin.." aku keluar dari kamar dan berlari
keluar. Menembus hujan lebat yang mengguyur Jakarta.
Kak Rio menghela nafas. Mengecilkan volume DVD itu. Dan ikut
keluar menembus hujan dengan kursi rodanya. Aku masih saja tak peduli. Aku
berdiri di dekat pagar. Baru saja aku hendak membuka pagar.
Brukkk
Suara itu membuat wajahku sontak menghadap kearahnya.
Alangkah terkejutnya aku.
Raga kurus itu terpental jatuh dari kursi rodanya. Menyentuh aspal pekarangan rumah. Bersahutan dengan suara petir yang menggelegar. Aku berlari ke arahnya. Memangku kepala sang raga yang berulumuran darah itu. Menangis sekencang-kencangnya.
Raga kurus itu terpental jatuh dari kursi rodanya. Menyentuh aspal pekarangan rumah. Bersahutan dengan suara petir yang menggelegar. Aku berlari ke arahnya. Memangku kepala sang raga yang berulumuran darah itu. Menangis sekencang-kencangnya.
***
Tangan itu bergerak-gerak kecil. Melantunkan erangan
dari mulutnya. Aku yang masih berpakaian sama seperti tadi tertidur
disampingnya. Terlalu lelah menangis. Aku tak menyadari tangan kurus itu
mengelus rambutku.
"Em,.." Aku terbangun dari tidur. Rambutku kusut.
Sama dengan penampilanku saat ini.
"Kak.. Rio" ucapku terbata-bata. Air mataku secara
perlahan turun lagi dari mataku. Kak Rio tersenyum.
"Ma.. Maafin Shilla kak.."
"Shilla jangan nangis.." ujar kak Rio pelan
"kakak nggak papa"
Aku kembali teringat perkataan dokter itu lagi
flashback
"Bagaimana dengan kakak saya dok?" Tanyaku di
ruangan dokter Duta. Sang dokter hanya bisa menghela nafas sebelum akhirnya
membuka mulut.
"Jaringan di otak kecilnya mengalami penghambatan.
Dan.. tidak mungkin bisa disembuhkan" Tubuhku terpaku. Tanpa komando,
air mataku secara pasti turun perlahan hingga membanjiri wajahku.
“enggak.. nggak mungkin..” cercaku. Dokter Duta hanya
menggeleng. Aku semakin shok. Aku keluar dari ruangan dokter Duta dengan
langkah gontai. Menangis disepanjang koridor. Walau aku tau, itu tak akan
membuat keadaan membaik
Flashback end
“jangan tinggalin Shilla, kak..” lirihku. Kak Rio menatapku
sembari tersenyum. Tuhan.. kau ciptakan aku sebagai manusia biasa bukan ? aku
punya kekurangan dan kelebihan bukan ? tapi mengapa, untuk menjaganya pun aku
tak bisa ? bukankah dia telah berani mengorbankan hidupnya demi aku ?
Maafkan aku Tuhan..
“Shilla jangan.. nangis, kakak.. nggak papa” suara kak Rio tersedat-sedat. Aku menatapnya bersalah. Sangat bersalah.
“Maaf..” air mataku semakin deras. Aku memeluk kak Rio. Tak peduli alat-alat medis yang menempel ditubuhnya. Aku tak mau kehilangannya
“Maafin.. ka..kak Juga.. ngga.. bi..sa jaga.. shil..lla” nafasnya tak beraturan. Seolah semakin melemah. Keringat dingin memenuhi keningnya. Aku melepas pelukanku. Manatap tombol kecil disebelah ranjang kak Rio. Ku raih itu. Kupencet beberapa kali.
Aku menatap tubuh kurus yang semakin melemah itu masih dengan air mata yang tak mau berhenti tuk turun. Perlahan, aku mendekat ke keningnya. Mengusap lembut keningnya yang dipenuhi keringat. Ku cium keningnya cukup lama. Sampai dokter Duta dan beberapa suster masuk. Aku seolah masih enggan melepasnya.
akhirnya aku pun melepaskannya.
hampir 15 menit aku duduk diluar dengan perasaan yang campur aduk. Antara sedih, gundah, menyesal. Arrggh.. mengapa aku begitu bodoh..!!!
“bagaimana dok?” Tanyaku cemas campur harap ketika kudapati dokter duta keluar dari ruangan kak Rio. Dokter Duta memberiku isyarat untuk masuk. Aku pun masuk. Dengan perasaan tak menentu tentunya.
Tunggu.. dimana alat-alat medis itu ? mengapa.. mengapa ia dibiarkan tak memakai alat medis ? sementara nafasnya sudah semakin melamban. Aku menghampirinya. Mengelus punggung tangannya.
“Kenapa nggak dipasang dok?” tanyaku pelan. Dokter Duta hanya menggeleng. Air mataku yang sedari tadi terbendung di pelupuk mataku akhirnya luruh juga.
“Shi..Shi..lla..” mulutnya terus saja bergerak-gerak. Meski suaranya lirih.
“Iya kak, Shilla disini.. kakak.. kakak bertahan.. Shilla mohon..”
