Thursday, April 17, 2014

Peri Cintaku (Cerpen Idola Cilik Yoshill)

-Didalam hati ini, hanya satu nama yang ada ditulus hati
            Ku ingini kesetiaan yang indah takkan tertandingi hanyalah dirimu satu.
                         Peri cintaku, benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai-

Gemerlap terang lampu kota malam hari membuat raganya yang saat ini sedang sendiri benar-benar merasa terhibur. Sebetulnya ia tak sedang sendiri. Ada seekor kucing Persia manis menemaninya dengan suara manjanya. Membuat gadis itu tersenyum-senyum bahagia duduk dikursi taman di perbukitan kecil yang Nampak ramai itu. Ada rasa iri sebenarnya pada remaja-remaja yang berlalu lalang. Namun apa daya, hatinya belum menemukan pilihan yang pas untuk dijadikan kekasih hatinya.
Diam-diam ia merindukan sosok pria yang pernah singgah dihatinya kala pertama ia masuk SMA. Riko. Ya, Riko Anggara namanya. Seniornya yang pernah ia jadikan cinta pertamanya. Senior yang membuat hatinya benar-benar terkutuk oleh kata manis dari bibir Riko. Namun sayangnya itu dulu. Disaat dia belum harus berpisah dengan Riko. Setelah kelulusan, Riko yang dikenal sebagai penyandang gelar siswa berprestasi mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di Perth, Australia.
Tangan gadis itu berganti pada bulu bulu lembut nan tebal. Missy, nama yang diberikan pada kucing kesayangannya.
“Hei Missy, apa yang kau pikirkan tentang pria?” tanyanya sendiri. Seolah ada seseorang yang diajaknya berbincang. Ah.. bodoh. Bodoh sekali gadis itu. Membiarkan kucing manis yang tak bisa diajaknya berbincang justru ia beri pertanyaan yang seharusnya manusia jawab.
“ah.. aku tau, kau pasti bingung, sama sepertiku. Hhh.. sampai sekarang pun aku masih ragu untuk mencari pengganti Riko. Seharusnya dulu aku tak pernah mengenal Riko. Sehingga sampai saat ini aku masih belum merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta itu” katanya sendiri. Kucing polos nan lincah bermanja dengan lengan jaketnya itu hanya bisa mengeluarkan suara ‘meong’ nya ketika gadis itu mencoba berkata padanya
“Mengapa kau berbicara dengannya gadis bodoh” ujar seseorang dari belakangnya. Gadis itu sontak menoleh kebelakang, kaget. Ia hanya menghela nafas saat ia tahu bahwa orang itu temannya sendiri
“aku bukan gadis bodoh pria aspal” jawab gadis itu tak terima. Pria itu duduk disampingnya. Mengambil alih Missy dari pangkuan pemiliknya.
“Hei kembalikan Missyku. Aku tak ingin ia menjadi warna silverqueen sepertimu” lanjut gadis itu sambil mengambil Missynya dari tangan pria itu
“Memangnya kenapa bila Missymu ini berubah warna sepertiku ? Bukannya silverqueen manis ? Dan kau menyukainya ? Ah.. kau benar-benar membuatku salah tingkah” Ujar pria itu tertawa kecil
“Hah ? benarkah aku menyukai silverqueen?” gumam gadis itu “aku tak peduli. Aku menyukai cokelat bukan berarti aku menyukaimu pria aspal”
“kau bahkan memiliki dua nama panggilan khusus kepadaku gadis polos”
“kau pun begitu” gadis itu tertawa. Diikuti oleh tawa pria berkulit sawo matang disampingnya ini.
***
-Aku untuk kamu, kamu untuk aku.
            Namun semua, apa mungkin iman kita yang berbeda ?
                        Tuhan memang satu. Kita yang tak sama.
     Haruskah aku lantas pergi, meski cinta takkan bisa pergi-
“Hei gadis bodoh. Buku apa ini?” pria itu merebut buku bersampul fuschia yang ada digenggaman gadis itu.
“Hei pria aspal. Kembalikan bukuku” Gadis itu mencoba menggapai buku yang ada ditangan pria itu. Sedangkan pria yang postur tubuhnya jauh lebih tinggi darinya itu justru mengacungkan tangannya keatas
“Aku akan mengembalikannya jika kau berhenti memanggilku dengan nama pasaran itu”
“Kau yang mengawalinya. Aku hanya melengkapi saja” Gadis itu kembali pada posisi semula. Memasa bodohkan buku bersampul fuschia yang masih ada ditangan pria itu.
“Kau memang terlalu polos. Cenderung bodoh” celetuk pria itu sambil membuka halaman per halaman buku itu “Hei, gadis bodoh, foto ini kau ambil kapan ? lucu sekali wajah kau saat seperti ini” lanjutnya sambil menertawakan sebuah foto pada buku itu. Gadis itu menengok sebentar.
