Tuesday, April 15, 2014

Dengan Sejuta Rinai Hujan -Cerpen Idola Cilik DEKE-

“huh.. hujan lagi” Deva mendengus kesal melihat luar rumahnya yang dibasahi dengan air air surga yang tak bersalah itu
“ngapain loe ngomel-ngomel sendiri?”Tanya kakaknya. Rio
“kagak” jawabnya cuek sambil memalingkan wajahnya dari kakaknya itu
“haha,, lucu amat muka loe. gue tau, loe takut kan sama hujan” Rio berseru. Deva hanya melengos mendengar kata-kata ‘Takut Hujan’ itu lagi. Tiba-tiba kakaknya merangkul pundaknya “udahlah, itu udah lama. Masa lalu yang nggak akan ada lagi. Loe harus memulai semuanya dari yang baru. Lagian, nggak selamanya hujan itu jahat sama loe. Dia baik banget sama mereka yang kesusahan. Dan lagian nih ya, kalau gak ada hujan, loe mau makan apa. Sawah pada kering” tutur nasehat kakaknya memang selalu membuatnya menyerah. Tapi kali ini, dia tau, ini masa lalunya. Masa lalunya yang amat ia kenang. Masa lalunya dengan seorang sahabat sekaligus cinta pertamanya yang sudah meninggalkannya dengan sejuta rinai hujan.
“gue nggak suka aja sama hujan. Gue nggak suka kan bukan berarti gue benci” ucap Deva sambil berbaring di kasurnya menatap air itu dibalik kaca jendelanya
“kalau loe nggak suka sama hujan, berarti loe benci pelangi dong” ucap kakaknya. Deva bangun lagi
“gue suka sama pelangi” cegahnya sebelum kakaknya berbicara lagi
“kalau gitu, loe harus suka sama hujan, karena tanpa hujan, pelangi nggak akan pernah ada. Dan karena susah itulah yang akan jadikan loe bahagia” ucap Rio. Deva merenungi sejenak ucapan kakaknya itu. ‘apa benar?’ tanyanya dalam hatinya
~*~*~
Deva memasuki kelasnya dengan gontai. kelasnya yang sudah dimulai pelajaran sejak satu menit yang lalu
“permisi” ucapnya begitu mendapati pak Hanny wali kelasnya sudah stand by di depan papan tulis putih itu
“masuk” suruhnya. Devapun masuk “kenapa kamu telat Deva?”Tanya pak Hanny
“maaf pak. Sepeda motor saya mogok” ucapnya beralasan
“oh, ya sudah. Silahkan duduk” suruh pak Hanny
“eh, kok..” Deva mendapati seorang gadis cantik berpipi chubby duduk di tempatnya
“itu Keke, anak pindahan dari Semarang. Kamu sekarang duduk sama dia” ucap pak Hanny
“terus Ozy mau dikemanain pak?”Tanya Deva
“woy. Gue disini” ucap Ozy agak keras
“kok loe disitu Zy?”Tanya Deva
“gatau. Pak Hanny tuh yang mindah gue sama kacang ini” ucap Ray
“sudah sudah. Deva, kamu duduk saja. Pelajaran saya mulai” ucap pak Hanny. Deva hanya pasrah dan duduk disamping Keke
“hai, aku Keke” ucap Keke sambil menyodorkan tangannya kearah Deva yang malah mengeluarkan komiknya
“Deva” jawab Deva cuek tak menerima jabatan tangan Keke. Keke hanya mengangkat alis lalu menarik tangannya kembali. Pelajaran pun dimulai
~*~*~
“Ke..”panggil Olivia saat istirahat
“ya” jawab Keke masih memasukkan alat tulisnya kedalam bangkunya
“keluar yuk” ajak Olivia yang memang ramah. Keke mengangguk sambil tersenyum. ‘manis’ batin Deva saat melihat senyuman itu “Dev, loe gak laper. Biasanya loe jam segini udah nangkring di pojok gudang” ucap Olivia yang memang sahabat Deva dan Ray sejak mereka pertama kali masuk SMP
