Sepulang sekolah sudah pasti aku mandi dan belajar.
Sewaktu aku belajar tak pernah sendirian. Selalu ada temannya. Nama sahabatku
yang selalu nemenin aku itu, Sukma. Bagus bukan ?
itu nama pemberian mamaku loh padanya yang juga tetanggaku. Usianya lebih tua satu tahun dari pada aku. Dia juga kakak kelasku. Dia kelas delapan. Sedangkan aku kelas tujuh.
itu nama pemberian mamaku loh padanya yang juga tetanggaku. Usianya lebih tua satu tahun dari pada aku. Dia juga kakak kelasku. Dia kelas delapan. Sedangkan aku kelas tujuh.
Perbedaan
diantara kami tak membuat kami harus berjauhan, namun untuk saling melengkapi
segala kekurangan yang kami miliki. Contohnya, kita berbeda dalam cara
berpakaian. Sukma kalau berpakaian sangat sopan. Menggunakan jilbab, dengan
baju muslim atau baju yang menutupi seluruh tubuhnya. Kecuali tangan dan wajah
cantiknya. Berbeda denganku yang bila berpakaian tak memikirkan sampai begitu.
Bahkan teman-temanku bilang aku ini orangnya sangat sederhana. Bayangkan saja,
memakai bedak pun jarang. Bagaimana berdandan ? apalagi memakai jilbab yang
pikirku akan menambah kegerahan saja.
Suatu
hari saat bulan Ramadhan tiba, aku dan Sukma pergi ke mall. Biasanya, di mall
kebanyakan orang mengenakan pakaian yang terbuka. Apalagi orang yang agamanya
non muslim. Namun saat bulan Ramadhan, pakaian yang dikenakan orang-orang yaitu
pakaian yang tertutup. Sukma pun berkata padaku
“Orang
Cina juga menghormati orang Islam ya” katanya.
aku hanya mengangguk mengiyakan. Dalam hatiku, aku berkata
aku hanya mengangguk mengiyakan. Dalam hatiku, aku berkata
“Orang
yang bukan Islam aja menghormati orang Islam. Kenapa aku yang orang Islam nggak
menghormati agamaku sendiri ya?” Dan mulai saat itulah aku sadar. Bahwa aurat
wanita harus tertutup.
Setelah
sampai dirumah, aku langsung meminta mama untuk mengajarkanku bagaimana memakai
jilbab. Mama pun mengajariku memakainya. Mulai saat itulah aku memakai jilbab.
Tak aku pikirkan lagi gerahnya memakai jilbab. Ternyata, setelah dibiasakan,
memakai jilbab itu enak. Kan malu juga, wanita Muslim nggak menutup auratnya.
Apalagi aku sekolahnya di Madrasah.
Setelah
bulan Ramadhan dan Idul Fitri lewat, aku pernah berjalan-jalan dengan teman les
lamaku. Namanya Maufa. Usianya dua tahun dibawah usiaku. Saat ini dia kelas 5
SD. Wajahnya cantik. Pipinya tembem dan matanya yang terlihat sipit karena
tertutup pipinya. Aku dengannya sudah berteman akrab sejak pertama kali
bertemu. Bahkan sekarang pun kami masih menyempatkan waktu untuk sekedar
bertemu dan jalan-jalan sebentar.
Sore
itu kami berjalan-jalan disekitar perumahan Wisma Lidah Kulon Surabaya saja.
Aku dan Maufa bercerita banyak tentang pengalaman sekolah kami saat ini.
Wajahnya begitu antusias menceritakan bahwa disekolahnya ada teman barunya yang
nakalnya sudah melampai batas. Aku pun juga begitu, aku bercerita tentang
sekolahku selama di Madrasah Tsanawiyah Negeri II. Bahkan sejak pertama kali
aku menginjakkan kaki disana. Hingga pada akhirnya Maufa bertanya padaku
“Mbak
Jihan, sejak kapan sih pakek kerudung ? perasaan, pas kita ketemu awal puasa
kemaren belum pakek deh” tanyanya sambil berusaha mengingat-ingat. Aku
tersenyum ditanya begitu.
“udah
lama sih Fa, aku mulai pakek pas pertengahan puasa” jawabku. Maufa pun bertanya
lagi padaku
“emang
pakek kerudung nggak sumpek?” tanyanya. Aku hanya tersenyum. Ya, pemikirannya
sama sepertiku dulu, saat belum memakai jilbab. Memikirkan kepenatannya bila
harus ada sesuatu yang ada diatas kepala.
“awalnya
sih iya, tapi pas udah lama-lama enggak juga kok. Aku malah nyaman pakek
kerudung” jawabku lagi
“em..
mbak, cewek yang Islam harus pakek kerudung nggak sih?” Tanya Maufa. Aku pun
tersenyum lagi.
“harus
dong Fa, kan wanita Islam auratnya harus tertutup. Kalau nggak gitu, dosa loh”
jawabku sambil berlagak menakut-nakutinya.
“gitu
ya mbak,,, aku sebenernya pengen pakek kerudung, tapi…”
“tapi
apa Fa? Kan bagus pakek kerudung. Kamu tambah cantik” potongku. Maufa tertawa
kecil
“tapi
aku nggak pede mbak, soalnya kan disekolah teman-temanku nggak ada yang pakek
kerudung” ucapnya
“pakai
kerudung bukan untuk bersaing atau menyamai teman Fa. Kan kalau kamu pakai
kerudung, orang berpikir, bahwa kamu bukanlah anak gadis yang sembarangan. Kamu
gadis yang sopan dan mematuhi agamanya. Apalagi sikap dan kelakuanmu seperti
gadis yang solihah dan ramah pada orang. Orang akan lebih berpikir bahwa kamu
anak gadis yang patut dicontoh” jawabku bak motivator untuk memakai jilbab
Maufa
pun berpikir sejenak.
“bener
mbak?” tanyanya yang tampaknya masih ragu. Aku mengangguk mantab
“kalau
gitu, mbak Jihan mau bantu aku buat ngebiasain pakai Jilbab?” tanyanya.
Seketika itu wajahku sumringah. Aku langsung mengangguk penuh keyakinan
“iya
Fa, mau mau, pasti aku mau kok” ucapku sambil tersenyum lebar. Maufa pun
tersenyum.
Begitu
lah akhirnya sampai sekarang aku masih membiasakan diri untuk memakai jilbab
kemana pun. Soalnya bagiku, jilbab yang ada di kepalaku itu bukan hanya
mahkota. Jilbab kini sudah menjadi pakaian kesukaanku. Kalau kata anak remaja
pada kekasihnya “Sayang, I Love You” kalau buat aku dan muslimah lainnya…
“Jilbab, I Love You”.
Sekian



0 comments:
Post a Comment