Tuesday, April 15, 2014

We Say's 'Jilbab, I Love You' - Cerpen Islami

 Sepulang sekolah sudah pasti aku mandi dan belajar. Sewaktu aku belajar tak pernah sendirian. Selalu ada temannya. Nama sahabatku yang selalu nemenin aku itu, Sukma. Bagus bukan ?
itu nama pemberian mamaku loh padanya yang juga tetanggaku. Usianya lebih tua satu tahun dari pada aku. Dia juga kakak kelasku. Dia kelas delapan. Sedangkan aku kelas tujuh.
Perbedaan diantara kami tak membuat kami harus berjauhan, namun untuk saling melengkapi segala kekurangan yang kami miliki. Contohnya, kita berbeda dalam cara berpakaian. Sukma kalau berpakaian sangat sopan. Menggunakan jilbab, dengan baju muslim atau baju yang menutupi seluruh tubuhnya. Kecuali tangan dan wajah cantiknya. Berbeda denganku yang bila berpakaian tak memikirkan sampai begitu. Bahkan teman-temanku bilang aku ini orangnya sangat sederhana. Bayangkan saja, memakai bedak pun jarang. Bagaimana berdandan ? apalagi memakai jilbab yang pikirku akan menambah kegerahan saja.
Suatu hari saat bulan Ramadhan tiba, aku dan Sukma pergi ke mall. Biasanya, di mall kebanyakan orang mengenakan pakaian yang terbuka. Apalagi orang yang agamanya non muslim. Namun saat bulan Ramadhan, pakaian yang dikenakan orang-orang yaitu pakaian yang tertutup. Sukma pun berkata padaku
“Orang Cina juga menghormati orang Islam ya” katanya.
aku hanya mengangguk mengiyakan. Dalam hatiku, aku berkata
“Orang yang bukan Islam aja menghormati orang Islam. Kenapa aku yang orang Islam nggak menghormati agamaku sendiri ya?” Dan mulai saat itulah aku sadar. Bahwa aurat wanita harus tertutup.
Setelah sampai dirumah, aku langsung meminta mama untuk mengajarkanku bagaimana memakai jilbab. Mama pun mengajariku memakainya. Mulai saat itulah aku memakai jilbab. Tak aku pikirkan lagi gerahnya memakai jilbab. Ternyata, setelah dibiasakan, memakai jilbab itu enak. Kan malu juga, wanita Muslim nggak menutup auratnya. Apalagi aku sekolahnya di Madrasah.
Setelah bulan Ramadhan dan Idul Fitri lewat, aku pernah berjalan-jalan dengan teman les lamaku. Namanya Maufa. Usianya dua tahun dibawah usiaku. Saat ini dia kelas 5 SD. Wajahnya cantik. Pipinya tembem dan matanya yang terlihat sipit karena tertutup pipinya. Aku dengannya sudah berteman akrab sejak pertama kali bertemu. Bahkan sekarang pun kami masih menyempatkan waktu untuk sekedar bertemu dan jalan-jalan sebentar.
Sore itu kami berjalan-jalan disekitar perumahan Wisma Lidah Kulon Surabaya saja. Aku dan Maufa bercerita banyak tentang pengalaman sekolah kami saat ini. Wajahnya begitu antusias menceritakan bahwa disekolahnya ada teman barunya yang nakalnya sudah melampai batas. Aku pun juga begitu, aku bercerita tentang sekolahku selama di Madrasah Tsanawiyah Negeri II. Bahkan sejak pertama kali aku menginjakkan kaki disana. Hingga pada akhirnya Maufa bertanya padaku
“Mbak Jihan, sejak kapan sih pakek kerudung ? perasaan, pas kita ketemu awal puasa kemaren belum pakek deh” tanyanya sambil berusaha mengingat-ingat. Aku tersenyum ditanya begitu.
“udah lama sih Fa, aku mulai pakek pas pertengahan puasa” jawabku. Maufa pun bertanya lagi padaku
“emang pakek kerudung nggak sumpek?” tanyanya. Aku hanya tersenyum. Ya, pemikirannya sama sepertiku dulu, saat belum memakai jilbab. Memikirkan kepenatannya bila harus ada sesuatu yang ada diatas kepala.
“awalnya sih iya, tapi pas udah lama-lama enggak juga kok. Aku malah nyaman pakek kerudung” jawabku lagi
“em.. mbak, cewek yang Islam harus pakek kerudung nggak sih?” Tanya Maufa. Aku pun tersenyum lagi.
“harus dong Fa, kan wanita Islam auratnya harus tertutup. Kalau nggak gitu, dosa loh” jawabku sambil berlagak menakut-nakutinya.
“gitu ya mbak,,, aku sebenernya pengen pakek kerudung, tapi…”
“tapi apa Fa? Kan bagus pakek kerudung. Kamu tambah cantik” potongku. Maufa tertawa kecil
“tapi aku nggak pede mbak, soalnya kan disekolah teman-temanku nggak ada yang pakek kerudung” ucapnya
“pakai kerudung bukan untuk bersaing atau menyamai teman Fa. Kan kalau kamu pakai kerudung, orang berpikir, bahwa kamu bukanlah anak gadis yang sembarangan. Kamu gadis yang sopan dan mematuhi agamanya. Apalagi sikap dan kelakuanmu seperti gadis yang solihah dan ramah pada orang. Orang akan lebih berpikir bahwa kamu anak gadis yang patut dicontoh” jawabku bak motivator untuk memakai jilbab
Maufa pun berpikir sejenak.
“bener mbak?” tanyanya yang tampaknya masih ragu. Aku mengangguk mantab
“kalau gitu, mbak Jihan mau bantu aku buat ngebiasain pakai Jilbab?” tanyanya. Seketika itu wajahku sumringah. Aku langsung mengangguk penuh keyakinan
“iya Fa, mau mau, pasti aku mau kok” ucapku sambil tersenyum lebar. Maufa pun tersenyum.
Begitu lah akhirnya sampai sekarang aku masih membiasakan diri untuk memakai jilbab kemana pun. Soalnya bagiku, jilbab yang ada di kepalaku itu bukan hanya mahkota. Jilbab kini sudah menjadi pakaian kesukaanku. Kalau kata anak remaja pada kekasihnya “Sayang, I Love You” kalau buat aku dan muslimah lainnya… “Jilbab, I Love You”.


 Sekian

0 comments:

Post a Comment