“males” jawab Deva yang memang hari ini agak kurang enak badan
“okedeh. Yuk Ke,,” Olivia dan Keke keluar dari kelas. Deva hanya sendirian. Deva meletakkan kepalanya di meja bangkunya. Ia tak sengaja melihat sebuah liontin hati tergantung indah di tas merah muda Keke. Deva mengenali betul liontin itu. Deva pun meraih liontin itu. di lihatnya tertera dua inisial nama sang pemiliknya. ‘P & L’
“Lita..” tanpa sadar Deva melontarkan nama itu dari bibir mungilnya. Ia teringat akan satu hal. Masa lalunya
Flashback
“Putra..” panggil anak kecil kira-kira berusia 8 tahun. Dia yang amat lucu dengan pipi chubbynya yang melengkapi keimutannya menambah kegemasan pada orang yang melihatnya
“ya Lit” jawab cowok yang dipanggil Putra itu
“aku besok ikut papa ke Semarang” ucap lirih gadis yang bernama Lita itu
“Semarang?”Tanya Putra. Lita mengangguk
“nggak lama kan?”Tanya Putra
“aku nggak tau” jawabnya polos. Putra Nampak menggambarkan raut kesedihan di wajah tampannya
“kalau gitu jangan lama-lama ya” ucap Putra sambil membelai rambut Lita. Lita hanya mengangguk
“em.. Lita, aku punya hadiah buat kamu” ucap Putra “tapi kamu tutup mata dulu ya” suruh Putra. Lita pun menurut. Putra mengambil kotak kecil di saku celananya
“udah belom?”Tanya Lita
“udah” jawabnya. Lita pun membuka matanya dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat sebuah kalung berbandul liontin hati di kotak kecil itu
“Putra, ini buat aku?”Tanya Lita tak pecaya. Putra mengangguk dan tersenyum
“kamu mau kan?”
“mau, mau banget” jawabnya semangat
“sini, aku pakai’in”
Flashback end
“iya, bener, ini punya Lita” ucap Deva “berarti, Keke itu.. iya, gue harus kasih tau dia, gue Putra. Dan dia Lita” ucap Deva langsung berdiri dan meninggalkan kelas untuk mencari Keke. Sahabat lamanya. Cinta pertamanya. Deva berlari menyusuri koridor sekolah yang ramai karena jam istirahat itu. tak peduli dengan apa kata orang. Deva melewati lapangan basket. Ia menemukan Keke disana. Tapi.. Keke sedang bersama Ray. Musuh bebuyutannya.
“Keke..” panggil Deva dari kejauhan. Keke menoleh. Ray juga, tapi dengan tatapan sinis. Kemudian Ray membisikkan sesuatu pada Keke
“Ke, loe jangan mudah percaya sama dia. Dia anak pembohong, pencuri. Dia juga pembawa sial. Dia broken home. Bisanya Cuma tawuran aja” bisik Ray. Keke mengamati Deva dari jauh. Tapi pikirannya tak sama dengan apa yang ia lihat. Keke yakin, Deva anaknya baik-baik. Tak seperti yang Ray katakan. Tapi ia kan baru mengenal Deva
“em.. Ray, aku kesana dulu ya, tadi aku pinjem buka sama Deva, mungkin dia nyari’in” ucap Keke. Ray hanya bisa tersenyum datar. Keke menghampiri Deva
“ada apa Dev?”Tanya Keke
“em.. kamu kenal Ray?”Tanya Deva
“iya, dia tetanggaku” ucap Keke. Deva emng-owhkan mulutnya
“Ke,, aku mau nanya” ucap Deva. Keke mengerutkan keningnya
“apa?”
