-Didalam hati ini, hanya satu nama yang ada ditulus
hati
Ku ingini kesetiaan yang indah takkan tertandingi hanyalah dirimu satu.
Peri cintaku, benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai-
Ku ingini kesetiaan yang indah takkan tertandingi hanyalah dirimu satu.
Peri cintaku, benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai-
Gemerlap terang lampu kota
malam hari membuat raganya yang saat ini sedang sendiri benar-benar merasa
terhibur. Sebetulnya ia tak sedang sendiri. Ada seekor kucing Persia manis
menemaninya dengan suara manjanya. Membuat gadis itu tersenyum-senyum bahagia
duduk dikursi taman di perbukitan kecil yang Nampak ramai itu. Ada rasa iri
sebenarnya pada remaja-remaja yang berlalu lalang. Namun apa daya, hatinya
belum menemukan pilihan yang pas untuk dijadikan kekasih hatinya.
Diam-diam ia merindukan
sosok pria yang pernah singgah dihatinya kala pertama ia masuk SMA. Riko. Ya,
Riko Anggara namanya. Seniornya yang pernah ia jadikan cinta pertamanya. Senior
yang membuat hatinya benar-benar terkutuk oleh kata manis dari bibir Riko.
Namun sayangnya itu dulu. Disaat dia belum harus berpisah dengan Riko. Setelah
kelulusan, Riko yang dikenal sebagai penyandang gelar siswa berprestasi
mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di Perth, Australia.
Tangan gadis itu berganti
pada bulu bulu lembut nan tebal. Missy, nama yang diberikan pada kucing
kesayangannya.
“Hei Missy, apa yang kau
pikirkan tentang pria?” tanyanya sendiri. Seolah ada seseorang yang diajaknya
berbincang. Ah.. bodoh. Bodoh sekali gadis itu. Membiarkan kucing manis yang
tak bisa diajaknya berbincang justru ia beri pertanyaan yang seharusnya manusia
jawab.
“ah.. aku tau, kau pasti
bingung, sama sepertiku. Hhh.. sampai sekarang pun aku masih ragu untuk mencari
pengganti Riko. Seharusnya dulu aku tak pernah mengenal Riko. Sehingga sampai
saat ini aku masih belum merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta itu” katanya
sendiri. Kucing polos nan lincah bermanja dengan lengan jaketnya itu hanya bisa
mengeluarkan suara ‘meong’ nya ketika gadis itu mencoba berkata padanya
“Mengapa kau berbicara
dengannya gadis bodoh” ujar seseorang dari belakangnya. Gadis itu sontak
menoleh kebelakang, kaget. Ia hanya menghela nafas saat ia tahu bahwa orang itu
temannya sendiri
“aku bukan gadis bodoh
pria aspal” jawab gadis itu tak terima. Pria itu duduk disampingnya. Mengambil
alih Missy dari pangkuan pemiliknya.
“Hei kembalikan Missyku. Aku tak ingin ia menjadi warna silverqueen sepertimu” lanjut gadis itu sambil mengambil Missynya dari tangan pria itu
“Hei kembalikan Missyku. Aku tak ingin ia menjadi warna silverqueen sepertimu” lanjut gadis itu sambil mengambil Missynya dari tangan pria itu
“Memangnya kenapa bila
Missymu ini berubah warna sepertiku ? Bukannya silverqueen manis ? Dan kau
menyukainya ? Ah.. kau benar-benar membuatku salah tingkah” Ujar pria itu
tertawa kecil
“Hah ? benarkah aku
menyukai silverqueen?” gumam gadis itu “aku tak peduli. Aku menyukai cokelat
bukan berarti aku menyukaimu pria aspal”
“kau bahkan memiliki dua
nama panggilan khusus kepadaku gadis polos”
“kau pun begitu” gadis itu
tertawa. Diikuti oleh tawa pria berkulit sawo matang disampingnya ini.
***
-Aku untuk kamu, kamu untuk aku.
Namun semua, apa mungkin iman kita yang berbeda ?
Tuhan memang satu. Kita yang tak sama.