“Itu foto kuambil hampir dua tahun yang lalu. Beberapa waktu setelah hari los terakhir” jawab gadis itu
“Bukankah ini Riko ?” tanyanya. Gadis itu mengangguk.
“ada hubungan apa kau dengannya?” Tanya pria itu penasaran.
“Ah, kau ini mengingatkanku pada masa lampau saja. Dia mantan kekasihku. My first love” Katanya pelan diakhir kalimat.
“Fist love?” Tanya pria itu lagi
“Iya. Bukankah kau sudah tau?” Tanya gadis itu pada pria disampingnya kini.
“Err.. Iya, memang. Aku mengetahuinya” jawab pria itu
“Lalu, mengapa kau bertanya lagi padaku?”
“Aku hanya ingin mencoba memulihkan ingatanmu saja”
“memulihkan ingatanku? Kau kira aku pemilik IQ dibawah normal begitu ? sadis sekali kau ini. Biar kata wajahku tak meyakinkan seperti ini, IQ ku masih mencukupi untuk dipersaingkan dengan otakmu yang seperti batu di Mahameru itu” ucap gadis itu asal. Pria itu tertawa
“Kau bisa saja. Apa kau juga berpikir bahwa otakmu itu lumat seperti bubur bayi ? kau ada ada saja”
“Entahlah. Aku hanya memiliki firsat bahwa kau tak pernah bisa mengalahkanku” jawab gadis itu menyombongkan diri
“Terserah kau sajalah” Sahut pria itu “Ashilla..” pria itu memanggil nama gadis itu. Ashilla.
“Hmm”
“Aku mencintaimu” Ujar pria itu cepat. Ashilla berhenti dari jalannya. Berdiri mematung tak bersuara. “Ya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku begitu nyaman ketika didekatmu. Aku hanya bisa mendeskripsikannya dengan satu rasa. Dan apa kau mau menerima rasaku ini ? rasaku yang benama cinta ?”
Ashilla terdiam cukup lama. Memikirkan sesuatu hingga membuat mata indahnya itu bergerak gerak.
“Maaf, Mario. Iman kita, tak sama” lirih Ashilla. Mario. Pemilik nama indah itu sama-sama termenung. Menciptakan keheningan di lorong sekolah yang sepi.
Entahlah, apa yang dirasakan keduanya. Ketika benih cinta itu mulai tumbuh, kenyataan pahit justru harus mereka terima.
Kepercayaan ! Iman.
Iman mereka berbeda. Iman mereka tak sama.
Lalu harus bagaimana lagi ?
“Aku mengerti” jawab Mario pelan. Perlahan tubuh tegap itu melangkah meninggalkan gadis yang dicintainya sejak dulu
“Mario, tunggu..”
***
-Bukankah cinta anugerah ?
            Berikan aku kesempatan untuk menjaganya sepenuh jiwa-
“Aku juga mencintaimu” Ujar Ashilla pelan. Nyaris tak terdengar. Mario yang duduk bersandar di kursi kemudi menoleh kearah Ashilla sebentar.
“Bukankah kau yang mengatakan jika.. Iman kita tak sama ?”
“Iya, aku mengatakannya. Fakta kan ? namun aku juga tak bisa mengelak dari perasaanku”
“Tapi kita tak bisa bersatu. Kita, berbeda” kata Mario masih fokus dengan kemudinya
“Iya, aku tau itu. Tapi.. bolehkah aku mencintaimu ?” Tanya Ashilla menatap dari samping wajah manis itu. Mario tersenyum. Meski ada yang ganjal dari senyumnya
“Tentu. Sampai kapanpun kau boleh mencintaiku dengan sesuka hatimu”
“Meski kita tak bisa bersatu, kau tetap orang yang ku cintai”
“Kau peri cintaku” mereka berdua tersenyum. Mencoba menerima kenyataan pahit ini dengan senyuman. Hanya senyuman. Perkara yang mudah dilakukan agar manusia bisa menutupi kesedihannya. Hanya senyuman.
Mengapa ?
Mengapa dulu aku terlahir dari agama yang tak sama dengannya ?
Mengapa ?
Mengapa justru dia yang kucintai yang memiliki perbedaan jauh denganku ?
Aku tak bisa begitu saja meninggalkan agamaku
Aku telah bersumpah pada Tuhan bahwa aku setia padanya
Bahwa percayaku padanya begitu besar. Begitu kuat.
Dan aku tak mungkin begitu saja mengingkarinya hanya untuk seorang makhluknya.
Aku tak boleh egois.
Dia adalah dia. Tuhanku tetaplah Tuhanku.
Ya Tuhan
Mengapa kau temukan aku dengan dirinya ?
Dengan ia yang terlanjur mengisi kekosongan hatiku.
Namun ia tiba-tiba saja kau rampas. Dengan alasan..
Ia tak mengakui keberadaanmu. Ia bukanlah pengikutmu.
Meski aku tau, dia jugalah makhlukmu.
Baiklah, aku mengerti. Aku tak bisa bersamanya.
Sebab aku telah berbuat dusta jika benar-benar meninggalkan imanku.
Ini aku, Dia pun dia. Dan imanku, Tetaplah disini.


Foto Ashilla Zee & Mario Stevano (Rio Stevadit)
                        ***TAMAT***


0 comments:

Post a Comment