“apa bener, namamu Thalita?”Tanya Deva. Keke membelalakkan matanya
“tau dari mana kamu?” Tanya Keke heran
“em.. apa bener kamu pernah tinggal di Bandung?”Tanya Deva (lagi)
“iya… iya.. itu bener. Kamu tau dari mana?”Tanya Keke
“jadi bener.. loe Lita?”Tanya Deva (lagi)
“kamu ini kenapa sih Dev. Kamu peramal ya, kamu tau semuanya” ucap Keke
“Ke,, kamu Lita, apa kamu inget aku?”Tanya Deva
“inget?. Haha, ya inget lah. Kamu kan temen baru aku” ucap Keke. Deva melengos
“nggak gitu. Kamu ingat siapa dua temen cowok kamu waktu di Bandung dulu?”Tanya Deva
“hah.. temen dua cowok?”Tanya Keke yang mulai bingung
“iya” namun tiba-tiba saja rintik-rintik hujan mengguyur mereka “wah hujan. Disini aja Dev, aku seneng hujan” Keke menarik tangan Deva kembali saat Deva menariknya untuk meneduh
“Keke, ayo berteduh. Nanti kamu sakit” ucap Deva setengah berteriak. Ia juga ingat bahwa Lita dulu memang suka sekali dengan hujan. Berbeda dengannya yang memang trauma dengan hujan
“nggak ah” ucap Keke. Namun Deva juga ikutan basah dengan apa yang dilakukan Keke karena sejak kecil Keke memang tak bisa dipaksa. Dan baru hari inilah Deva menyentuh kembali guyuran rinai air hujan. Setelah kepergian Keke 7 tahun yang lalu
‘ini beneran loe Lit.. loe tambah cantik ya,,’ seru Deva dalam hatinya
“Deva.. hujannya indah ya, aku suka sama hujan. Hujan itu nganterin aku kealam kedamaian” ucap Keke. Deva memperhatikan gadis disampingnya itu
‘tak banyak berubah. Hanya saja sifatmu. Aku akan ngelakuin apapun yang kamu mau, asal kita bisa balik jadi sepasang sahabat. Atau bahkan sepasang kekasih kayak dulu lagi’ batin Deva
“Dev.. kamu suka hujan kan?”Tanya Keke sambil menari-nari dibawah air hujan. Tak perduli teman-temannya yang memanggil dan mengatakannya –MKKB (masa kecil kurang bahagia)- ia terus merentangkan tangannya dan menikmati setiap tetes rinai hujan yang turun ke bumi
“iya, aku suka” entah dorongan dari mana, tiba-tiba dengan lancarnya Deva mengucapkan tiga kalimat itu. Deva merutuki apa yang ia katakan.
“berarti kita sama dong ya”ucap Keke. Deva hanya membalasnya dengan senyuman. Sebenarnya Deva sudah tidak kuat dengan air ini. Deva menggigil kedinginan. Tapi disembunyikannya semua phobianya. Wajahnya sudah mulai pucat. Namun hujan tak kunjung berhenti
“duh.. kalau gini caranya gue sama aja nyari mati. Tapi kalau gue ninggalin Keke, gue pasti dibilang nggak berani hujan. Dan satu lagi.. rencana gue bakalan berantakan” batin Deva
“eh, Dev.. udahan yuk.. kalau kelamaan bisa masuk angin nanti” ucap Keke. Deva mengelus dadanya mengucap syukur pada Tuhan
“iya”
***
Tett Tettt (anggep suara bell rumah)
Tak lama kemudian seorang laki-laki membuka pintunya
“astaga Deva” Rio menyangga tubuh Deva yang ambruk itu “loe kenapa?”Tanya Rio khawatir. Namun Deva malah pingsan. Rio mendengus kesal begitu menyadari adeknya ini pingsan dan badannya basah kuyub
***
@Kamar Deva