Haruskah aku lantas pergi, meski cinta takkan bisa pergi-
Namun semua, apa mungkin iman kita yang berbeda ?
Tuhan memang satu. Kita yang tak sama.
Haruskah aku lantas pergi, meski cinta takkan bisa pergi-
“Hei gadis bodoh. Buku apa
ini?” pria itu merebut buku bersampul fuschia yang ada digenggaman gadis itu.
“Hei pria aspal.
Kembalikan bukuku” Gadis itu mencoba menggapai buku yang ada ditangan pria itu.
Sedangkan pria yang postur tubuhnya jauh lebih tinggi darinya itu justru
mengacungkan tangannya keatas
“Aku akan mengembalikannya
jika kau berhenti memanggilku dengan nama pasaran itu”
“Kau yang mengawalinya.
Aku hanya melengkapi saja” Gadis itu kembali pada posisi semula. Memasa
bodohkan buku bersampul fuschia yang masih ada ditangan pria itu.
“Kau memang terlalu polos.
Cenderung bodoh” celetuk pria itu sambil membuka halaman per halaman buku itu
“Hei, gadis bodoh, foto ini kau ambil kapan ? lucu sekali wajah kau saat
seperti ini” lanjutnya sambil menertawakan sebuah foto pada buku itu. Gadis itu
menengok sebentar.
“Itu foto kuambil hampir
dua tahun yang lalu. Beberapa waktu setelah hari los terakhir” jawab gadis itu
“Bukankah ini Riko ?”
tanyanya. Gadis itu mengangguk.
“ada hubungan apa kau
dengannya?” Tanya pria itu penasaran.
“Ah, kau ini
mengingatkanku pada masa lampau saja. Dia mantan kekasihku. My first love”
Katanya pelan diakhir kalimat.
“Fist love?” Tanya pria
itu lagi
“Iya. Bukankah kau sudah
tau?” Tanya gadis itu pada pria disampingnya kini.
“Err.. Iya, memang. Aku
mengetahuinya” jawab pria itu
“Lalu, mengapa kau
bertanya lagi padaku?”
“Aku hanya ingin mencoba
memulihkan ingatanmu saja”
“memulihkan ingatanku? Kau
kira aku pemilik IQ dibawah normal begitu ? sadis sekali kau ini. Biar kata
wajahku tak meyakinkan seperti ini, IQ ku masih mencukupi untuk dipersaingkan
dengan otakmu yang seperti batu di Mahameru itu” ucap gadis itu asal. Pria itu
tertawa
“Kau bisa saja. Apa kau
juga berpikir bahwa otakmu itu lumat seperti bubur bayi ? kau ada ada saja”
“Entahlah. Aku hanya
memiliki firsat bahwa kau tak pernah bisa mengalahkanku” jawab gadis itu
menyombongkan diri
“Terserah kau sajalah”
Sahut pria itu “Ashilla..” pria itu memanggil nama gadis itu. Ashilla.
“Hmm”
“Aku mencintaimu” Ujar
pria itu cepat. Ashilla berhenti dari jalannya. Berdiri mematung tak bersuara.
“Ya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku begitu nyaman ketika didekatmu.
Aku hanya bisa mendeskripsikannya dengan satu rasa. Dan apa kau mau menerima
rasaku ini ? rasaku yang benama cinta ?”
Ashilla terdiam cukup
lama. Memikirkan sesuatu hingga membuat mata indahnya itu bergerak gerak.
“Maaf, Mario. Iman kita,
tak sama” lirih Ashilla. Mario. Pemilik nama indah itu sama-sama termenung.
Menciptakan keheningan di lorong sekolah yang sepi.
Entahlah, apa yang
dirasakan keduanya. Ketika benih cinta itu mulai tumbuh, kenyataan pahit justru
harus mereka terima.
Kepercayaan ! Iman.
Iman mereka berbeda. Iman mereka tak sama.
Lalu harus bagaimana lagi ?
Kepercayaan ! Iman.
Iman mereka berbeda. Iman mereka tak sama.
Lalu harus bagaimana lagi ?