Maafkan aku Tuhan..
“Shilla jangan.. nangis, kakak.. nggak papa” suara kak Rio tersedat-sedat. Aku menatapnya bersalah. Sangat bersalah.
“Maaf..” air mataku semakin deras. Aku memeluk kak Rio. Tak peduli alat-alat medis yang menempel ditubuhnya. Aku tak mau kehilangannya
“Maafin.. ka..kak Juga.. ngga.. bi..sa jaga.. shil..lla” nafasnya tak beraturan. Seolah semakin melemah. Keringat dingin memenuhi keningnya. Aku melepas pelukanku. Manatap tombol kecil disebelah ranjang kak Rio. Ku raih itu. Kupencet beberapa kali.
Aku menatap tubuh kurus yang semakin melemah itu masih dengan air mata yang tak mau berhenti tuk turun. Perlahan, aku mendekat ke keningnya. Mengusap lembut keningnya yang dipenuhi keringat. Ku cium keningnya cukup lama. Sampai dokter Duta dan beberapa suster masuk. Aku seolah masih enggan melepasnya.
akhirnya aku pun melepaskannya.
hampir 15 menit aku duduk diluar dengan perasaan yang campur aduk. Antara sedih, gundah, menyesal. Arrggh.. mengapa aku begitu bodoh..!!!
“bagaimana dok?” Tanyaku cemas campur harap ketika kudapati dokter duta keluar dari ruangan kak Rio. Dokter Duta memberiku isyarat untuk masuk. Aku pun masuk. Dengan perasaan tak menentu tentunya.
Tunggu.. dimana alat-alat medis itu ? mengapa.. mengapa ia dibiarkan tak memakai alat medis ? sementara nafasnya sudah semakin melamban. Aku menghampirinya. Mengelus punggung tangannya.
“Kenapa nggak dipasang dok?” tanyaku pelan. Dokter Duta hanya menggeleng. Air mataku yang sedari tadi terbendung di pelupuk mataku akhirnya luruh juga.
“Shi..Shi..lla..” mulutnya terus saja bergerak-gerak. Meski suaranya lirih.
“Iya kak, Shilla disini.. kakak.. kakak bertahan.. Shilla mohon..”
“maaf, Shilla..”
“kakak nggak perlu minta maaf, Shilla yang salah kak, Shilla yang salah. Bertahan kak,” kataku menangis mendekap tubuh lemah itu.
“ka..kak.. ka..ngen.. i.. ibu” aku tersentak. Sepanjang aku bersama Rio, tak pernah Rio mengatakan bahwa ia merindukan ibunya. Tuhan.. inikah waktunya ?
Aku hanya bisa menangis, meanangis, dan menangis. Tatkala suaranya semakin memelan.
“Ka..kak.. Saa..yang..Shil..Shil..la” mata itu terpejam. Terpejam bukan untuk terbuka lagi. Jantungnya berhenti. Berhenti bukan untuk berdetak lagi. Tubuhnya tertidur. Tertidur bukan untuk terbangun lagi.
Aku tau, nyawa dan jiwanya telah berpisah barusan saja. Namun aku tetap memeluknya. Aku tak mau kehilangannya.
“Shilla.. juga sayang kakak”
“kakak nggak perlu minta maaf, Shilla yang salah kak, Shilla yang salah. Bertahan kak,” kataku menangis mendekap tubuh lemah itu.
“ka..kak.. ka..ngen.. i.. ibu” aku tersentak. Sepanjang aku bersama Rio, tak pernah Rio mengatakan bahwa ia merindukan ibunya. Tuhan.. inikah waktunya ?
Aku hanya bisa menangis, meanangis, dan menangis. Tatkala suaranya semakin memelan.
“Ka..kak.. Saa..yang..Shil..Shil..la” mata itu terpejam. Terpejam bukan untuk terbuka lagi. Jantungnya berhenti. Berhenti bukan untuk berdetak lagi. Tubuhnya tertidur. Tertidur bukan untuk terbangun lagi.
Aku tau, nyawa dan jiwanya telah berpisah barusan saja. Namun aku tetap memeluknya. Aku tak mau kehilangannya.
“Shilla.. juga sayang kakak”
***
Ini kisahku. Kisah hidupku dengannya. Tapi kini hanya
tinggal aku. Tentu kau sudah tau, kemana dia. Ya, dia sudah tenang disana. Dia
tengah beristirahat. Ia akan melanjutkan perjalanannya esok, denganku. Jadi, ku
mohon.. berikan aku kesempatan untuk mengubah diriku, agar ia bahagia.
Rasanya kehilangan tentu sakit. Namun lebih sakit lagi jika
ia yang membuat kita kehilangan bertambah sedih dengan kesakitan kita. Aku akan
menghapusnya. Menghapus kesedihanku. Membiarkan semuanya berjalan sesuai
rencana Tuhan.
Karena aku yakin, ia telah memaafkanku. Dan aku juga ingin
menebusnya dengan apa yang ia harapkan. Menjadi aku yang sebenarnya.
TAMAT




0 comments:
Post a Comment