Setelah Rio menggantikan seragam Deva yang basah itu, ia mengambil kompresan dan segera meletakkannya di dahi Deva yang panas itu
“arghhh” erang Deva sambil memegangi kepalanya yang cukup berat
“eh, loe udah sadar?”Tanya Rio begitu mendapati adeknya membuka matanya “gimana keadaan loe?”Tanya Rio
“gapapa kok. Cuma pusing dikit” jawab Deva sambil berusaha duduk. Rio membantunya bersandar di bantalnya. Deva menghela nafas sejenak dan mengambil kompresan didahinya
“loe kok sampai kayak gitu tadi kenapa?”Tanya Rio. Deva mulai sadar bahwa tadi pulang sekolah ia hujan-hujanan sambil berlari pulang bersama Keke
“em.. kak..” panggilnya
“apa?”jawab sekaligus Tanya Rio lembut sambil menatap adik semata wayannya itu
“Lita” ucap Deva. Hanya itu kata yang keluar dari mulut mungilnya
“hah. Lita.. kenapa?”Tanya Rio nggak ngerti dengan maksud adeknya. Rio mencelupkan handuk kompresan itu dan menempelkannya lagi di dahi Deva yang cukup panas itu
“gue udah nemu dia” jawab Deva lirih. Namun masih bisa terdengar oleh Rio
“apa?.. terus?”Tanya Rio
“dia pindah ke sekolah gue. Gue udah kenal sama dia” jawab Deva
“dia tau kalau loe itu sahabat juga cinta lamanya?”Tanya Rio
“gimana mau tau. Namanya sendiri aja jadi Keke” jawab Deva
“ngehh?. Keke?”Tanya Rio masih nggak ngerti
“iya, namanya jadi Keke”
“terus, kenapa loe bisa yakin kalau dia Lita?”Tanya Rio
“jadi gini..” Deva menjelaskan dari a sampai z
“jadi loe kayak gini gara-gara ujan ujanan sama Lita?”Tanya Rio. Deva nyengir kuda. Rio menoyor kepala Deva
“ye.. kepala gue nggak salah tau. Eh, kak, loe masih nyimpen liontin yang waktu itu nggak?”
“ada.. masih gue simpen sama celana dalem gue” jawab Rio asal yang langsung dipelototin sama Deva “keluar tuh mata” ucap Rio. Deva langsung mengembalikan ekspresinya
“kak, loe nggak mau adek loe yang imut-imut, ganteng, keren, dan nggak item kayak loe ini sakit kan?”Tanya Deva. Rio melengos
“tersinggung nih ama ucapan anak amit-amit, nggak bisa gede, phobia hujan. Sakit juga gak papa kok. Asal jangan ngerepotin gue aja” jawab Rio. Deva langsung manyun
***
“pagi…” sapa Deva semangat sambil menenteng tas hitam dipundaknya
“eh, eh, mau kemana loe?”cegat Rio
“ya mau sekolah lah, masa mau ngopi di warung mang ujang” ucap Deva ketus
“ye.. gue nanya baek-baek belo. Eh, loe itu masih sakit. Gak usah masuk. Entar gue yang repot kalau loe tambah sekarat disekolah. Malu-maluin gue aja. Nanti martabat gue turun gara-gara adek gue yang jelek ini” cerocos Rio. Deva nggak peduli, malah mencomot roti dengan selai di meja makan
“ngomong ama piring” ucap Deva sambil menyodorkan piring ke arah Rio. Rio mendengus kesal
***
“Pagi Ke” sapa Deva dengan senyum manisnya pada Keke yang asyik membaca komik
“juga Dev, eh kok udah datang?”Tanya Keke
“biasanya juga jam segini. Cuma kemaren itu sepeda motorku mogok. Jadi lari ke sekolah. Ya telat deh” jelas Deva
“um.. Dev,,”
“ya..”