“Aku mengerti” jawab Mario
pelan. Perlahan tubuh tegap itu melangkah meninggalkan gadis yang dicintainya
sejak dulu
“Mario, tunggu..”
***
-Bukankah cinta anugerah ?
Berikan aku kesempatan untuk menjaganya sepenuh jiwa-
Berikan aku kesempatan untuk menjaganya sepenuh jiwa-
“Aku juga mencintaimu”
Ujar Ashilla pelan. Nyaris tak terdengar. Mario yang duduk bersandar di kursi
kemudi menoleh kearah Ashilla sebentar.
“Bukankah kau yang
mengatakan jika.. Iman kita tak sama ?”
“Iya, aku mengatakannya.
Fakta kan ? namun aku juga tak bisa mengelak dari perasaanku”
“Tapi kita tak bisa
bersatu. Kita, berbeda” kata Mario masih fokus dengan kemudinya
“Iya, aku tau itu. Tapi..
bolehkah aku mencintaimu ?” Tanya Ashilla menatap dari samping wajah manis itu.
Mario tersenyum. Meski ada yang ganjal dari senyumnya
“Tentu. Sampai kapanpun
kau boleh mencintaiku dengan sesuka hatimu”
“Meski kita tak bisa
bersatu, kau tetap orang yang ku cintai”
“Kau peri cintaku” mereka
berdua tersenyum. Mencoba menerima kenyataan pahit ini dengan senyuman. Hanya
senyuman. Perkara yang mudah dilakukan agar manusia bisa menutupi kesedihannya.
Hanya senyuman.
Mengapa ?
Mengapa dulu aku terlahir dari agama yang tak sama dengannya ?
Mengapa ?
Mengapa justru dia yang kucintai yang memiliki perbedaan jauh denganku ?
Aku tak bisa begitu saja meninggalkan agamaku
Aku telah bersumpah pada Tuhan bahwa aku setia padanya
Bahwa percayaku padanya begitu besar. Begitu kuat.
Dan aku tak mungkin begitu saja mengingkarinya hanya untuk seorang makhluknya.
Aku tak boleh egois.
Dia adalah dia. Tuhanku tetaplah Tuhanku.
Mengapa dulu aku terlahir dari agama yang tak sama dengannya ?
Mengapa ?
Mengapa justru dia yang kucintai yang memiliki perbedaan jauh denganku ?
Aku tak bisa begitu saja meninggalkan agamaku
Aku telah bersumpah pada Tuhan bahwa aku setia padanya
Bahwa percayaku padanya begitu besar. Begitu kuat.
Dan aku tak mungkin begitu saja mengingkarinya hanya untuk seorang makhluknya.
Aku tak boleh egois.
Dia adalah dia. Tuhanku tetaplah Tuhanku.
…
Ya Tuhan
Mengapa kau temukan aku dengan dirinya ?
Dengan ia yang terlanjur mengisi kekosongan hatiku.
Namun ia tiba-tiba saja kau rampas. Dengan alasan..
Ia tak mengakui keberadaanmu. Ia bukanlah pengikutmu.
Meski aku tau, dia jugalah makhlukmu.
Baiklah, aku mengerti. Aku tak bisa bersamanya.
Sebab aku telah berbuat dusta jika benar-benar meninggalkan imanku.
Ini aku, Dia pun dia. Dan imanku, Tetaplah disini.
Mengapa kau temukan aku dengan dirinya ?
Dengan ia yang terlanjur mengisi kekosongan hatiku.
Namun ia tiba-tiba saja kau rampas. Dengan alasan..
Ia tak mengakui keberadaanmu. Ia bukanlah pengikutmu.
Meski aku tau, dia jugalah makhlukmu.
Baiklah, aku mengerti. Aku tak bisa bersamanya.
Sebab aku telah berbuat dusta jika benar-benar meninggalkan imanku.
Ini aku, Dia pun dia. Dan imanku, Tetaplah disini.
![]() |
| Foto Ashilla Zee & Mario Stevano (Rio Stevadit) |
***TAMAT***




0 comments:
Post a Comment