“aku udah inget cowok yang jadi teman aku waktu di Bandung itu” Keke berbicara dengan nada lirih tapi cukup terdengar oleh Deva
“hah.. udah.. siapa aja?”Tanya Deva antusias
“kata mama, namanya Vano” jawab Keke. Deva langsung tertunduk lemas. Tulangnya seakan dilucuti begitu mendengar itu
‘kenapa yang diinget Cuma kak Rio sih’ Deva membatin dengan kesal
“kamu kenapa nanyanya gitu sih.. kamu tau Vano ya?”Tanya Keke
“em.. e,, enggak” jawab Deva gugup & seadanya
***
“Ray..” panggil Deva saat di lapangan basket. Ray menoleh dan tersenyum miring namun tak menjawab “gue boleh minta tolong?”Tanya Deva sopan. Tak seperti ada ikatan dendam apapun di benaknya. Ray lagi-lagi tak menjawab. Masih asyik bermain dengan basketnya “tolong jauhin Keke” ucap Deva. Ray membalikkan tubuhnya. Kini ia berhadapan dengan Deva. Orang yang amat ia benci
“atas dasar apa loe nyuruh gue anak broken home” ucap Ray dengan panggilan yang sukses mengenai disetiap celah perasaan Deva
“gue emang anak broken home, tapi tolong Ray, jauhin Keke” jawab Deva menahan emosinya. Namun tiba-tiba..
Buggg
Ray meninju pipi Deva yang juga mengenai ujung bibirnya hingga ia jatuh tersungkur
“bangun loe..” ucap Ray. Dengan bersusah payah, Devapun bangun
Buggggg
Satu tunjuan tangan Ray yang memang seorang atlet karate itu membuat Deva tak kuat lagi
“banci” ucap Ray masih terus memukuli Deva yang sudah tak berdaya itu. setelah memastikan Deva sudah kalah telak. Ray pun berdiri dan membiarkan Deva yang terkulai lemas dilapangan basket hanya seorang diri. Karena memang ini sudah jam pulang
***
Keke mengamati keadaan luar rumahnya yang diguyur hujan dari jendela kamarnya yang terletak di lantai atas. Ia tak mau keluar walaupun ia suka hujan. Perasaannya nggak enak. Ia melihat Ray sedang bermain basket sendirian di halaman rumahnya.
“Ray nggak papa.. tapi kenapa..” pandangan Keke terhenti dengan sosok laki-laki berseragam sekolah dengan tas hitam yang berdiri sambil menggigil kedinginan di depan rumahnya. Keke cepat menyadari hal itu
“astaga.. Deva” teriak Keke yang langsung berlari kebawah dan mengambil payung dan segera berlari menyusul Deva
Deva sudah tak mampu lagi berdiri, benar dia memang takut hujan, ditambah lagi dengan keadaannya. Ia merasa ada atap yang menutupi kepalanya sehingga ia tak mengenai air hujan itu. Deva mendongak dan mendapati Keke sudah berdiri tepat disampingnya dengan raut cemas
“ya Tuhan… Deva, kamu kenapa?”Tanya Keke
“a..ku..ngga..paa..pa..”
Brukkk
“astaga Deva..” Keke berusaha menyangga tubuh Deva yang tiba-tiba ambruk dan dia pingsan. Keke mencari bantuan
“Ka Alviinnnn” teriak Keke pada kakak laki-lakinya
“apaan sih.. ya Tuhan, Ke.. itu siapa?”Tanya Alvin keluar rumah dengan pandangan kaget melihat Keke sedang menyangga seorang laki-laki yang pucat pasih dan wajahnya dipenuhi luka lebam
“udah deh kak, tolongin dulu” suruh Keke, Alvin pun berlari menghampiri Keke. Ia menggantikan posisi Keke dan menopang cowok itu dibahunya untuk masuk ke dalam rumahnya
***
Rio mondar-mandir sambil membawa telpon rumahnya. Sudah jam 6 sore, tapi Deva belum juga pulang. Biasanya paling lambat jam dua karna ada kegiatan osis
“Dev.. loe dimana..” Rio cemas dengan adeknya itu
***
“Kak.. bawa ke kamar Keke aja” suruh Keke. Alvin hanya mengangguk
“Ke,, ambilin handuk, baju gue, kompresan, sama minyak kayu putih atau apa gitu yang hangat” suruh Alvin. Keke pun menurut dan segera melaksanakan perintah kakaknya. Beberapa saat kemudian Keke kembali dengan tangan yang penuh
“nih kak” ucap Keke
“udah, keluar dulu sono. Cewek gak boleh lihat” ucap Alvin. Keke nyengir. Walaupun raut kecemasan tergambar jelas diwajahnya
***
“Ke, udah gue ganti’in baju. Masuk sono loe. kasih dia minyak kayu putih, sekalian kompresin. Badannya panas banget. oh iya, coba loe cari di tasnya. Siapa tau ada nomer keluarganya gitu supaya mereka gak bingung nyari dia” ucap Alvin panjang lebar
“wokeeh”
“oiya.. dia siapa loe?”Tanya Alvin dengan nada menggoda. Keke salting dibuat kakaknya
“em.. dia temen sekolah Keke, namanya Deva. Tadi Keke habis berantem kecil sama dia. Karna dia anak yang baik, mungkin dia mau minta maaf sama Keke” jelas Keke jujur. Alvin hanya tersenyum menggoda “Apa’an sih kak”
***
“halo” suara diseberang sana
“halo,, em.. ini bener kak.. Em.. Rio.. kakaknya Deva?”Tanya sang penelpon
“iya, siapa ya?”ternyata Rio yang di telpon
“em, aku temannya Deva, aku Keke. Deva, dirumahku kak, dia tadi kehujanan” ucap cewek itu yang tak lain adalah Keke. Rio tersentak kaget
“hah, Keke.. I’ iya.. rumahmu dimana, aku kesana sekarang” ucap Rio. Keke memberikan alamat rumahnya dan menutup sambungannya
***
Tinn Tinnn
“iya bentar” Alvin membuka pintu rumahnya dan..
“Vano..”
“Nathan..” panggil keduanya bareng. Alvin melongo melihat Rio teman lamanya, begitu juga dengan Rio
“loe..” mereka langsung saling menabrak dan berpelukan
“loe kok tau rumah gue Van?”
“Than, jadi ini bener rumah loe?”
“iya, ini rumah gue”
“ja.. jadi bener, Keke itu Lita?”Tanya Rio
“hah. i.. iya, loe tau darimana?”
“ya ampun Than, akhirnya gue bakalan sodaraan sama loe” ucap Rio
“maksud loe..?, eh, masuk dulu gih” Alvin dan Rio masuk
“em.. gini, adek loe tadi telpon gue, katanya adek gue disini”
“hah. Adek?, Putra itu maksud loe?”Tanya Alvin
“iya”
“eh, disini tadi gak ada cowok namanya Putra”
“lah tadi katanya adek gue kehujanan terus ada disini”
“hah?. Kehujanan?. Yang ada mah Deva namanya” jawab Alvin yang memang nggak tau
“ya Tuhan, Than, Deva itu Putra. Gimana sih loe ini”
“hah.. Putra.. Deva… kok ga mirip?”Tanya Alvin
“ya emang”
“haha, eh, adek loe kenapa sih bonyok gitu?”Tanya Alvin
“hah. Bonyok?”
“iya, tuh, masih belum sadar dikamarnya Keke”
“ngeh.. sama cewek?”Tanya Rio
“haha, ya gak mungkin ngapa-ngapain lah. Percaya deh, yang cowok aja lagi sekarat gitu”
“iya juga.. eh, anterin gue ke kamar adek loe dong. Sekalian mau lihat adek loe yang sekarang”
“yukk” Rio dan Alvin asyik bercanda
***
“Ke..” panggil Alvin di ambang pintu. Keke yang mengompres luka lebam di wajah Deva menoleh “ada Vano” ucap Alvin. Keke tersentak kaget
“hah?”
“masuk aja Van” suruh Alvin. Rio pun masuk
“Lita. Eh, Keke..” panggil Rio
“kak Vano ya?”Tanya Keke. Rio mengangguk dan tersenyum. Ia menghampiri Keke dan Deva di kasur. Pandangan Rio berganti ke arah Deva. Keadaannya bisa dibilang parah. Baru kali ini Rio melihat adeknya itu terkulai lemas dan tak berdaya dengan luka memar dan lebam di hampir seluruh wajahnya
“jadi ini Keke Than?”Tanya Rio. Alvin mengangguk dan duduk di meja belajar Keke
“ternyata udah besar ya.. cantik pula” Keke tersipu. Lalu Keke mengompres lagi luka Deva. hanya ada suasana hening dikamar Keke. Keke masih mengurus Deva. Rio mengotak atik HP Deva yang mati karena hujan. Alvin mencoret-coret nggak jelas di sketch book milik Keke.
“Argghhhh” Deva mengerang sambil membuka matanya perlahan. Semua mata langsung mengarah ke arahnya
“Dev…” panggil Rio. Keke mengamati Rio
“kak Vano kenal sama Deva?”
“em.. ini adek kandung gue” Keke mendelik
“gu.. e..di…mana?”Tanya Deva
“dirumahku Dev, kamu tadi pingsan di luar rumahku. Ya udah aku bawa kesini. Oh iya, kamu kok gak langsung masuk aja sih?”Tanya Keke
“gue takut loe marah” jawab Deva seadanya
“ya nggak lah. Em.. sorry ya, tadi aku Cuma reflek aja” ucap Keke
Falshback
“Ke.. loe bisa nggak, ngejauhin Ray?”Tanya Deva sambil menghampiri Keke dikantin sekolah
“kamu gila apa Dev. Ray itu sahabat aku” ucap Keke
“tapi Ray itu suka bikin masalah” Deva membantah
Plakkkk
Satu tamparan mendarat di pipi putih Deva
“kamu nggak usah ngomong yang aneh-aneh tentang Ray sama aku ya, bukannya kamu yang pembawa sial.. oh iya,, em.. kamu broken home juga kan” ucap Keke seolah-olah Deva pernah melakukakn kesalahan besar sampai Keke menuangkan emosinya lewat kata-kata yang selalu menyayat setiap celah hati Deva
Deva memutuskan untuk berlari dan meninggalkan Keke. Deva tau bahwa itu semua karna Ray.
Flashback end
Deva tersenyum
“em.. Ke” panggil Deva. Keke menoleh
“diluar hujan”
“terus?”
“maen yook” ajak Deva. Keke dan Rio menatap Deva tajam
“eh. Kunyuk. Loe itu lagi sakit. Apalagi gak berani hujan gitu” ucap Rio
“gue gapapa. Gue udah sehatan. Gue udah berani hujan kok” ucapnya sambil berdiri dari tempat tidur. Di ikuti Keke dan Rio. Deva langsung menyeret Keke keluar
***
“Devaaaa” teriak Keke
“Kekeeee”
“Dev, apa bener kamu adeknya kak Vano?”Tanya Keke disela-sela derasnya air hujan. Deva mengangguk
“sekarang aku ingat Dev, kamu yang ngasih liontin yang ada di tas sekolahku itu kan?”Tanya Keke. Lagi-lagi Deva mengangguk
“Ke… aku dulu pernah sama janji sama kamu bakalan jagain kamu selamanya” ucap Deva sambil meraih dan menggenggam tangan Keke “sekarang, apa kamu mau aku jagain selamanya?”Tanya Deva. Keke pipinya merah merona. Keke mengangguk
“iya, aku mau” jawab Keke sambil berteriak. Rio dan Alvin yang melihatnya dari tirai jendela kamar Keke hanya senyum-senyum lihat kedua jiwa ini
“em.. kamu,, mau jadi cewekku?”Tanya Deva. Keke sempat tesentak. Lidahnya kelu. Ia tak mampu mengucapkan apa-apa. Ia hanya mengangguk
“beneran Ke?”Tanya Deva meyakinkan. Keke mengangguk lagi. Deva langsung memeluk Keke. Keke hanya tersenyum dan memeluk Deva
“wooyy.. peje ya..” teriak Ray di lapangan seberang rumah Keke. Deva dan Keke mengacungkan jempolnya
“oyyy… itu jalan. Jangan pacaran mulu” teriak  Alvin yang duduk di kusen jendela kamar Keke. Keke dan Deva terkekeh geli
TAMAT

0 comments:

Post a Comment